Terkendala Utang, Mahathir Tinjau Berbagai Proyek Kereta di Malaysia

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad

Malaysia kini tengah menghadapi dilema ekonomi, pasalnya utang luar negeri yang membengkak. Utang tersebut meningkat sebesar US$50 miliar setara dengan Rp700 triliun dan banyak proyek infrastruktur besar yang kini dikaji ulang pembangunannya. Saat ini utang pemerintah Malaysia mencapai lebih dari satu triliun ringgit atau sekitar US$251,32 miliar. Uang tersebut setara Rp3,514 triliun atau 80 persen dari Produk Domestik Bruto Malaysia.

Baca juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail

Karena adanya utang negara, masyarakat Malaysia kini dihimbau melakukan penggalangan dana untuk membantu membayar utang negara. Penggalangan dana ini diprakarsai seorang warga bernama Nik Shazarina Bakti yang mengingatkan tentang perjuangan nenek moyangnya dimana memberikan harta benda dan kemerdekaan untuk menjadi seperti saat ini.

Dia mengatakan, sumbangan tersebut akan disalurkan kepada Pemerintah Malaysia dan dirinya memberikan jaminan serta laporan dengan meperbaharui sumbangan yang diterima dan disalurkan. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, sebelumnya Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengumumkan akan memotong gaji menterinya di kabinet sebesar sepuluh persen.

Hal ini dilakukannya sebagai bukti kepedulian kepada negara Malaysia. Demi mengatasi pembengakakan utang Malaysia, Mahathir kemudian melakukan negosiasi ulang terhadap sejumlah proyek kereta api yang sudah disepakati Perdana Menteri Malaysia sebelumnya yang bermitra dengan Pemerintah Cina.

Negosiasi tersebut adalah proyek kereta Link East Coast Rail senilai 55 miliar Ringgit atau setara US$13,82 miliar. Proyek tersebut adalah kesepakatan dengan Cina terkait Belt and Road inisiatif yang dimulai 2017 kemarin.

Proyek kereta api ini direncanakan membentang sepanjang 668 km yang menghubungkan perbatasan timur Laut Cina Selatan sampai ke malaka di barat yang merupakan jalur pelayaran strategis dunia.

“Kami sedang menegosiasikan kembali persyaratannya, karena ini akan sangat merusak,” kata Mahathir.

Proyek yang saat ini sedang dibangun tersebut dikerjakan oleh China Communications Construction Co Ltd, dan sebagian besar dibiayai oleh pinjaman dari China Exim Bank. Mahathir mengaku, pengkajian proyek tersebut perlu dlakukan karena ini dianggap belum perlu bagi Malaysia.

Selain proyek tersebut, Mahathir juga mengakui akan kembali mengkaji sejumlah proyek kereta kecepatan tinggi yang sudah disepakati dengan Singapura. Proyek yang membutuhkan dana sekitar US$17 miliar itu saat ini masih menunggu tender dan dijadwalkan selesai pada 2026.

Proyek kereta kecepatan tinggi yang sangat prestisius tersebut rencananya akan membentang dari ibu kota Kuala Lumpur hingga Singapura.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

“Untuk perjanjian Kereta Kecepatan Tinggi kami putuskan untuk membatalkan proyek karena akan menghabiskan uang,” kata Mahathir. Dengan pembatalan sejumlah proyek tersebut Malaysia perkirakan akan menghemat beban utang sebesar US$50,26 miliar.