Stasiun Lasem, Dahulu Stasiun Besar Kedua di Rembang, Kini Hanya Jadi Tempat Parkir

0
(Wikipedia)

Begitu banyak jalur atau stasiun kereta api yang terbengkalai dan kini hanya sebagai peninggalan tak berarti. Malahan mungkin sudah terlupakan dan tak lagi jelas bentuknya. Sehingga cerita masa lalu tentang stasiun atau jalur kereta api tersebut benar-benar hilang dari peradaban.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno

Untungnya Stasiun Lasem tidak menghilang begitu saja, meski nonaktif bangunan stasiun masih ada dan bisa terlihat jelas bentuknya. Berada di Rembang, Jawa Tengah, Stasiun Lasem masuk dalam Wilayah Aset IV Semarang. Stasiun Lasem dulunya terminus dari paket pembangunan lintas cabang Juwana-Rembang-Lasem.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pada masa jayanya dulu, stasiun yang dibangun pada masa Hindia Belanda oleh Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) merupakan stasiun terbesar kedua di Rembang setelah Stasiun Rembang. Pendirian Stasiun Lasem sendiri berdasarkan surat petunjuk Gubernur saat itu pada tanggal 18 Maret 1881 dan resmi dibangun tahun 1883 hingga 1900 dan dibuka secara resmi tanggal 1 Mei 1900.

(YouTube)

Luas bangunan stasiun dan overkappingnya yakni 70 m2 diatas tanah seluas 29.930 m3. Sayangnya tahun 1989 Stasiun Lasem harus ditutup karena dianggap tidak efisien, sebab banyaknya angkutan umum yang melewati jalan raya. Kini Stasiun Lasem dijadikan pangkalan truk tidak resmi dan beberapa bus besar.

Dulunya saat awal beroperasi, Stasiun Lasem hanya berfungsi sebagai stasiun pengangkut hasil bumi oleh pihak Hindia Belanda dan perusahaan kereta api SJS. Karena dulunya Lasem merupakan sentra kerajinan batik pesisiran yang terkenal, sehingga untuk mengangkut produk-produk tersebut dibutuhkan sistem transportasi terpadu yakni kereta api.

Kemudian seiringnya waktu berjalan, gerbong-gerbong penumpang hadir dan menjadi alat angkut yang bisa membawa puluhan penumpang dari Lasem menuju Semarang selama beberapa puluh tahun. Bangunan stasiun yang berada di Desa Dorokandang ini berarsitektur indish dengan sedikit sentuhan Tionghoa. Lengkungan atapnya menjadi ciri khas yang tidak ditemukan di stasiun manapun.

Pintu masuk bangunan utamanya sendiri dibuat melengkun dan di sebelah daun pintu terdapat bekas lubang loket yang terbuat dari kayu tebal. Namun kini hanya tersisa bangunan stasiun yang menyatu dengan peron dan bangunan kamar mandi yang dilengkapi dengan menara air.

Baca juga: Stasiun Mayong, Beralih Fungsi Menjadi Lobi Hotel di Magelang

Sayangnya semua kondisi sangat memprihatinkan. Tak hanya itu rel kereta apinya pun kini sudah tak lagi terlihat. Sebagian besar jalur sudah menjadi jalan kampung dengan kanan kiri dipadati pemukiman penduduk serta pemandangan sawah dan ladang. Adapula sebuah bekas jembatan kereta yang masih digunakan sebagai jalan penghubung ke desa Babagan dan Karaskepoh.

Leave a Reply