Beragam Poin ini Menjadi Pertimbangan Qantas dalam Uji Coba “Project Sunrise”

0
Sumber: qantasnewsroom.com.au

Project Sunrise yang dikembangkan oleh Qantas memang menyita banyak perhatian publik. Wajar saja adanya, mengingat ini merupakan calon penerbangan komersial terlama dengan jarak terjauh sepanjang masa – menghubungkan Melbourne dan Sydney di Australia dengan New York yang ada di Amerika dan London yang ada di Tanah Britania. Memang, rute ini belum beroperasi, namun serangkaian uji coba telah sukses dilaksanakan. Salah satu uji coba yang paling gaung diberitakan adalah penerbangan non-stop dari Sydney menuju New York yang dihelat pada bulan Oktober silam. Lalu, pelajaran apa yang bisa dipetik dari Project Sunrise ini? Akankah rute penerbangan ini menjadi kenyataan?

Baca Juga: Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman thenewdaily.com (20/11), Dr. Svetlana Postnova, seorang ahli saraf komputasi dari Charles Perkins Center di University of Sydney mengatakan bahwa serangkaian perlakuan khusus terhadap penumpang diterapkan pada uji penerbangan yang memakan waktu hingga lebih dari 19 jam tersebut – mulai dari pola makan, tingkat kecerahan cahaya di dalam kabin, hingga olahraga ringan yang wajib dilakukan oleh penumpang guna terhindar dari risiko terlalu lama duduk.

Tata Pencahayaan
Ambil contoh dari segi pencahayaan di dalam kabin, Dr. Svetlena melakukan percobaan dimana lampu di dalam kabin akan tetap menyala dalam tujuh jam pertama penerbangan – dimana pada penerbangan jarak jauh lainnya (lebih dari sembilan jam perjalanan), lampu kabin akan tetap menyala untuk beberapa jam di awal penerbangan, kemudian redup.

In-Flight Meals
“Dalam rentang waktu tujuh jam tersebut, penumpang akan disuguhi makan dua kali,”

Makanan yang pertama, menurut Dr. Svetlana, ditujukan agar penumpang bisa tetap terjaga. Sementara makanan kedua yang disajikan lebih kaya akan karbohidrat, dimana makanan ini sengaja dihidangkan agar penumpang merasa kenyang dan lalu mengantuk.

Sesaat setelah makanan kedua dihidangkan, lampu di dalam kabin akan diredupkan selama kurang lebih 10 jam berikutnya. Adapun alasan dari diredupkannya lampu ini adalah untuk ‘mengisyaratkan’ penumpang untuk tidur dan meminimalisir waktu perjalanan – alih-alih mereka tetap terjaga dan menonton film atau mendengarkan musik.

Lalu di dua jam terakhir penerbangan, penumpang akan bangun dan diinstruksikan untuk melakukan serangkaian olahraga ringan untuk merenggangkan badan. Kurang lebih seperti inilah yang terjadi di dalam kabin Project Sunrise. Tentu saja aktivitas di atas belumlah absolut, mengingat masih banyak data yang harus dianalisis terlebih dahulu oleh rekanan Qantas.

“Tentu saja kami masih harus mempelajari data yang diperoleh guna memahami kenyamanan dan pengalaman penumpang selama mengudara di Project Sunrise,” ujar Dr. Sveltana.

“Untuk masalah penganan dan aktivitas yang sudah diujicoba kemarin, semuanya bergantung pada Qantas (akan menjadikannya standar operasi atau tidak),” tandasnya.

Baca Juga: Pengadaan Moda “Sunrise Project,” Qantas Tolak Proposal Airbus dan Boeing

Project Sunrise ini bukanlah suatu uji coba biasa, dimana pihak Qantas akan menorehkan tinta emas di sejarah dirgantara global. Beragam persiapan hingga perhitungan matang terkait pengoperasian rute penerbangan ini kelak menjadi satu kunci kesuksesan yang akan diraih oleh Qantas.

Kendati masih bias, namun tidak menutup kemungkinan Qantas terpaksa mengurungkan niatnya jika memang Project Sunrise ini hanyalah buah dari ide gila para eksekutif yang kurang tepat untuk diterapkan.

Leave a Reply