[Video] Taksi Drone 282 Karya Anak Bangsa Berhasil Terbang Sebelum Dipamerkan di Jerman

0
Drone taksi Frog asal Yogyakarta (uzone)

Masih ingat taksi drone 282 karya anak bangsa? Belum lama ini rupanya telah berhasil terbang, loh. Taksi terbang yang rencananya akan dipamerkan di Hannover Messe pada 20-24 April 2020 mendatang, tersebut berhasil terbang sekalipun dengan durasi yang belum terlalu lama, tak seperti taksi terbang lainnya yang sudah lebih dahulu mapan secara teknologi.

Baca juga: Mau Diboyong Ke Jerman, Inilah “Frogs” Drone Taksi Asli Kota Gudeg

Seperti video yang dilihat KabarPenumpang.com, taksi terbang drone yang lahir buah hasil riset selama dua tahun dan menghabiskan dana sebesar Rp1 miliar tersebut awalnya sempat terangkat beberapa cm. Setelah sekian detik tertahan, taksi terbang tersebut kemudian terbang lebih tinggi lagi hingga kemudian mendarat sekalipun belum terlalu mulus.

Meskipun demikian, keberhasilan mesin mengangkat drone yang mampu mengangkut maksimal beban 200 kilogram tersebut rupanya sudah membuat sang kreator puas. Pasalnya, ada beberapa parameter penting sebelum delapan motor atau propellernya berhasil mengangkat wahana taksi terbang, seperti misalnya udara dingin dan lembab yang membuat massa jenis udaranya menjadi agak berat.

Sebagaimana taksi terbang lainnya di berbagai penjuru dunia, Frogs juga didesain lebih untuk memenuhi kebutuhan transportasi di Indonesia, khususnya Jakarta yang sudah sangat macet dan membutuhkan alternatif transportasi lain. Selain membidik pangsa pasar jasa taksi udara, drone ini juga bisa dimanfaatkan untuk memuat kargo, kebutuhan militer, serta kepentingan darurat maupun pertolongan pertama di daerah bencana yang sulit diakses.

Diketahui, Frogs, pionir drone berawak di Indonesia, memimpin barisan produk teknologi yang akan mewakili Indonesia di pameran tersebut tahun ini. Drone taksi ini mampu mengangkut dua penumpang dengan delapan buah baling-baling dan terbang sejauh 100 km hanya dengan satu kali pengisian daya listrik. Drone ini lahir di sebuah bengkel di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan dalam ekosistem UMG Idealab.

Dibanding produk lainnya, taksi terbang karya anak bangsa tersebut memang belum terlalu mencolok, baik secara desain, dimensi, maupun kemampuan. Sebagai perbandingan, dengan taksi terbang buatan Cina, Ehang 184, misalnya, secara daya angkut, Frogs memang masih tertinggal sedikit. Bila Ehang 184 mampu mengangkut 230 kilogram, Frogs hanya sedikit di bawahnya 200 kilogram.

Baca juga: Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun

Akan tetapi, bila berbicara soal daya jelajah, Frogs buatan asli Indonesia tersebut mampu terbang lebih jauh dibanding batan Cina. Ehang 184 yang juga menggunakan listrik sebagai sumber tenaga bisa membawa penumpang hingga sejauh 10 mil atau 16 kilometer atau sekitar 23 menit penerbangan dengan kecepatan standar. Sedangkan Frogs sanggup melesat sejauh 100 km.

Hanya saja, bila dibandingkan dengan produk serupa lainnya, khususnya dari pabrikan besar, Frogs memang tertinggal cukup jauh. Dengan Joby Aviation, misalnya, Frogs hampir tertinggal di semua lini. Dengan hanya enam baling-baling listrik, taksi terbang Toyota tersebut justru mampu terbang lebih jauh, mencapai 150 mil (241 km) dengan sekali pengisian daya serta kecepatan hingga 200 mph ata 322 kilometer per jam. Namun, perbedaan mencolok tersebut tentu sangat wajar, mengingat Toyota menggelontorkan investasi senilai Rp5,3 triliun sedang kan Frogs hanya sekitar Rp1 miliar.

Leave a Reply