Sulit Diamankan Secara Maksimal, Bus dan Kereta Jadi Sasaran Utama Serangan Teroris

(www.post-gazette.com)

Dengan kemudahan akses, angkutan umum di Eropa dan Amerika Serikat kini menjadi momok tersendiri. Lantaran terbuka untuk segala akses publik, moda angkutan umum seperti bus dan kereta bawah tanah saat ini menjadi wahana yang paling rentan terkena serangan bom dari teroris, maklum pengamanan di stasiun, terminal dan jalur bus tak seketat yang diberlakukan di bandara.

Baca juga: Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat Keamanan

Belum lama berselang, publik dikejutkan dengan bom di terowongan kereta bawah tanah London. Sementara indisen teror bom paling mematikan terjadi pada 11 Maret 2004 di Madrid, Spanyol. Kala itu beberapa ledakan terjadi di dalam empat kereta komuter cercanías (semacam kereta api Jabotabek) di Madrid, Spanyol. Peristiwa ini terjadi dini hari 11 Maret 2004, terdapat 192 korban jiwa dan 2.050 korban luka-luka.

Setidaknya ada 387 serangan terhadap kereta api, kapal feri, dan bus di Amerika Utara dan Eropa sejak 1970. Sementara Asia Selatan menghadapi 1.287 serangan, lalu Timur Tengah dengan 801 serangan. Stasiun dan kereta adalah sasaran yang paling umum dan serangan di lingkungan tertutup seperti stasiun kereta bawah tanah adalah yang paling mematikan. Di Eropa, sekitar 75 persen korban dari serangan teroris terjadi di stasiun kereta bawah tanah, meskipun ini baru mencapai sekitar 13 persen daris erangan secara keseluruhan.

KabarPenumpang.com melansir dari post-gazette.com (18/9/2017), sebuah laporan baru-baru ini menyebutkan teroris tertarik untuk melakukan teror di angkutan umum lantaran diketahui moda ini sangat sulit untuk diamankan secara maksimal.

Beberapa bukti menunjukkan bahwa meningkatnya pengawasan dengan adanya respons yang lebih cepat secara bertahap dapat mengurangi potensi serangan di London antara tahun 1970 dan 2000. Sayangnya, tindakan tersebut tak bisa mencegah pemboman tahun 2005, dimana penyerang atau teroris tidak memiliki rasa takut, sebab mereka sendiri adalah bomnya alias bom dipasang pada tubuh teroris (bom bunuh diri).

Dengan seperti ini, bukan berarti masyarakat dan petugas tak berdaya, sebab dari 300 insiden diseluruh dunia, sebelum bom meledak, petugas menemukan waktu yang tersisa adalah 11 persen dari waktu sebelum ledakan. Tak hanya London, Beijing yang juga memiliki kereta bawah tanah tersibuk, setelah serangan teroris tahun 2014 lalu, memaksa para penumpangnya melakukan sistem pemeriksaan mirip check in di bandara.

Penumpang dan tas mereka melewati detektor logam dan penjagaan dimana-mana serta menjadi hal yang tidak biasa di Beijing. Sedangkan London mempelopori adanya infrastruktur anti teror, seperti membuat tempat sampah dengan bahan plastik transparan, dimana bila terlihat hal yang mencurigakan maka mudah untuk melakukan identifikasi.

Baca juga: Antisipasi Teror, British Transport Police Hadirkan Petugas Bersenjata Laras Panjang

Israel sebagai negara sasaran teror telah menggunakan detektor logam dan mesin sinar X di beberapa stasiun bus. Ditambah lagi bus yang beroperasi dilengkapi lapisan anti peluru serta ditambah dengan sistem pelacakan GPS plus kamera CCTV untuk memudahkan monitoring dalam kondisi darurat.

Amerika Serikat yang juga rajin menjadi incaran teroris, telah menerapkan standar keamanan tinggi di semua kota, terkhusus di area bandaranya. Seperti otoritas di New York menurunkan petugas keamanannya dan berpatroli di setiap pemberhentian bus transit.