Trem Listrik, Mantan Primadona Transportasi Arek Suroboyo

Trem Surabaya. Sumber: IndonesiaSatu.co

Semisal selama ini pemberitaan di media selalu dihiasi dengan perkembangan moda transportasi modern, maka kali ini kami akan membahas tentang sejarah salah satu moda yang sudah punah di Indonesia – namun tengah digalang untuk diaktifkan kembali. Ya, moda tersebut adalah trem. Munculnya para pesaing yang lebih efisien dalam segala hal membuat keberadaan trem makin hari kian tersingkir.

Baca Juga: Trem Kuda Riwayatmu “Doeloe”

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, salah satu trem tertua di Indonesia ada di Surabaya – yang mulai beroperasi pada paruh kedua abad-19. Kala itu, kolonial Belanda yang berkuasa ingin memodernisasi transportasi yang ada di Kota Pahlawan, dengan tujuan untuk kepentingan ekonomi.

Berbekal izin pada tahun 1886, akhirnya Ooster Java Stoomtram Maatschappij (OJS) menjadi perusahaan pengelolanya. Adapun trayek awal dari trem ini meliputi tiga jalur: Ujung – Sepanjang, Mojokerto – Ngoro , dan Gemekan – Dinoyo. Tepatnya, trem ini mulai beroperasi pada tahun 1889 dengan interval waktu keberangkatan 30 menit sekali.

Perkembangan pun mulai menggeliat seiring dengan pertumbuhan jumlah populasi Kota Surabaya – terutama penambahan jalur di dalam kota. Tercatat antara tahun 1913 hingga tahun 1916, jalur sisi barat ke pusat kota dibuka. Beberapa persimpangan jalur lalu dibuat untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah, seperti dari Wonokromo dan Boulevard Darmo ke Willemspein (kini Jembatan Merah).

Tidak berhenti sampai di situ. Trem Surabaya kembali ‘dimodifikasi’ oleh OJS dengan cara mengubah jenisnya menjadi trem listrik. Pengerjaan ini dimulai pada tahun 1911 dan rampung pada 1924. Perubahan menjadi trem listrik dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan – tak ayal seperti banyaknya moda listrik yang berkembang pesat belakangan ini.

Kedigdayaan trem listrik ini mulai mencapai puncak pada tahun ketiga pengoperasiannya. Tercatat, sebanyak 11,4 juta kolaborasi Arek Suroboyo dan Kolonial Belanda telah menggunakan trem listrik pada tahun 1927 – sedangkan pengguna trem uap hanya 5,2 juta penumpang saja.

Namun masa kejayaan trem listrik harus segera diakhiri manakala kemunculan mobil yang tidak lama berselang setelah moda yang sangat mirip seperti kereta ini mencapai puncak kejayaan. Merosotnya popularitas trem makin terasa ketika Jepang mulai menduduki Surabaya. Mereka sempat berhenti beroperasi akibat pemboman Sekutu terhadap instalasi listrik di dekat Malang yang merupakan pemasok listrik untuk Surabaya.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Pasca kemerdekaan, trem diambil alih kepemilikannya oleh Djawatan Kereta Api (DKA). Alih-alih meraup keuntungan, trem ini malah semakin merugi akibat banyaknya penumpang yang tidak membayar.

Ditambah, buruknya manajamen DKA membuat keberadaan trem akhirnya “hidup segan mati tak mau”. Persaingan ketat dengan moda transportasi lain yang lebih modern, akhirnya membuat trem di Surabaya mati pada 1970-an.