Untuk Efisiensi dan Efektivitas Operasional, AirAsia Akhiri Sewa Menyewa Pesawat

AirAsia

PT AirAsia Indonesia baru-baru ini merencanakan untuk mengakhiri termination wet lease agreement atau sewa menyewa pesawat yang dilakukan oleh dua anak perusahaannya. Kedua anak perusahaannya itu adalah PT Indonesia AirAsia dan PT Indonesia AirAsia Extra. Adanya rencana ini berdasarakan dari keterbukaan PT AirAsia Indonesia di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca juga: Dukung Program 20 Juta Wisman, AirAsia Indonesia Lirik Pasar Cina, Jepang dan Korea Selatan

KabarPenumpang.com melansir dari laman cnbc.com (3/10/2018), rencana pengakhiran sewa menyewa tersebut awalnya akan dimulai dari mengakhiri sewa tiga pesawat dengan tipe A320-200 dari Indoneisa AirAsia kepada Indonesia AirAsia Extra yang merupakan pihak berafiliasi. Kemudian Indonesia AirAsia sendiri akan melakukan wet lease program atau sewa menyewa pesawat sebanyak lima armada bertipe A320-200 yang dimiliki Indonesia AirAsia Extra.

Adapun nilai transaksi sewa menyewa ini antara Rp385 miliar hingga Rp425 miliar per tahunnya. Transaksi ini sendiri dilakukan PT AirAsia Indonesia untuk menyamakan seluruh operasi perbangan Airbus A320 karena memiliki nomor penerbangan atau flight number yang sama yakni QZ.

Tak hanya itu, dengan satu flight number, PT AirAsia Indonesia menargetkan terjadinya efisiensi dan efektivitas dari utilitas pesawat udara miliknya. Sehingga aksi ini juga akan menghilangkan limitasi dari sisi operasional dalam rotasi kru penerbangan dan kru kabin.

Baca juga: Salah Input Koordinat Runway, Pilot AirAsia Nyaris Celakakan Ratusan Penumpang

Dari hal ini nantinya akan ada dampak yang dialami diantaranya adalah kenaikan pendapatan perusahaan, karena bertambahnya kegiatan operasi penerbangan terjadwal. Selain itu pula ditambah dengan kenaikan pegeluaran perusahaan akibat bertambahnya kegiatan operasi penerbangan berjadwal dan operasi penerbangan langsung.

Untuk tambahan informasi, pada semester satu tahun 2018, perseroan mencatat beban bahan bakar yang meningkat yakni sebanyak 19,92 persen dari tahun ke tahunnya sehingga menjadi RP746,62 miliar. Kenaikan beban avtur ini juga berakibat dengan kerugian yang masih dialami perusahaan senilai Rp426,03 miliar pada semester pertama tahun 2018 ini.