Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

0
Awalnya, Bandara Internasional Gaza amat diandalkan. Usai itu hancur, Bandara Gus Katif pun menjadi satu-satunya akses bandara di Jalur Gaza. Foto: Facebook

Setelah Bandara Internasional Yasser Arafat dihancurkan oleh Zionis Israel, Jalur Gaza, Palestina praktis hanya memiliki satu akses transportasi udara. Satu itu adalah Bandara Gush Katif. Meski saat ini sudah tak lagi berfungsi, namun, masih tersisa satu runway yang dalam keadaan mendesak bisa saja digunakan.

Baca juga: Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel

Sebelum tahun 2004, Jalur Gaza amat mengandalkan Yasser Arafat International Airport sebagai penghubung dengan dunia luar.

Bandara yang dibangun menggunakan dana hibah asing, seperti Mesir, Jepang, Arab Saudi, Spanyol, Jerman, dan sejumlah negara-negara Uni Eropa lainnya, senilai jutaan dolar ini merupakan proyek ambisius internasional sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Oslo II tahun 1995.

Setelah menghabiskan dana senilai US$86 juta dengan waktu konstruksi selama kurang lebih satu tahun, bandara ini pun rampung.

Dalam acara opening ceremony pada 24 November 1998, turut hadir Yasser Arafat dan Presiden Amerika kala itu, Bill Clinton. Pada waktu yang bersamaan, pembukaan bandara tersebut digambarkan sebagai bukti kemajuan Palestina dan sebuah pergerakan menuju pembangunan negara yang seutuhnya.

Bandara yang dioperasikan langsung oleh otoritas Palestina ini menjadi markas dari maskapai Palestinian Airlines, dengan kemampuan menangani lebih dari 700.000 penumpang setiap tahunnya.

Sayang, dana sebesar itu terbuang sia-sia setelah Israel menghancurkannya dalam sekejap menggunakan jet tempur F-16 dengan dalih membela diri dari gerakan Intifada kedua pada 8 Oktober 2000. Intifada merupakan sebuah gerakan perlawanan warga Palestina terhadap serangan yang dilancarkan militer Israel. Intifada kedua Palestina ini lebih dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa.

Setelahnya, warga di Jalur Gaza tak lagi mempunyai gerbang menuju dunia luar, mengingat akses darat diblokade total dan harus melewati pengecekan super ketat oleh militer Israel.

Kendati tak lagi punya bandara internasional, Jalur Gaza masih mempunyai airfield atau bandara lainnya sekalipun tak sebesar Bandara Yasser Arafat; Bandara Gush Katif. Bandara ini terletak sekitar 3,2 km di utara kota Khan Yunis, Gaza, Palestina.

Bandara Gush Katif sendiri disebut laman resmi UNRWA sudah ada sebelum tahun 2004. Tetapi di tahun tersebut, bandara yang memiliki satu runway sepanjang 800 meter di ketinggian 107 kaki itu mulai direnovasi oleh Israel untuk kemudian diserahkan ke otoritas Palestina, bersama pemukiman Gush Katif untuk warganya.

Seiring berjalannya waktu, dimensi runway bandara tersebut lambat laun mulai tergerus oleh badai pasir yang kerap menerjang wilayah sekitar. Terlebih, otoritas Palestina, sebagai pemegang kuasa terhadap bandara tersebut, tidak merawat bandara itu dengan baik.

Disebutkan, akibat terjangan badai pasir, satu-satunya runway dan satu-satunya bandara yang berada di Jalur Gaza itu berkurang lebarnya, dari 23 meter menjadi 9,1 meter. Demikian juga dengan panjang runway yang juga tergerus.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Namun, untuk memudahkan akses puluhan ribu pengungsi di Khan Younis kamp, runway tersebut kembali dibenahi menjadi seperti semula. Usai runway kembali layak, sejak tahun 2007-2010, Bandara Gush Katif aktif digunakan untuk mobilitas pengungsi dan logistik. Sampai di sini, UNRWA seolah-olah menjadi operator dari bandara tersebut.

Pada tahun 2014, Bandara Gush Katif, berdasarkan citra satelit dan laporan dari warga setempat, sudah tidak lagi dapat digunakan. Itu karena di ujung runway sudah ada bangunan tinggi sebagai pabrik pengelolahan limbah yang menghalangi proses pendaratan dan lepas landas pesawat.

Leave a Reply