“Zero Mistake dan Tahan Tekanan,” Jadi Keharusan Bagi Petugas Menara ATC

Ilustrasi Petugas Menara ATC. Sumber: The Local Spain

Untuk mengatur lalu lintas penerbangan, kebanyakan bandara dilengkapi fasilitas menara ATC, suatu struktur bangunan yang menjulang tinggi dan begitu mudah dilihat. Mengatur lalu lintas penerbangan, itu artinya keselamatan nyawa banyak orang digantungkan oleh petugas ATC. Sudah barang tentu ATC bukan tempatnya orang-orang yang punya jiwa lemah, pasalnya tuntutan zero mistake selalu dikedepankan oleh para “pegawai tinggi” ini.

Baca Juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller

Sebagaimana yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, sistem menara ATC terbagi ke dalam tiga bagian: Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah ).

Bagi bandara kecil yang lalu lintas udaranya tidak terlalu padat, tentu menjadi seorang petugas ATC akan terasa sangat membosankan – berbanding terbalik dengan bandara yang memiliki tingkat lalu lintas udara yang padat, pekerjaan ini akan terasa sangat melelahkan. Lagi, satu poin yang membuat pekerjaan ini terasa semakin berat adalah prinsip zero mistake – dimana salah informasi sedikit saja, maka kekacauan hingga kecelakaan pesawat bisa saja menanti dalam jangka waktu beberapa menit ke depan.

“Sebenarnya yang diperlukan di ATC bukanlah orang-orang brilian, tetapi orang yang mampu menghadapi stress condition yang disebabkan oleh rutinitas pekerjaan dalam mengatur gerak pesawat. Tidak bisa dipungkiri, ini merupakan pekerjaan dengan risiko yang sangat tinggi,” ujar petugas menara ATC di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Gatot Sugiarto, dikutip KabarPenumpang.com dari majalah Angkasa bulan Januari 1991.

“Mengingat sifat dari pekerjaannya yang memerlukan ketekunan dan ketelitian tingkat tinggi, maka petugas ATC tidak boleh membawa konflik ke dalam ruang kerja. Harus diselesaikan dulu, baru bisa lanjut bekerja,” ujar rekan Gatot, Bagyo Mardianto.

Ya, dikhawatirkan jika seorang petugas ATC membawa masalah ke dalam ruang kerja, maka itu akan mengganggu fokusnya ketika bekerja – dan tidak menutup kemungkinan akan membahayakan pesawat yang diatur olehnya.

Belum lagi soal kondisi alat yang mungkin saja lebih buruk ketimbang fasilitas yang didapatkan oleh seorang petugas ATC ketika masih dalam masa pelatihan – kasus seperti ini juga tidak sedikit ditemukan di kalangan pengatur pesawat.

Baca Juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Namun kini jaman sudah berkembang, dimana modernisasi sudah merambah segala sektor – tidak terkecuali di menara ATC. Teknologi Digital Air Traffic Solutions telah dirilis oleh SAAB AB, manukfaktur asal Swedia yang kondang sebagai pemasok sistem senjata mutakhir pada awal tahun 2017 silam.

Lewat solusi ini, indera penglihatan sang pengatur lalu lintas ‘diperpanjang’ dengan perangkat kamera yang terpasang pada tower. Dengan teknologi ini, maka tidak ada lagi aktivitas petugas ATC yang mengawasi seluruh pergerakan di sekitaran bandara dari atas menara. Petugas pengatur lalu lintas pun tak harus berada dekat atau di dalam area bandara alias remote.

Dan jika teknologi semacam ini sudah benar-benar ‘terdistribusikan’ secara sempurna ke seluruh dunia, bagaimana nasib para pegawai menara ATC kelak?