Terowongan Notog “Baru,” Siap Tembus Jalur Kereta Purwokerto-Kroya dengan Rel Ganda

Terowongan Notog. Sumber: panoramio.com

Merujuk ke sejarahnya, terowongan kereta ini dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staats Spoorwegen (SS) direntang tahun 1914 hingga 1915, terowongan Notog terletak di Kabupaten Banyumas, Kecamatan Patikraja, Jawa Tengah ini merupakan salah satu terowongan lengkung yang ada di Indonesia. Walaupun ‘hanya’ memiliki panjang 260 meter, kita tidak dapat melihat ujung terowongan dikarenakan bentuk terowongan yang berbelok di dalam bukit.

Baca Juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

Tercatat, ada 19 terowongan kereta api yang tersebar di Jawa dan Sumatera, dua diantaranya dibangun pasca kemerdekaan Indonesia, yaitu Terowongan Eka Bakti Karya dengan panjang 850 meter dan Terowongan Dwi Bakti Karya dengan panjang 400 meter, keduanya dibangun pada tahun 1969 pada jalur kereta Malang-Blitar, Jawa Timur.

Ternyata, sejarah kembali terukir mana kala tiga buah terowongan kini tengah di bangun di Banyumas. Walaupun bukanlah terowongan pertama yang dibangun pasca kemerdekaan, namun salah satu dari terowongan ini akan memiliki double track atau jalur rel ganda. Adalah terowongan Notog baru yang hingga kini masih dalam pengeboran, sedangkan dua terowongan lainnya di bangun di daerah Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Ketiga terowongan di wilayah Banyumas ini menghungkan jalur rel Purwokerto-Kroya.

Merah: Terowongan Notog baru, Biru: Terowongan Notog lama. Sumber: istimewa

Berbeda dengan pembangunan yang pertama di era kolonial, terowongan Notog baru ini sudah menggunakan alat modern guna mempercepat waktu pembangunannya. “Kami berharap pada bulan Desember 2017 atau Januari 2018 sudah bisa tembus sehingga dapat segera dilakukan pengecoran beton,” tutur Apri Setiawan, General Manager Infrastruktur PT PP (Persero) yang dipercaya untuk mengembangkan proyek tersebut.

Selain itu, perkembangan jaman dan pola kerja yang berbeda dengan jaman Belanda membuat para pekerja terowongan ini seolah menangkis mentah-mentah soal rumor mengenai banyaknya korban jiwa yang berjatuhan ketika membangun terowongan Notog yang lama. Maka tidak heran jika ditemukan beberapa makam di atas terowongan Notog. Disinyalir, makam-makam tersebut merupakan tempat peristirahatan para pekerja yang tewas tersebut.

Pembangunan Terowongan Notog baru. Sumber: radarbanyumas.co.id

Apri mengaku, dalam pembangunan terowongan yang memiliki panjang 550 meter dengan diameter 9,3 meter yang sengaja dibangun agar bisa menampung dua rel ini, menghabiskan dana kurang lebih sekitar Rp 155,89 miliar. Didukung dengan 40 tenaga kerja yang terdiri dari delapan orang warga lokal sebagai helper, dan sisanya merupakan tenaga ahli, Apri berharap pembangunan terowongan ini rampung sepenuhnya pada Desember 2018. Pada awalnya, pembangunan terowongan ini ditargetkan selesai pada tahun 2017, namun terpaksa dijadwal ulang karena keterbatasan anggaran sehingga ditargetkan selesai pada akhir tahun 2018.

Baca Juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman pressreader.com (28/4/2017), bentuk dari terowongan Notog baru ini pun akan sama seperti pendahulunya, yaitu melengkung, dikarenakan mengikuti kontur bukit. Terowongan lama pun lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi pengeboran terowongan baru. “Jarak antara terowongan lama dan terowongan baru sekitar 300 meter, dan aman untuk konstruksi,” terang Apri. Untuk masalah ketahanan, Apri mengatakan terowongan ini mampu beroperasi hingga 100 tahun setelah pembangunan rampung.

Pembangunan terowongan dengan double track ini ditujukan untuk mendukung proyek jalur ganda yang akan membentang dari Purwokerto hingga Kroya. Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, Ixfan Hendriwintoko mengatakan jika proyek pembangunan jalur ganda selesai, tidak menutup kemungkinan ada penambahan rangkaian kereta api. “Dengan adanya jalur rel ganda, memungkinkan ada penambahan jumlah KA yang melintas.” Ujarnya dilansir dari sumber terpisah.