Akibat Tekanan Biaya Bahan Bakar, Laba Singapore Airlines Anjlok Hingga 20,7 Persen

0
Sumber: Singapore Airlines

Singapore Airlines dikabarkan mengalami penurunan keuntungan pada kuartal pertama 2019  hingga 20,7 persen menjadi S$111 juta, sebagai perbandingan pada tahun lalu keuntungan maskapai terbaik di dunia ini mencapai S$140 juta. Anjloknya keuntungan Singapore Airlines bukan lantaran berkurangnya penumpang atau menurunnya load factor.

Baca juga: Sama-sama Cantik! Singapore Airlines Pernah Tugaskan Awak Kabin Kembar Identik Pada Penerbangan yang Sama

Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (31/7/2019), pendapatan sejatinya naik 6,7 persen menjadi S$4,1 miliar dari S$3,8 miliar dengan peningkatan kapasitas penumpang yang dipengaruhi oleh penurunan pendapatan udara. Dimana pendapatan ini menurun sebesar 8,4 persen atau S$45 juta karena menurunnya permintaan kargo di tengah ketidakpastian perdagangan.

Meski pendapatan penumpang yang diterbangkan naik S$271 juta atau 8,8 persen, tetapi pengeluarannya juga ternyata naik hampir 7 persen menjadi S$3,9 miliar dimana ini biaya bahan bakar yang naik 6,1 persen. Maskapai SIA mengatakan, biaya bahan bakar bersih sendiri diketahui naik 8,7 persen yang mana peningkatan volume naik pada ekspansi kapasitas dolar Amerika Serikat.

“Volatilitas harga bahan bakar diperkirakan akan bertahan dalam waktu dekat, tetapi posisi lindung nilai Grup yang kuat akan membantu mengurangi kenaikan harga,” kata SIA.

Sedangkan laba operasi perusahaan induk SIA saat diperiksa naik 28,2 persen menjadi S$232 juta. Tetapi SilkAir dan Scoot memiliki hasil yang lebih lemah. Hal ini terlihat dimana SilkAir mendapat kerugian operasi sebesar S$6 juta terhadap laba marjinal sebesar S$200 ribu di periode yang sama tahun lalu.

Masalah ini juga dikarenakan biaya dengan landasan enam pesawat Boeing 737 MAX 8. Sedangkan Scoot tergelincir dalam kerugian operasi sebesar S$37 juta serta pengangkutan anggaran melonjak 10,1 persen di belakang ekspansi armada dan operasinya dan termasuk pengeluaran yang lebih tinggi untuk bahan bakar.

Laba operasional untuk SIA Engineering naik menjadi S$18 juta, meningkat dari S$8 juta dari tahun ke tahun. SIA mengatakan, selama kuartal tersebut, peningkatan kinerja operator India Vistara diimbangi oleh estimasi kerugian yang lebih tinggi dari Virgin Australia.

“Pemesanan penumpang dalam bulan-bulan berikutnya mengikuti pertumbuhan kapasitas, sementara permintaan angkutan udara telah melunak di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” kata SIA.

“Headwind ini juga mengaburkan prospek permintaan penumpang dalam jangka panjang,” kata SIA.

SIA menambahakn, grup akan secara aktif menangkap peluang pendapatan dan menerapkan disiplin biaya untuk meningkatkan profitabilitas dalam lingkungan ekonomi makro yang menantang ini.

Baca juga: Boeing 757 Eks Singapore Airlines, Hanya Empat Tahun di Singapura dan Lanjut Keliling Dunia

Penundaan armada 737 MAX 8 telah mengganggu rencana ekspansi grup maskapai yang mana SilkAir terpengaruh. Untuk mengurangi gangguan dalam layanan, maskapai induk SIA telah mengoperasikan penerbangan tambahan ke tujuan SilkAir seperti Kuala Lumpur, Yangon dan Phuket. Maskapai ini berada di tahun terakhir dari rencana transformasi tiga tahun yang dirancang untuk memangkas biaya dan meningkatkan pendapatan.

Leave a Reply