Bisakah MD-11 Tetap Terbang Bila Kedua Mesin di Sayap Rusak? Simak Jawabannya

0
MD-11 Garuda Indonesia.

McDonnell Douglas MD-11 memang hanya terjual 200 unit sejak pertama kali terbang perdana pada 10 Januari 1990; sangat sedikit bila dibandingkan dengan DC-10 sebanyak 400 unit atau trijet Boeing 727 sebanyak 1.832 unit. Namun, pesawat trijet pengembangan dari DC-10 ini nyatanya merupakan salah satu pesawat widebody terpopuler di zamannya.

Baca juga: McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Meski populer, publik sempat ragu untuk menumpangi MD-11. Umumnya keraguan itu muncul ketika kedua mesin sayap pesawat diasumsikan mengalami kerusakan dan hanya menyisakan satu mesin di bagian ekor, akankah MD-11 tetap bisa terbang setidaknya untuk melakukan pendaratan darurat atau sebaliknya, pesawat kehilangan ketinggian dan menghantam keras daratan?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, tidak ada salahnya kita membahas aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) terlebih dahulu. Sebab, keduanya (ETOPS dan pertanyaan di atas) sangat terkait.

Dilansir Simple Flying, ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) pada dekade 70an, saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Begitu juga dengan pesawat trijet dan quadjet, ETOPS, dikemudian hari, menantang mereka semua untuk terbang dengan satu mesin.

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satu atau seluruhnya kecuali menyisakan satu mesin, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Karena MD-11 merupakan pesawat yang muncul pada dekade 90an, sudah pasti ia sudah mendapat sertifikasi ETOPS. ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370 menit terbang dengan satu mesin. Adapun sertifikasi ETOPS MD-11 tidak disebutkan secara detail.

Atas pertanyaan di awal, MD-11 dipastikan tetap bisa terbang meskipun hanya dengan satu mesin. Persoalannya justru bukan tetap bisa terbang dengan satu mesin atau tidak, melainkan, berapa lama MD-11 bisa terbang hanya dengan satu mesin dan sayangnya tak ada jawaban pasti untuk ini karena keterbatasan informasi ETOPS pesawat itu.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Sekalipun kasusnya tak begitu persis dengan kenyataan di atas, MD-11 belum lama ini dilaporkan pernah mengalami kerusakan pada salah satu mesinnya. Disebutkan, FedEx MD-11F mengalami kerusakan mesin sebelah kiri tak lama setelah lepas landas dari Bandara Memphis, Tennessee, Amerika Serikat (AS). Dengan menyisakan kedua mesin, pesawat itu berhasil turn around dan mendarat mulus di bandara semula.

Menurut Aviation Safety Network, MD-11 telah terlibat dalam 32 kecelakaan sejak 1993. Namun, mayoritas dari jumlah tersebut berkenaan dengan sistem kontrol penerbangan pesawat, bukan kerusakan mesin.