Boeing Atau Airbus? Simak Penjelasan Ini Dulu Sebelum Berikan Penilaian

0
Ilustrasi Boeing vs Airbus. Sumber: istimewa

Boeing dan Airbus saat ini tengah bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik dalam peperangan merebut ceruk pasar pesawat komersial. Selama beberapa dekade, dua pabrikan asal Amerika dan Eropa tersebut tengah menikmati duopoli pada penjualan pesawat besar dan menengah. Penjualan yang meningkat serta banyaknya backlog pesawat dibandingkan produsen pesawat lainnya di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikasi kuat duopoli tersebut.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Akan tetapi, kesuksesan selama beberapa tahun atau dekade terakhir mendadak sirna ketika wabah virus Cina hampir melumpuhkan industri penerbangan global. Menariknya, bila dahulu banyak maskapai dunia mengaku kekurangan pesawat dan berharap pesanan (pesawat) mereka segera tiba, kini sebaliknya, mayoritas maskapai sangat jelas kelebihan armada. Terlihat dari banyaknya pesawat yang mangkrak di bandara.

Sadar bisnis dan duopolinya terancam, Boeing dan Airbus pun bersatu. Paling tidak untuk bertahan sampai wabah Covid-19 usai. Namun, usaha untuk menyatukan kekuatan melawan pandemi corona diyakini tak terlalu berdampak besar untuk arus finansial masing-masing perusahaan. Bagaimanapun juga, baik Boeing dan Airbus mau tak mau harus memaksimalkan sumber pendapatan lainnya di luar pesawat komersial.

Terkait sumber pendapatan lain di luar divisi komersial atau produksi pesawat komersial, salah satunya dari sektor pertahanan atau defense, Boeing mungkin sedikit lebih baik dari Airbus. Boeing sejauh ini memimpin (dibanding Airbus) dimana sepertiga pendapatan di tahun 2019 datang dari industri pertahanan. Sedangkan Airbus, di tahun yang sama, hanya meraup 26 persen keuntungan dari sektor tersebut.

Akan tetapi, Boeing bukan tanpa borok. Grounded 737 MAX berkepanjangan, mencapai setahun lebih, membuat kinerja keuangan Boeing melorot. Betapa tidak, jelang satu tahun grounded 737 MAX pada 14 Maret, Boeing mengumumkan telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang.

Bahkan, seorang analis Bank of America Merrill Lynch (BAML), Ronald Epstein, memperkirakan bahwa Rp268 triliun tersebut bisa saja akan terus melambung karena Boeing 737 MAX yang tak kunjung bisa kembali terbang setelah hampir setahun lamanya. Parahnya, analis yang juga mantan ilmuan riset terapan Boeing itu memprediksi, angka tersebut belum termasuk kompensasi yang mungkin bisa saja juga melambung.

Dalam kondisi tersebut, tak heran bila neraca keuangan Boeing sedikit tersalip oleh Airbus. Pasalnya, banyak dari konsumen Boeing yang pindah ke Airbus, khususnya pelarian dari 737. Bisa dibilang, insiden 737 MAX menjadi berkah besar buat Airbus, selain memang inovasi teknologi serta ketepatan produk menjawab kebutuhan maskapai juga menjadi dasar terkuat dalam upaya mengungguli Boeing.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Dengan berbagai kekurangan dan kelebihan tersebut, invenstor pun dibuat bingung untuk menanamkan modal di antara keduanya. Dikutip dari fool.com, bila diamati lebih lanjut, Boeing dinilai memiliki potensi lebih tinggi di tahun-tahun mendatang ketimbang Airbus. Demikian juga sebaliknya, soal risiko, Boeing juga lebih tinggi dibanding Airbus.

Dalam jangka pendek, satu atau dua tahun ke depan, mungkin Airbus bisa jadi pilihan cukup baik berinvestasi. Lebih dari itu, rasanya Boeing tak bisa dianggap remeh sekalipun mereka masih mengalami masalah serius dengan 737 MAX, penurunan produksi 787 dreamliner, dan keluaran baru 777X yang belum terlalu menggigit. Beberapa hal yang paling mendasari kedigdayaan Boeing di tahun-tahun mendatang adalah rantai pasokan dan kapasitas produksi. Di kedua hal tersebut, Boeing dinilai unggul dibanding kompetitornya.

Leave a Reply