Tuesday, June 2, 2026
HomeAnalisa AngkutanTren Pengguna Commuter Line Bandung Raya Semakin Meningkat, Stasiun Bandung Jadi yang...

Tren Pengguna Commuter Line Bandung Raya Semakin Meningkat, Stasiun Bandung Jadi yang Tersibuk

Pengguna kereta api lokal seperti Commuter Line sudah semakin terlihat kepadatannya saat jam-jam sibuk. Ya, kepadatan terasa di beberapa stasiun yang terjangkau pada pusat perkantoran juga terlihat di waktu jam beraktivitas telah selesai. Di beberapa stasiun di Jakarta hal tersebut terlihat pada pagi dan sore bahkan hingga malam hari. Nah, hal tersebut juga setara dengan kepadatan yang terlihat di wilayah lain yaitu Bandung dan sekitarnya.

Minat masyarakat juga terhadap pengguna Commuter Line Bandung Raya juga terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini. Selain menawarkan tarif terjangkau, kereta komuter juga menjadi alternatif bagi warga untuk menghindari kemacetan yang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Bandung Raya.

Berdasarkan data KAI Commuter Line, jumlah pengguna di Area 2 Bandung terus bertumbuh. Pada 2023, total pengguna mencapai 14,7 juta. Angka tersebut meningkat menjadi 16,1 juta pengguna pada 2024 atau naik 9,7 persen. Tren kenaikan ini terus berlanjut pada tahun selanjutnya, tahun 2025 total pengguna sebanyak 18,7 juta atau tumbuh 15,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, mengatakan peningkatan jumlah penumpang ini menunjukkan transportasi berbasis rel semakin menjadi pilihan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari. Harga yang terjangkau dan terhindar dari kemacetan tentunya merupakan alasan utama masyarakat menggunakan layanan Commuter Line. Selain itu, kepastian waktu tempuh perjalanan juga menjadi alasan dalam memilih layanan Commuter Line.

KAI Commuter menyebut bahwa hingga kini Stasiun Bandung yang menjadi titik dengan aktivitas penumpang tertinggi sepanjang 2026. Rata-rata terdapat 7.700 penumpang naik dan 10.700 penumpang turun setiap hari di stasiun tersebut. Tingginya mobilitas di Stasiun Bandung ini tak lepas dari posisinya sebagai pusat aktivitas masyarakat sekaligus simpul integrasi berbagai moda transportasi.

Selain itu Stasiun Bandung memang tak hanya melayani kereta komuter, tetapi juga terhubung dengan layanan kereta api jarak jauh hingga feeder Kereta Cepat Whoosh. Banyaknya penumpang beragam berada di Stasiun Bandung juga menjadi tujuan aktivitas sehari-hari dan menjadi stasiun integrasi dengan KA Jarak Jauh (KAJJ) dan KA Feeder Kereta Cepat.

Setelah Stasiun Bandung, stasiun dengan volume pengguna tertinggi selanjutnya adalah Stasiun Cicalengka dengan rata-rata 4.800 penumpang naik dan 7.700 penumpang turun per harinya. Kemudian, ada Stasiun Padalarang dengan 3.200 penumpang naik dan 6.000 penumpang turun. Adapun Stasiun Padalarang juga mengintegrasikan penumpang komuter dengan Kereta Cepat Whoosh.

Pengguna tertinggi selanjutnya di Stasiun Rancaekek dengan 3.900 penumpang naik dan 4.500 penumpang turun serta Stasiun Kiaracondong dengan 3.900 penumpang naik dan 4.000 penumpang turun setiap harinya. Tingginya pergerakan penumpang pergerakkan di beberapa stasiun tersebut menunjukkan peran penting kereta komuter dalam menopang mobilitas warga di kawasan yang selama ini identik dengan kepadatan lalu lintas.

Untuk mengantisipasi kepadatan, terutama saat jam sibuk di mana volume penumpang tinggi, KAI Commuter juga menyiagakan petugas layanan dan keamanan di area stasiun. Fasilitas penunjang pun terus ditingkatkan, mulai dari ruang tunggu hingga fasilitas di dalam kereta.

Tentu ke depannya, KAI Commuter bersama KAI akan terus berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dan pemerintah untuk mendukung rencana pengembangan perkeretaapian di wilayah Jawa Barat, mengingat tren pertumbuhan penumpang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru