Becak: Dikagumi di Eropa, Tersingkir di Dalam Negeri

Sumber: istimewa

“Becak, becak, tolong bawa saya. Saya duduk sendiri, sambil mengangkat kaki…”
Penggalan lirik lagu anak-anak tersebut terdengar tidak asing di telinga kita, menceritakan tentang seorang anak kecil yang hendak bertamasya menggunakan becak berkeliling kota. Sedikit banyaknya, kehadiran transportasi berbasis online mempengaruhi eksistensi dari moda darat tiga roda tersebut. Tapi, tidak sedikit juga masyarakat yang tetap mempercayakan becak sebagai tumpuan transportasi mereka.

Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?

Walaupun di Ibu Kota sudah jarang terlihat, namun becak masih digandrungi oleh masyarakat di daerah lainnya di Indonesia, sebut saja Yogyakarta. Di Kota Pelajar ini, Anda akan menemukan ratusan becak mangkal di sekitaran daerah Malioboro. Mereka siap mengantarkan Anda berkeliling, menyusuri sudut kota Yogyakarta yang masih sangat kental nuansa Keratonnya. Namun, jangan sampai Anda terkecoh ketika sang pengemudi becak mematok harga yang tinggi, atau menawarkan perjalanan ke daerah yang tidak ingin kunjungi. Anda disarankan untuk menawarnya terlebih dahulu di muka.

Selain menempati tempatnya sebagai bagian dari khasanah kota Yogyakarta, becak-becak di kota ini pun mendapat perlakuan khusus dari otoritas setempat. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Peraturan walikota Jogja Nomor 25 tahun 2010 mewajibkan becak dan andong/kereta kuda memiliki Surat Ijin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB)  untuk dapat beroperasi. Dengan SIOKTB tersebut becak juga harus dilengkapi dengan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (TNKTB). Jadi Anda jangan heran ketika melihat becak-becak di sini menggunakan plat kuning.

Taksi Velo. Sumber: lprs1.fr

Nampaknya tren becak juga merambah kota fesyen, Paris. Di sini, terdapat juga becak yang siap mengantarkan Anda berkeliling kota, khususnya di seputaran ikon kota tersebut, Menara Eiffel. Taksi Velo, nama moda darat non emisi ini, memiliki sedikit perbedaan dengan becak domestik. Perbedaan tersebut terletak di bagian kemudinya – Pengemudi taksi velo berada di depan, sedangkan becak domestik pengemudinya berada di belakang.

Kendaraan ini banyak diminati oleh wisatawan yang datang, selain memiliki desain yang unik, taksi velo ini juga disebut-sebut nyaman untuk ditumpangi. Maka tidak heran jika wisatawan yang datang ke Paris, tidak melewatkan kesempatan untuk naik moda unik yang satu ini. Anda harus menyiapkan dana sebesar 20 Euro atau setara dengan Rp240.000 untuk sekali perjalanan. Jika harga tersebut dirasa mahal, Anda juga bisa memilih menyewa taksi velo ini dengan budget 300 Euro atau setara dengan Rp3,7 juta per hari.

Ternyata tidak hanya Paris, di Belanda pun tren becak mulai menanjak manakala seorang pemuda membeli dan membawa pulang becak khas Yogyakarta. Alih-alih menjadikannya pajangan, pemuda yang diketahui bernama Daan Goppel ini menjadikan becak yang ia beli sebagai salah satu sarana transportasi yang akan mengangkut penumpang menyusuri lokasi bersejarah disana, termasuk bangunan bersejarah Belanda –Indonesia.

Baca Juga: Uber Menghilang di Kota Malang

Daan juga tidak hanya diam selama melakukan tur, tapi ia juga sembari menceritakan tentang sejarah dari tempat yang ia lewati. Kecintaannya yang besar terhadap becak diakui Daan mulai tumbuh ketika ia belajar Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia pada tahun 2013 silam. “Ini adalah pengalaman yang luar biasa mengendarai becak dengan penumpang. Anda tak mendengar suara mesin dengan kecepatan yang bisa untuk menikmati pemandangan. Ini adalah sarana transportasi yang ideal. “ungkapnya dikutip dari laman tribunnews.com (23/8/2017).

Sumber: kanal247.com

Tentu, ini merupakan sebuah ironi ketika sarana transportasi tradisional seperti becak mulai digemari oleh masyarakat dari Benua Biru, sedangkan keberadannya di Indonesia seolah dipandang sebelah mata dan pamornya mulai kalah dengan moda transportasi berbasis online. Sudah barang pasti ini bertolak belakang dengan program pemerintah yang selama ini dijalankan, yaitu usaha untuk mengurangi tingkat polusi di Ibu Kota. Bagaimana bisa orang asing lebih cinta dengan kearifan lokal ketimbang warga pribuminya sendiri?