Tunjukkan Hasil Screen Capture e-Ticket, Penumpang Kereta di Inggris Justru Kena Perkara!

0
ilustrasi e-ticket. Sumber: theguardian

Tentu Anda semua masih ingat dengan upaya yang dilakukan oleh Qantas dan Singapore Airlines dalam mewujudkan penerbangan yang lebih ramah lingkungan – salah satunya adalah mengurangi penggunaan boarding pass cetak. Nah, ternyata tidak hanya di moda udara saja yang telah menerapkan regulasi semaca itu, pun dengan kereta api yang sudah mulai bergerak menggunakan tiket elektronik (e-ticket). Ketika ada banyak keuntungan yang dapat dioptimalkan dari penggunaan e-ticket ini, apa jadinya jika dalam penerapan penggunaan tiket berbasis smartphone ini, malah penumpanglah yang pada akhirnya menjadi pihak yang dirugikan?

Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Ya, sebagaimana yang sudah kita ketahui dan aplikasikan bersama, e-ticket yang sudah Anda beli akan dikirim oleh pihak terkait melalui e-mail atau aplikasi. Terlepas dari bentuknya yang masih berupa e-mail dari pihak terkait atau sudah dalam bentuk gambar hasil screen capture, biasanya hal ini tidaklah menjadi masalah. Namun pada kenyataannya, seorang penumpang kereta di Inggris yang bernama Par Hendricks mengklaim bahwa ia diancam akan dituntut ke pengadilan karena dirinya menunjukkan barcode yang ada di e-ticket dalam bentuk screen capture untuk naik ke dalam layanan kereta yang sudah ia pesan sebelumnya.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (29/6/2019), kejadian yang dialami Pat ini sendiri terjadi pada bulan April 2019 silam, dimana ia hendak bertolak menuju Manchester dari Bristol Temple Meads Station, Bristol. Di awal kedatangannya, petugas stasiun masih mengijinkan Pat untuk masuk ke area peron. Namun Pat menemukan bahwa kereta yang sudah dipesannya itu telah dibatalkan oleh pihak operator karena satu dan lain hal.

Singkat cerita, Pat lalu mengurus ulang jadwal perjalanannya tersebut dan di saat itulah pihak stasiun menganggap bahwa e-ticket milik Pat tidak sah.

“Saya sampai harus menunjukkan email pemesanan tiket, namun karena satu dan lain hal, saya tidak bisa menemukan tiket tersebut,” tutur Pat.

Selain itu, Pat jgua mengkau bahwa dirinya diperlakukan bak seorang penjahat, alih-alih sebagai seorang penumpang. Mengingat bahwa perjalanan menuju Manchester tersebut terbilang cukup penting bagi Pat, akhirnya ia terpaksa membeli kembali tiket perjalanan tersebut seharga £161,3 atau yang setara dengan Rp2,9 juta.

Menanggapi kejadian ini, Anthony Smith yang bekerja untuk Transport Focus – lembaga yang melakukan pengawasan terhadap transportasi publik di Inggris mengatakan bahwa kasus ini benar-benar memalukan, “terlebih ketika penumpang diperlakukan layaknya seorang penjahat,”

Baca Juga: Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal

Sebenarnya, penggunaan e-ticket semacam ini dapat digunakan oleh penumpang, apapun caranya – mulai dari menunjukkannya dalam bentuk e-ticket yang baru dikirim oleh pihak terkait, hingga dalam bentuk screen capture. Pihak CrossCountry selaku perusahaan kereta api mengatakan akan memberikan pelatihan lebih mendalam kepada petugas di lapangan untuk mengatasi masalah seperti ini agar tidak kembali terulang di masa yang akan datang.

Pihak operator juga mengatakan bahwa mereka sudah mengembalikan uang sejumlah Rp2,9 juta yang dikeluarkan Pat untuk membeli tiket barunya tersebut.

Leave a Reply