Bandara “Bandaranaike” Kolombo, Saksi Bisu Beberapa Pendaratan Darurat Garuda Indonesia

Sumber: istimewa

Insiden pendaratan darurat yang dilakukan oleh Airbus A330 Garuda Indonesia GA972 di Kolombo, Sri Lanka pada Selasa (2/4/2019) sore kemarin sukses menyedot perhatian berbagai kalangan dari seluruh dunia. Diwartakan, pendaratan darurat ini terpaksa dilakukan di Bandara Internasional Bandaranaike karena dilatarbelakangi oleh informasi dari pilot yang mengatakan ada kepulan asap dari dalam pesawat. Sebelum-sebelumnya juga, bandara yang terletak di Katunayake, 35 km sebelah utara kota Kolombo ini juga sempat menjadi saksi bisu dari serentetan kecelakaan Garuda Indonesia (tahun 1974 dan 1978).

Baca Juga: Kolombo, “Kota Keramat” Bagi Garuda Indonesia yang Terbang Menuju Tanah Suci

Bandara Internasional Bandaranaike, atau yang biasa juga disebut Bandara Katunayake atau Bandara Internasional Kolombo ini pertama kali beroperasi sebagai pangkalan udara Royal Air Force (Angkatan Udara Inggris) pada tahun 1944 pada masa Perang Dunia II. Lalu pada tahun 1957, Perdana Menteri Salomon West Ridgeway Dias Bandaranaike memindahkan semua lapangan terbang Militer Inggris dari Ceylon (Nama jajahan Inggris sebelum berubah menjadi Sri Lanka), dan lapangan terbang tersebut diserahkan kepada Royal Ceylon Air Force (RCyAF) dan lapangan tersebut berganti nama menjadi Katunayake.

Sejatinya seperti Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Adi Sutjipto di Indonesia, hingga saat ini, sebagaian dari Bandara Internasional Bandaranaike masih berfungsi sebagai lapangan terbang militer. Bandara yang dikelola oleh Airport and Aviation Services of Sri Lanka ini merupakan hub dari SriLankan Airlines (flag carrier Sri Lanka) dan maskapai domestik Cinnamon Air.

Bandara ini tidak hanya satu kali saja berganti nama – tahun 1977 berubah menjadi Katunayake International Airport dan pada tahun 1995 kembali berubah menjadi Bandaranaike International Airport. Bisa dikatakan, pergantian nama bandara ini (menjadi Bandaranaike International Airport) merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap mendiang Perdana Menteri Salomon West Ridgeway Dias Bandaranaike yang berhasil merebutnya dari tangan Inggris.

Menara ATC Bandara Internasional Bandaranaike. Sumber: istimewa

Pembangunan bandara ini sendiri dimulai pada tahun 1964 yang ditujukan untuk menggantikan peran dari bandara internasional pertama di Sri Lanka, Ratmalana International Airport dan rampung tiga tahun berselang.

Perkembangan demi perkembangan terus dilakukan Pemerintah setempat guna meningkatkan fungsi dari bandara ini – selain juga memperindahnya. Tercatat, ada satu landas pacu yang sudah dilapisi oleh aspal dan dua lainnya masih dalam perencanaan. Satu landas pacu yang ada di bandara ini memiliki panjang 3.441 meter dengan arah 04/22.

Baca Juga: Untuk Direct Flight Umrah, Mei 2019 Airbus A330-900NEO Lion Air Tiba di Indonesia

Selain itu, Bandara Internasional Bandaranaike ini juga dilengkapi oleh dua bangunan terminal penumpang (satu terminal lagi sedang dibangun dan direncanakan dibuka pada tahun 2019 ini) dan satu terminal kargo.

Mengutip dari Civil Aviation Authority of Sri Lanka, pada tahun 2018 kemarin, bandara ini berhasil mengakomodir 10,8 juta penumpang dan 66,8 ribu pergerakan pesawat selama satu tahun.

Pendaratan perdana Airbus A380 di Sri Lanka. Sumber: istimewa

Satu sejarah yang tidak boleh dilupakan dari bandara ini adalah ketika maskapai Timur Tengah Emirates berhasil mendaratkan armada Airbus A380-800nya di Bandara Internasional Bandaranaike pada 9 Januari 2012 silam. Ini merupakan pendaratan perdana super-jumbo jet di bandara di Sri Lanka.