Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

0
Ilustrasi airborne virus corona saat di tengah keramaian. Foto: Bloomberg

Virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) disebut dapat bertahan 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, 9 hari di permukaan logam dan kaca, serta 3 jam di udara.

Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Terkait adanya virus corona di udara, belum lama ini sebuah penelitian menemukan bahwa virus corona dapat bertahan di ruangan penuh sesak atau ruangan yang kurang ventilasi. Para peneliti pun belakangan mulai mendukung gagasan penyebaran Covid-19 dapat menular lewat partikel-partikel udara kecil di udara atau yang biasa dikenal sebagai aerosol.

Dikutip dari Bloomberg, studi yang dilakukan di dua rumah sakit di Wuhan, Cina, berhasil menemukan potongan-potongan materi genetik virus bertebaran di udara toilet rumah sakit, ruangan yang memungkinkan adanya kerumunan besar, dan kamar-kamar dimana petugas medis melepas Alat Pelindung Diri (APD). Meski demikian, studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Research, Senin lalu tersebut tidak dimaksudkan untuk menunjukkan apakah virus corona dapat tersebar lewat airborne.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Ke Lan dari Universitas Wuhan, membuat sejenis perangkap aerosol di dan sekitar dua rumah sakit di kota yang diduga menjadi asal mula munculnya virus corona jenis baru. Dari perangkap atau jebakan aerosol itu, hasilnya mereka menemukan beberapa aerosol di ruang perawatan, supermarket, dan bangunan tempat tinggal. Tak hanya itu, virus corona juga terdeteksi di toilet dan dua tempat (di dalam dan sekitar rumah sakit) yang banyak orang lewati, termasuk ruang tertutup di dekat salah satu rumah sakit.

Namun, perhatian utama para peniliti adalah ruangan di mana staf medis melepas peralatan pelindung. Diduga, APD petugas medis yang sudah terkontaminasi Covid-19 mungkin tersebar kembali ke udara ketika mereka melepas masker, alat pelindung wajah, sarung tangan, dan hazmat. Temuan itu pun menyoroti pentingnya ventilasi, membatasi keramaian, dan upaya sanitasi yang cermat.

Belakangan, narasi, statement, teori, atau gagasan tentang seberapa mudah virus corona menyebar di udara menjadi perdebatan di kalangan para ahli medis dunia, khususnya spesialisasi penyakit menular, menyusul adanya dua hal yang kontradiktif. Di satu sisi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa virus corona tidak menyebar lewat udara (airborne), merujuk pada analisis ke lebih dari 75 ribu kasus corona di Cina.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Di sisi lain, ketika sebaran virus Cina semakin meluas, dimana ditemukan hampir 70 ribu kasus baru pada hari ini, menewaskan lebih dari 210 ribu jiwa, dan menginfeksi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia, para ilmuan pun dibuat penasaran dan tertantang untuk lebih memahami dengan tepat bagaimana infeksi bisa begitu masif dan cepat.

Umumnya, seseorang menghasilkan dua jenis percikan ketika mereka bernapas, batuk, bersin, atau berbicara. Percikan yang lebih besar disebut akan jatuh ke tanah sebelum memuai dan menyebabkan manusia terinfeksi melalui benda-benda di sekeliling mereka. Adapun yang lebih kecil atau aerosol, disebut bisa bertahan di udara selama berjam-jam.

Leave a Reply