University of Hong Kong Patenkan Teknologi Pembeda Ketinggian Pada Sistem GPS

Sumber: newatlas.com

Pernahkah Anda berkendara di sebuah jalan layang dimana jalan utamanya terletak persis di bawahnya? Jika di Jakarta, Anda bisa menemukan jalanan seperti ini di Jalan Layang Non-Tol (JLNT) yang menghubungkan Kampung Melayu dan Tanah Abang, dan beberapa jalur lainnya. Nah, jalan-jalan seperti ini akan nampak membingungkan jika Anda melihatnya dari Global Positioning System (GPS).

Baca Juga: Penggunaan GPS Diperdebatkan, Inilah Tips Aman Menggunakannya!

Bagi Anda yang pernah menggunakan GPS dan melewati jalan layang seperti yang sudah dijabarkan di atas, maka kemungkinan besar Anda pernah merasa kebingungan, “Apakah jalan yang ditunjukkan oleh GPS ini berada di lajur atas atau bawah?” Beruntung jika Anda berada di lajur yang benar, lalu bagaimana jadinya jika Anda berada di lajur yang salah? Tentu Anda harusmulai memikirkan jalan lain untuk sampai ke tujuan.

Nah, untungnya, sistem navigasi baru yang dirancang oleh Hong Kong University mampu mencegah pengemudi menempuh jalur yang salah. Diwartakan KabarPenumpang dari laman newatlas.com (9/5/2018), inovasi ini dikenal dengan nama Angle Difference Method yang dikembangkan oleh Prof. Anthony Yeh Gar-On.

Cara kerja inovasi ini pun bisa dibilang tidak terlalu rumit. Anda cukup menghubungkan gadget Anda (yang memiliki aplikasi navigasi) ke perangkat diagnostik internal onboard via Bluetooth. Tata letak penyimpanan gadget pun tidak akan mempengaruhi kalibrasi yang akan dilakukan oleh perangkat inovatif ini, karena Angle Difference Method akan membaca permukaan tempat mobil parkir, dan mengkompensasikannya.

Ketika mobil memasuki jalan di atas jalan layang, sistem secara otomatis mendeteksi perubahan kemiringan yang terjadi kendaraan. Hasilnya akan dikirim ke perangkat diagnostik dan diterjemahkan menjadi sebuah informasi yang menandai jalan mana yang ditempuh via gadget Anda.

Baca Juga: Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak

Jika pengemudi salah memilih jalan, maka aplikasi ini akna secara langsung memberi peringatan. “Penemuan ini sangat inovatif, sederhana, dan murah untuk menangani masalah yang sudah lama ada di sistem navigasi, dan belum ada yang memikirkan solusinya,” tutur Prof. Anthony. “Selanjutnya tim akan kembali mengembangkan sistem ini untuk mobil otomatis,” tandasnya.

Guna mengamankan penemuannya dari tindakan pembajakan, pihak universitas telah mematenkan temuan tersebut dan kini diketahui tengah mencari mitra yang tertarik untuk mengkomersilkannya.