Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

0
Ilustrasi penerbangan fello' fly. Foto: Airbus via CNN

Usai mengujicoba program ‘fello’fly’, yang terinspirasi dari angsa untuk mencapai konsumsi bahan bakar pesawat yang lebih rendah sekaligus mengurangi polusi tahun 2016 dan 2019 lalu, Airbus bertekad untuk mempercepat diterapkannya fello fly atau penerbangan formasi di tahun-tahun mendatang. Langkah itu akan dimulai kembali dengan uji coba lanjutan penerbangan fello fly bersama sejumlah pihak, seperti Frenchbee, SAS, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Perancis, NATS, dan Eurocontrol.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Dilansir CNN International, fello’ fly merupakan terobosan dalam sebuah penerbangan dimana dua pesawat atau lebih terbang secara bersamaan dan berdekatan untuk membentuk formasi “V” dalam penerbangan jarak jauh, layaknya angsa yang bermigrasi. Program ini sebetulnya pernah ditargetkan bakal terlaksana di dunia pada pertangahan tahun ini, namun, wabah Covid-19 memaksa peneliti Airbus UpNext menundanya.

Fello’ fly atau penerbangan bersama dengan membentuk formasi V dalam pelaksanannya tak selalu bisa benar-benar terbang bersamaan dalam jumlah banyak seperti migrasi angsa. Sebab, hal itu cukup rumit dan butuh kerjasama dari ATC, maskapai, dan regulator seluruh dunia.

Proragm fello’ fly umumnya ditargetkan bakal terlaksana pada penerbangan jarak jauh. Tak harus lepas landas dalam waktu yang bersamaan, pesawat yang sudah berada di udara nantinya akan diatur sedemikian rupa oleh ATC untuk bertemu di sebuah waypoint untuk kemudian menerapkan formasi fello’ fly. Bergantung pada rute dan jam, dalam satu airways usai bertemu di waypoint, fello’ fly bisa saja melibatkan banyak pesawat.

Selama menjalankan fello’ fly, pada skema dua pesawat (detail skema fello’ fly lebih dari dua pesawat masih butuh uji coba lanjutan), antar mereka akan dibatasi jarak masksimal 3km (1.5nm) dan pesawat yang berada di belakang akan memposisikan di bawah leader (pesawat yang ada di depan) di ketinggian 304 meter (1.000 kaki). Dalam perjalanan menuju bandara tujuan, leader yang akan memimpin komunikasi dengan ATC.

Nantinya, pesawat yang berada di belakang akan menikmati updraft atau hentakan ke atas (biasa juga disebut vertical draft) efek dari wingtip vortex yang dihasilkan pesawat yang berada di depan. Sehingga, pesawat tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra dan pada akhirnya membuat penerbangan jadi jauh lebih hemat bahan bakar.

Fello’ fly AIrbus. Foto: Airbus via CNN

Selama fello’ fly, untuk mendapati hasil yang lebih maksimal dan aman, pesawat perlu didukung oleh teknologi autopilot yang ajeg untuk mempertahankan posisi, baik ketinggian maupun jarak antar pesawat, serta menghindari efek wake energy retrieval yang berlebihan.

Pada prinsipnya, fello’ fly akan membuat penerbangan jarak jauh lebih efisien hingga 5-15 persen. Namun, dengan memperpendek jarak antar pesawat menjadi 1.5 nm (Nautical Miles), jauh lebih kecil dari batas 5nm atau sembilan kilometer yang ditetapkan oleh FAA saat ini, ruang udara yang bisa dijajaki pesawat jadi lebih luas.

Baca juga: Pesawat Punya Kecepatan Jelajah dan Kecepatan Maksimum, Apa Bedanya?

Hal itu tentu bagus mengingat IATA telah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037 atau terjadi peningkatan sekitar 3,5 persen per tahun hingga 2037.

Bila saat ini saja 40,3 juta penerbangan dan mengalami lonjakan sekitar 3,5 persen per tahun, bisa dibayangkan, berapa banyak penerbangan yang akan terjadi di tahun 2037 dan di tahun-tahun selanjutnya? Luas langit tentu sudah paten, namun, jarak aman antar pesawat, termasuk jarak saat lepas landas, taxing, dan lain sebagainya antara satu pesawat dengan pesawat lainnya masih bisa diubah untuk mendukung banyaknya perjalanan udara di masa mendatang.

Leave a Reply