Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk

0
Fasilitas perakitan akhir Airbus A350 di Cina. Foto: Airbus

CEO Airbus, Guillaume Faury belum lama ini memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Hal itu disebabkan oleh anjloknya industri penerbangan, dimana, mayoritas keuangan maskapai di seluruh dunia tengah defisit dan hanya memikirkan cara untuk bertahan hidup, tidak untuk membeli pesawat baru. Oleh karenanya, produsen pesawat asal Eropa tersebut harus melakukan upaya efisiensi sambil melakukan sejumlah evaluasi prospek bisnis jangka panjang.

Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Efisiensi yang dimaksud yakni berupa banyak hal, mulai dari pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, sampai memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Bahkan, Faury menekankan bahwa langkah-langkah efisiensi tersebut sama sekali belum mencapai puncak dan masih ada kemungkinan terburuk lainnya.

“Kami menggelontorkan uang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dapat mengancam keberadaan perusahaan kami. Kami sekarang harus bertindak segera untuk mengurangi arus pengeluaran kas, mengembalikan keseimbangan keuangan, dan pada akhirnya, untuk mendapatkan kembali kendali atas nasib kita,” kata Faury dalam sebuah rilis, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari bloombergquint.com.

Sejauh ini, sebetulnya Airbus telah meningkatkan likuiditas perusahaan sebesar 15 miliar euro atau Rp252 triliun (kurs Rp16,613). Begitu juga dengan kompetitor abadinya, Boeing, yang masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk paket stimulus keuangan. Namun, tetap saja, minimnya pemasukan dari bisnis jet komersial, yang notabene menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan, membuat keduanya tengah dalam masalah besar dan bersiap untuk melakukan PHK.

Airbus sejauh ini dilaporkan telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan. Sedangkan Boeing, belakangan santer dikabarkan akan mem-PHK sebanyak 7.000 karyawan. Hal itu merupakan rangkaian efisiensi yang dilakukan Boeing, dari mulai mengakhiri kesepakatan perjanjian pembelian saham Embraer, produsen pesawat asal Brasil, senilai US$ 4,2 miliar atau setara dengan Rp65 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$), hingga memangkas produksi Boeing 787 Dreamliner menjadi hanya setengahnya. Khusus untuk PHK karyawan, keputusannya baru akan diumumkan Rabu mendatang, bersamaan dengan laporan pendapatan kuartal pertama.

Baca juga: Boeing Atau Airbus? Simak Penjelasan Ini Dulu Sebelum Berikan Penilaian

Dengan batalnya pengusaaan saham Embraer oleh Boeing, otomatis, Airbus masih berada di atas angin untuk terus mengungguli produsen pesawat asal AS tersebut di pangsa pasar jet komersial berbadan sempit atau narrowbody. Hal itu dikarenakan Airbus lebih dahulu mengakuisisi Bombardier, produsen pesawat narrowbody asal Kanada, dengan kepemilikan saham sebesar 83,64 persen.

Namun demikian, keunggulan Airbus atas Boeing, saat ini dinilai tak terlalu penting untuk kelangsungan bisnis. Analis Melius Research, Carter Copeland, menilai yang paling penting untuk dilakukan dalam kondisi seperti sekarang ini adalah bertahan hidup, bukan mengungguli satu dengan lainnya. Adapun kunci untuk dapat terus bertahan adalah dengan menghemat uang tunai. Airbus dan Boeing diperkirakan telah mencapai rekor terburuk pada pendapatan kuartal I, dimana keduanya masing-masing kehilangan 6,5 miliar euro (Airbus) dan $8 miliar (Boeing).

Leave a Reply