Alert! Lima Citra Satelit Ini Tunjukkan Betapa Cepat Planet Bumi Berubah

0
Satelit GPS III generasi ke-4 saat mengorbit. Foto: US Space Force

Sebagian dari kita mungkin merasakan perbedaan keadaan planet bumi dari tahun ke tahun. Namun, hanya sebatas merasakan saja; seperti panas matahari makin terasa menyengat, cuaca makin tak menentu, wilayah yang biasanya tak banjir menjadi banjir, banjir yang semakin parah akibat penurunan tanah dan sebaliknya muka air laut meningkat, dan lain sebagainya.

Baca juga: Seberapa Amankah Bandara yang Terletak di Pesisir Laut dari Ancaman Bencana Alam?

Akan tetapi, bila merujuk pada data dari satelit observasi Bumi milik berbagai lembaga di dunia, rasanya perubahan yang dirasa oleh banyak negara dan masyarakat di seluruh dunia itu benar adanya.

Dari sekian banyak bukti terkait hal itu, sebagaimana dikutip dari theconversation.com, berikut lima foto-video (citra satelit) yang menunjukkan betapa cepatnya planet bumi tempat kita berpijak berubah.

1. Permukaan air laut terus naik di seluruh dunia

Permukaan air laut meningkat sangat cepat. Foto: ESA/CLS/LEGOS

Kenaikan permukaan laut diperkirakan menjadi salah satu konsekuensi paling serius dari pemanasan global. Bila tak ada tindakan serius dan strategis, wilayah pesisir di seluruh dunia bisa tenggelam beberapa tahun mendatang.

Dari gambar di atas, selama 13 tahun terakhir dari tahun 1993-2015, rata-rata kenaikan permukaan air laut di dunia mencapai 3,2 mm per tahun. Namun, itu tiga sampai empat kali lebih cepat di beberapa wilayah, seperti Pasifik barat daya hingga timur Indonesia dan Selandia Baru, di mana terdapat banyak pulau kecil dan atol yang sudah sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

2. Permafrost terus mencair

Permafrost di kutub utara. Foto: ESA

Permafrost adalah tanah yang membeku secara permanen dan sebagian besar terletak di Kutub Utara. Selaa ini, ia menyimpan sejumlah besar karbon di planet bumi, mencapai sekitar 1.500 miliar ton karbon -dua kali lebih banyak daripada di seluruh atmosfer- dan sangat penting agar karbon tetap berada di dalam tanah.

Tetapi ketika mencair, karbon tersebut dilepaskan sebagai CO₂ dan bahkan gas rumah kaca yang lebih kuat seperti metana. Citra satelit di atas menunjukkan betapa mengerikannya fenomena mencairnya permafrost.

3. Lockdown bikin langit Eropa lebih bersih

Citra satelit polusi di Eropa berukurang drastis akibat lockdown. Foto: ESA

Nitrogen dioksida adalah polutan atmosfer yang dapat berdampak serius bagi kesehatan, terutama bagi penderita asma atau fungsi paru-paru yang melemah, dan dapat meningkatkan keasaman curah hujan dengan efek merusak pada ekosistem yang sensitif dan kesehatan tanaman. Sumber utama polutan tersebut berasal dari mobil dan kendaraan lainnya.

4. Deforestasi di Amazon

Hutan tropis selama ini menempati posisi penting sebagai paru-paru dunia atau planet, menghirup CO₂ dan menyimpannya dalam biomassa kayu sambil menghembuskan oksigen.

Deforestasi di wilayah Amazon selama beberapa dekade belakangan diperparah dengan kebijakan legalisasi pembukaan hutan oleh pemerintah Brasil. Video dari satelit ESA/USGS di atas menunjukkan betapa cepatnya hutan hujan Amazon di negara bagian Rondonia, Brasil barat antara 1986 dan 2010.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

5. Gunung es sebesar dua kali lipat Jakarta

Gunung es di Antartika pecah dan membuat gunung es baru sebesar dua kali lipat Jakarta. Foto: ESA

Lapisan es di Antartika mengandung cukup banyak air untuk menaikkan permukaan laut global hingga 58 meter jika semuanya mencair. Sedang kenaikan beberapa milimeter saja sudah mengancam wilayah pesisir di seluruh dunia, apalagi sampai puluhan meter.

Belum lama ini, sebuah gunung es pecah dan membentuk sekitar gunung es baru yang lebih kecil dari gunung es secara keseluruhan namun amat besar ukurannya secara individu, mencapai 1.270 km² atau dua kali lipat luas ibu kota Indonesia, Jakarta. Video pecahnya gunung es dan membentuk gunung es baru bernama A-74 itu tertangkap secara dramatis oleh satelit ESA.