Menggunakan kereta api tak cuma menikmati perjalanan dan keunggulan dari ketepatan waktu saja. Tapi sebagai penumpang, kita harus selalu disiplin saat naik kereta maupun saat memasuki stasiun. Salah satu disiplin yang harus dipatuhi adalah memiliki tiket. Tentunya penumpang kereta api yang selalu memiliki tiket bisa digunakan untuk tujuan yang diinginkan, seperti saat menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line.
Nah, yang selama ini kita gunakan berupa kartu elektronik yang dapat diisi ulang dimanapun selama kita berada di stasiun KRL Jabodetabek. Tarif pengisiannya pun bisa dimulai dari Rp10.000 hingga Rp1.000.000. Pengisiannya pun bisa melalui mesin otomatis maupun loket-loket stasiun yang telah tersedia. Petugas loket yang selalu stanby dan berjaga, melayani penumpang yang ingin mengisi ulang saldo yang ada di tiket elektronik tersebut.
Nah, petugas loket tersebut memang bertugas melayani penumpang dalam membantu mengisi ulang kartu elektronik atau yang biasa disebut KMT (Kartu Multi Trip). Tahukah kalian ternyata pekerjaan sebagai petugas loket tersebut tak senyaman yang kita lihat, lho. Memang mereka itu hanya tinggal duduk manis kemudian menggesek/mengetap kartu di mesin isi ulang yang tersedia setelah itu transaksi.
Menurut informasi yang dikutip laman Kompas mengatakan bahwa petugas yang bekerja delapan jam sehari tersebut selalu berjibaku ‘bermain’ tap kartu setiap harinya. Pekerjaannya juga tak cuma soal tap kartu isi ulang penumpang saja, tapi soal ketelitian, kesabaran, dan terkadang diplomasi level sedang.
Tak hanya itu, petugas loket juga tenyata selalu melakukan “ritual” sebelum melakukan tugasnya. Ritualnya adalah sebelum membuka loket, petugas selalu memastikan penampilan rapi, tubuh siap, pikiran fokus. Menghilangkan pikiran yang membuatnya jenuh itu wajib dilakukan karena kerjaannya bersentuhan langsung dengan uang dan sistem transaksi yang sensitif.
Sudah pasti jangan sampai gagal fokus. Satu kesalahan kecil saja bisa bikin penumpang ribut, antrean macet, dan operasional tersendat. Misalnya salah input, bisa bikin penumpang panik dan proses jadi berbelit. On time, sudah pasti dan harus kuat mental karena bertatap langsung dengan berbagai macam sifat manusia.
Walaupun risiko keselamatan utama ada di peron dan dipegang oleh satpam atau passenger service, petugas loket tetap siap membantu kalau ada penumpang yang kebingungan atau butuh pertolongan. Bisa diketahui bahwa di stasiun, semua unsur operasional bekerja kayak satu tim. Mereka menghadapi tekanan antrean, memproses transaksi sensitif, mengelola sistem, menghadapi penumpang baru hingga penumpang yang lagi bad mood, dan tetap harus senyum.
Intinya kita sebagai penumpang juga harus menjaga kepribadian yang baik saat mengantre untuk mengisi ulang kartu di loket. Sabar dan ikuti alur keadaan agar semua jadi lancar. Usahakan untuk memberikan senyum kembali. Ingat, mereka bukan robot, mereka manusia yang setiap hari membantu kita sampai ke tujuan.
Buang Stigma Jorok, Cina Lakukan Revolusi Toilet di Kereta Api
