Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?

0
Ilustrasi Bandara Hong Kong. Foto: South China Morning Post

Otoritas Bandara Hong Kong (AAHK) belum lama ini mengaku telah mendapat suntikan dana sebesar HK$35 miliar atau Rp64 triliun (kurs 1 dollar HK – Rp1.825). Pengelola Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) mendapat dana tersebut dari 21 bank lokal dan internasional. Padahal, sebelumnya, AAHK hanya merencanakan dana sebesar 75 persen saja atau HK$20 miliar. Namun, karena tingginya minat dari bank, mereka pun menambah jumlah pembiayaan.

Baca juga: Bandara Hong Kong Kucurkan Rp2,8 Triliun Guna Hadapi ‘Serangan’ Virus Corona

AAHK menyebut, pinjaman tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan pasar –baik lokal maupun internasional- terhadap sektor penerbangan Hong Kong masih tinggi. Padahal, sektor penerbangan di negara tersebut tengah anjlok sejak beberapa tahun terakhir akibat krisis politik berkepanjangan serta wabah Covid-19.

“Dukungan ini menunjukkan kepercayaan mereka pada AAHK dan prospek pengembangan jangka panjang Bandara Internasional Hong Kong. Jauh lebih dari sekadar instrumen keuangan, fasilitas ini mewakili kepercayaan komunitas perbankan global terhadap masa depan Hong Kong,” kata Jack So, CEO AAHK dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bangkokpost.com.

Nantinya, lanjut Jack So, dana tersebut akan digunakan untuk operasional dan pengembangan Bandara Internasional Hong Kong (HKIA), salah satunya ialah konsep Three-runway System yang telah dicanangkan sejak 26 April 2016. Hal ini diharapkan bisa menjadi sebab pertumbuhan HKIA di masa mendatang. Sejauh ini, HKIA diketahui telah terhubung ke sekitar 180 tujuan, melalui lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari oleh lebih dari 100 maskapai.

Profesor di Institut Manajemen Penerbangan Sipil Cina, Diao Weimin, menyebut konsep Three-runway System akan berdampak besar pada pengembangan HKIA di masa mendatang. Sebab, maskapai global besar kemungkinan akan meningkatkan frekuensi penerbangan mereka, seiring minat bepergian masyarakat dunia yang juga meningkat.

Meskipun demikian, hal itu tak lantas membuatnya menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan pertumbuhan pesat industri penerbangan global (di luar wabah corona). Sebab, berbagai bandara lainnya juga telah bersiap menyambut era itu, seperti kota-kota Greater Bay Area (Guangdong dan Macau), Singapura, serta Korea Selatan.

Volume penumpang di Bandara Internasional Hong Kong sejauh ini dilaporkan turun 99,4 persen YoY (year on year) di bulan Mei. Sementara itu, jumlah penerbangan turun 68,7 persen. Namun, penerbangan kargo justru selama wabah corona meningkat di angka 29,3 persen YoY.

Bandara Hong Kong memang sudah lama mendapat suntikan dana dari berbagai pihak. Di akhir Februari lalu saja, total kucuran dana yang telah disalurkan ke bandara tersebut angkanya mencapai HK$1,6 miliar atau sekitar Rp2,8 triliun sejak pertama kali dikucurkan pada tahun lalu.

Kucuran dana tersebut digunakan untuk mempertahankan ekosistem bisnis yang ada di bandara tersebut, mencakup pemberian konsesi sewa (lahan atau space di bandara) keringanan atau pengurangan biaya dan berbagai bantuan lainnya untuk mengurangi tekanan pada mitra bisnis di HKIA. Lebih spesifik lagi, sasaran penerima bantuan tersebut meliputi gerai ritel, katering bandara, maskapai penerbangan, dan travel agent, baik online maupun offline.

Kucuran dana segar ke sektor industri penerbangan di masa pandemi corona memang massif dilakukan sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia. Namun, nominalnya berbeda-beda. Perbedaan itu pulalah yang pada akhirnya membuat iri berbagai pelaku industri.

Baca juga: Walau Miliki Utang Segunung, Dua Kombinasi Finansial Bikin Garuda Indonesia ‘Bernapas’ Lega Sementara Waktu

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra, misalnya, mengaku iri terhadap dana talangan yang didapat Singapore Airlines (SIA) dari pemerintah, sebesar US$ 11,5 miliar. Sementara itu, Garuda Indonesia hanya mendapat US$500 juta. Namun mereka masih patut bersyukur mendapat dana talangan.

Dari suntikan modal kerja percepatan pembayaran kompensasi dan penugasan untuk BUMN sebesar Rp94,23 triliun, modal negara (PMN) sebanyak Rp 25,27 triliun untuk lima BUMN, serta dana talangan modal kerja BUMN sebanyak Rp32,65 triliun, tak satupun tersebut nama pengelola bandara di Tanah Air, PT Angkasa Pura 1 dan PT Angkasa Pura 2. Padahal, sebagaimana bandara HKIA dan berbagai bandara lainnya, mereka juga patut didukung, layaknya airlines (dalam hal ini Garuda Indonesia) untuk menghadapi dampak Covid-19.

Leave a Reply