Berubah Menjadi Perkampungan Warga, Pemprov Jawa Barat Yakin Bangun Kembali Jalur Kereta Rancaekek-Tanjungsari?

Jalur kereta Rancaekek-Tanjungsari (jabar.pojoksatu.id)

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui akun media sosialnya mengabarkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan melakukan reaktivasi empat jalur mati kereta api yang telah terlantar puluhan tahun. Jalur kereta di Jabar tersebut yakni Jakarta-Bandung-Pangandaran, Bandung-Ciwidey, Bekasi-Bandung-Garut dan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari Sumedang.

Baca juga: Reaktivasi Jalur Kereta Jawa Barat, Pertanda Peningkatan Sektor Pariwisata di Tanah Pasundan?

Dalam akunnya pun Ridwan Kamil menjelaskan reaktivasi jalur ini dalam rangka mendukung sektor pariwisata dengan menyediakan aksesibilitas menuju kawasan pariwisata di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Salah satu yang akan dibahas KabarPenumpang.com yakni jalur Rancaekek-Tanjungsari yang sudah mati lebih dari 70 tahun.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung mengatakan bahwa jalur ini kondisi sarana dan prasarananya sudah tidak layak untuk jalur kereta api. Apalagi sisa atau bekas adanya jalur kereta api pun tak terlihat.

“Sekarang sudah tidak layak, banyak rel yang sudah hilang, kemudian beberapa tempat sudah dipenuhi bangunan di atasnya,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 2 Bandung Joni Martinus yang dikutip dari laman tribunnews.com (17/9/2018).

Bahkan Joni mengatakan, saat jalur tersebut masih beroperasi, efektivitasnya sangat tidak maksimal untuk masyarakat. Sebab jalur ini berbeda dengan jalur lain yang masih efektif.

Tak hanya itu, pada masa kereta masih mengular di jalur Rancaekek-Tanjungsari, jalur tersebut kurang mendapat perawatan dari pemerintah karena cukup sulit melakukannya. Joni menambahkan, terkait wacana Pemprov yang akan melakukan reaktivasi jalur Rancaekek-Tanjungsari baiknya dilakukan perencanaan yang matang baik dari Pemprov, Kemenhub dan PT KAI sendiri.

Diketahui, jalur Rancaekek-Tanjungsari merupakan salah satu jalur kereta api non-aktif di Jabar dengan panjang lintasan 11,5 km. Jalur yang kini tanpa rel dan beralih fungsi menjadi perkampungan warga tersebut dibangun mulai tahun 1918 oleh Staatsspoorwegen dan mulai beroperasi 13 Februari 1921 silam.

Baca juga: Kolaborasi dengan Pemprov, PT KAI Akan Reaktivasi Empat Jalur Kereta di Jawa Barat

Dulunya saat masih beroperasi, jalur ini untuk mengangkut teh dan hasil bumi dari daerah Sumedang Barat. Sayangnya di masa pendudukan Jepang dari 1942 hingga 1945, jalur kereta ini dibongkar dan relnya dipindahkan untuk pembangunan jalur kereta api Saketi-Bayah di Banten yang memakan banyak korban jiwa.

Sebelum Ridwan Kamil, tahun 2015 lalu muncul wacana untuk mengaktifkan jalur ini dan dilanjutkan sampai Bandara Kertajati, sebagai bagian infrastruktur penghubung Cirebon-Bandung.