Tiga Negara Ini Tolak Penerbangan Supersonik Concorde, Dua dari Asia

0
Concorde Last-Ever Flight. Sumber: International Flight Network

Di masanya, pesawat supersonik Concorde bak bintang di tengah gelapnya malam. Sangat familiar. Meski tiket per penerbangan transatlantik-nya cukup mahal, mencapai US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552), faktanya, rata-rata okupansi atau load factornya cukup tinggi mencapai 92 hingga 128 penumpang per penerbangan.

Baca juga: Sederet Masalah Ini Jadi Biang Kerok Era Pesawat Supersonik Concorde Berakhir

Namun, di balik itu, ternyata pesawat supersonik Concorde sempat kesulitan beroperasi secara komersial lantaran terjadi penolakan oleh beberapa negara terkait ledakan sonik (sonic boom). Beruntung, gelombang penolakan itu tidak meluas.

Setidaknya, hanya ada tiga negara yang secara tegas menolak. Dua di antaranya dari Asia. Siapakah itu? Dilansir Simple Flying, berikut tiga negara yang menolak dilintasi Concorde.

1. Amerika Serikat (AS)

Usai penerbangan perdana pesawat supersonik Concorde pada 2 Maret 1969, banyak negara percaya bahwa pesawat tersebut hanya cocok terbang di atas perairan, bukan daratan; salah satunya AS. Alasannya sama seperti kebanyakan negara lain, ledakan sonik  yang sangat mengganggu warga.

Itu sebab, saat penerbangan perdana Concorde secara komersial, dari London dan Paris ke New York dan Washington pada 11 Maret 1976, Otoritas Pelabuhan New York dan New Jersey melarang Concorde mendarat di Bandara JFK. Sebelum itu, akses ke bandara tersebut bahkan nyaris lumpuh lantaran ditutup sekitar 2.000 mobil warga yang kesal dengan rencana pendaratan Concorde di JFK.

Tentu saja British Airways dan Air France selaku operator menggugat tindakan tersebut. Pada bulan Agustus 1977, seorang Hakim Pengadilan Distrik di New York menyebut larangan itu “diskriminatif dan tidak adil” dan mengizinkan pendaratan uji coba Concorde dalam 10 hari berikutnya.

Putusan tersebut kemudian diperkuat oleh putusan Mahkamah Agung pada bulan Oktober 1977. Disebutkan, Otoritas Pelabuhan New York dan New Jersey tak berhak melarang hal itu lantaran dalil tentang kebisingan tak jelas.

2. Malaysia

Sebelum AS mencabut larangan terbang Concorde, Air France dan British Airways putar otak mencari rute lain sampai akhirnya memutuskan terbang ke Sydney dan otoritas setempat pun mengizinkannya. Mengingat jarak tempuhnya yang cukup jauh, Concorde harus transit untuk mengisi bahan bakar. Singapura pun diputuskan jadi tempat transit.

Rute London-Singapura juga pada akhirnya berdiri sendiri alias tidak hanya sebagai tempat transit ke Sydney.

Hanya saja, ini mendapat penolakan keras dari Negeri Jiran Malaysia. Alhasil, usai tiga penerbangan berlangsung, rute London-Singapura akhirnya ditutup.

Baca juga: 50 Tahun Singapore Airlines Rute Singapura-London, Pernah Operasikan Concorde!

3. India

Saat rute London dan Paris ke Sydney digagas, pesawat supersonik Concorde British Airways dan Air France awalnya berencana melintasi langit India. Tetapi, negara tersebut menolak juga dengan alasan polusi suara akibat ledakan sonik.

Meski begitu, banyak yang menilai bahwa India hanya mencari-cari alasan saja. Persoalan utamanya yakni India tidak mendapat slot di Bandara London Heathrow sehingga negara tersebut membalasnya dengan cara itu.