Bagi Anda yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang, momen lepas landas (takeoff) mungkin menjadi salah satu bagian yang paling mendebarkan sekaligus menakjubkan. Raungan suara mesin jet yang membahana ditambah dengan dorongan gravitasi yang menghempaskan tubuh ke sandaran kursi seolah menandakan bahwa monster besi tersebut sedang mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menembus langit.
Namun, sebuah fakta menarik di balik kokpit menunjukkan kondisi yang sebaliknya, di mana sebagian besar pesawat komersial modern sebenarnya jarang sekali menggunakan kekuatan mesin penuh (full power) saat lepas landas. Teknik yang dikenal luas di dunia aviasi sebagai Reduced Thrust Takeoff atau Flex Temp Takeoff ini telah menjadi standar operasi global bagi maskapai penerbangan, karena pada kenyataannya, menyemburkan tenaga maksimal dari mesin turbofan canggih sebagian besar waktu dinilai tidak terlalu diperlukan.
Alasan utama di balik penerapan teknik pengurangan daya dorong ini bermuara pada dua faktor krusial bagi sebuah maskapai, yakni keselamatan jangka panjang dan efisiensi biaya perawatan mesin. Mesin pesawat modern, seperti seri CFM LEAP atau Rolls-Royce Trent, dirancang dengan kapasitas daya dorong yang sangat masif agar pesawat mampu lepas landas dengan aman dalam kondisi paling ekstrem sekalipun, seperti saat membawa beban maksimal di landasan pendek atau saat cuaca sangat panas.
Pasca Lepas Landas Kecepatan Pesawat Justru Melambat, Ini Penjelasannya
Ketika pesawat beroperasi dalam kondisi normal dengan landasan pacu yang panjang dan cuaca yang mendukung, komputer pesawat atau Flight Management Computer (FMC) akan mengalkulasi ulang kebutuhan daya yang optimal. Dengan menurunkan daya dorong sekitar 10 hingga 25 persen dari kapasitas maksimalnya, suhu internal mesin jet dapat dijaga agar tidak menyentuh batas kritis, yang secara otomatis memperpanjang usia pakai komponen sensitif di dalam mesin, mengurangi risiko kegagalan mekanis saat lepas landas, serta menekan biaya perawatan mesin (engine overhaul) yang terkenal sangat mahal.
Selain menjaga keawetan mesin, teknik Reduced Thrust Takeoff ini juga memegang peranan penting dalam strategi efisiensi bahan bakar dan pelestarian lingkungan. Meskipun pengurangan konsumsi bahan bakar saat fase lepas landas yang singkat ini terlihat tidak terlalu signifikan, akumulasi penghematan dari ribuan penerbangan yang dilakukan sebuah maskapai setiap harinya mampu memangkas biaya operasional dalam jumlah yang sangat fantastis.
Tidak hanya itu, penggunaan daya mesin yang disesuaikan ini juga berdampak langsung pada penurunan emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Keuntungan lingkungan ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar bandara, karena pesawat yang lepas landas dengan daya yang dikurangi akan menghasilkan tingkat polusi suara (noise pollution) yang jauh lebih rendah, sehingga penerbangan terasa lebih ramah bagi lingkungan sekitarnya.
Kendati demikian, keputusan untuk tidak menggunakan tenaga penuh ini bukanlah sebuah tindakan spekulatif yang mengorbankan keselamatan penerbangan demi mengejar keuntungan finansial semata. Sebelum pesawat bergerak menuju landasan pacu, pilot dan sistem komputer akan menghitung variabel yang sangat kompleks, mulai dari berat total pesawat, panjang landasan yang tersedia, kecepatan angin, hingga suhu udara di bandara saat itu.
Jika semua parameter tersebut menunjukkan bahwa pesawat dapat mengudara dengan aman sebelum menyentuh ujung landasan, barulah teknik pengurangan daya ini diaplikasikan.
Sebaliknya, penggunaan tenaga mesin penuh 100 persen tetap bersifat wajib dan mutlak dilakukan apabila pesawat menghadapi situasi darurat tertentu, seperti lepas landas dari bandara dataran tinggi dengan udara tipis, cuaca buruk dengan potensi windshear, kondisi landasan yang basah atau licin, hingga kegagalan fungsi pada salah satu mesin di mana mesin yang tersisa harus langsung digenjot ke performa maksimal demi menyelamatkan pesawat.
Tahukah Anda, Pesawat Take-off dengan Kecepatan Rendah Bisa Berujung Petaka
