Bagi siapa pun yang berkunjung ke Venezuela, baik untuk urusan bisnis minyak, misi diplomatik, maupun wisata, perjalanan mereka hampir dipastikan dimulai dari Bandara Internasional Maiquetia “Simon Bolivar” (CCS). Terletak di pesisir Maiquetia, sekitar 21 kilometer dari pusat ibu kota Caracas, bandara ini bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan simbol kedaulatan dan cermin ekonomi negara yang berada di persimpangan Amerika Selatan dan Laut Karibia.
Sejarah bandara ini dimulai pada tahun 1945, ketika pemerintah Venezuela menyadari perlunya gerbang udara yang modern untuk mendukung industri minyak yang sedang tumbuh pesat.
Dibangun dengan bantuan teknis dari Amerika Serikat (melalui Pan American Airways), bandara ini awalnya dikenal sebagai Bandara Internasional Maiquetia sebelum akhirnya dinamai untuk menghormati pahlawan kemerdekaan Amerika Selatan, Simon Bolivar.
Selama dekade 1970-an, bandara ini mengalami renovasi besar-besaran yang menjadikannya salah satu bandara paling modern di kawasan tersebut pada masanya, lengkap dengan lantai mosaik kinetik ikonik karya seniman Carlos Cruz-Diez di terminal internasional yang kini menjadi latar foto populer bagi para migran dan pelancong.
Secara teknis, Bandara Simon Bolivar memiliki kapasitas operasional yang sangat mumpuni. Bandara ini dilengkapi dengan dua landasan pacu utama yang sangat panjang untuk mendukung pesawat berbadan lebar (wide-body). Landasan pacu 10/28 memiliki panjang sekitar 3.500 meter, sementara landasan pacu sekunder 09/27 mencapai 3.000 meter.
Dengan panjang landasan tersebut, Caracas mampu melayani penerbangan jarak jauh langsung menuju Eropa dan Amerika Utara, serta menampung pesawat kargo berat yang membawa kebutuhan vital bagi negara tersebut.
Fasilitas di dalamnya mencakup dua terminal utama, domestik dan internasional, yang dihubungkan oleh jalur pejalan kaki. Meski sempat mengalami penurunan kualitas layanan akibat krisis ekonomi kronis, bandara ini tetap menyediakan layanan bea cukai, kargo, serta ruang tunggu VIP untuk tamu-tamu negara. Perannya sebagai pintu masuk diplomatik sangat krusial, karena di sinilah pesawat-pesawat kepresidenan dari sekutu asing sering mendarat.
Terkait dengan operasi penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada Januari 2025 (berdasarkan linimasa narasi terkini), banyak yang bertanya: Apakah bandara ini ikut diserang oleh AS?
Dalam kacamata taktis operasi khusus seperti yang dilakukan oleh Delta Force dan 160th SOAR, target utama biasanya bersifat sangat spesifik (presisi), seperti istana kepresidenan Miraflores atau markas intelijen. Bandara Internasional Maiquetia umumnya tidak menjadi target pemboman atau serangan destruktif skala besar untuk menghindari jatuhnya korban sipil dan kerusakan infrastruktur publik yang vital bagi penduduk.
Namun, dalam operasi tersebut, pasukan khusus biasanya melakukan “pengamanan area” atau kontrol elektronik atas menara pengawas bandara untuk mencegah angkatan udara Venezuela memberikan bantuan atau mencegah Maduro melarikan diri melalui jalur udara. Jadi, alih-alih hancur karena serangan bom, bandara ini lebih berperan sebagai titik strategis yang harus dikuasai atau dinetralkan sementara secara taktis selama operasi berlangsung.
Hingga saat ini, Bandara Maiquetia tetap berdiri sebagai titik pusat yang paling sibuk di Caracas, menjadi saksi bisu dari setiap pergantian kepemimpinan dan dinamika politik yang terjadi di “Negeri Bolivar” tersebut.
Ketika Pesawat Turbolet L-410 Maskapai Venezuela Dibiarkan Hilang Selama 5 Tahun
