Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

0
Boeing 747 Combi. Foto:

Di masa pandemi virus Corona, maskapai di seluruh dunia membutuhkan fleksibilas tinggi di setiap pesawat. Saat penerbangan penumpang sepi, maskapai bisa fokus untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari penerbangan kargo. Tetapi, bila waktu-waktu penerbangan penumpang ramai, maskapai bisa mengkonfigurasi ulang pesawat dengan mudah. Seperti yang ditawarkan Boeing 747 Combi.

Baca juga: Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!

Sejak terbang perdana dari Paine Field di Everett, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat (AS) pada 9 Februari 1969, pamor Boeing 747 terus meningkat tajam. Dalam sekejap, pesawat itu sudah mudah ditemui di seluruh bandara di dunia dengan livery beragam maskapai.

Selain fokus menggarap pasar penerbangan penumpang, Boeing juga memproyeksikan Queen of the Skies Boeing 747 sebagai angkutan kargo andal melalui Boeing 747 Combi. Boeing resmi meluncurkan Boeing 747 Combi pada dekade 70an. Pesawat ini menjanjikan fleksibilitas tinggi dimana kombinasi ruang kargo dan penumpang bisa dibuat setara ataupun lebih besar di salah satunya, sesuai dengan permintaan.

Boeing 747-200M tercatat sebagai versi Combi pertama perusahaan. Pesawat ini menawarkan operator untuk mengangkut barang di bagian belakang pesawat lewat pintu samping sekaligus mengangkut penumpang maksimal 238 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Para penumpang tak perlu khawatir akan terganggu dengan adanya kargo tersebut. Sebab, antara penumpang dan kargo terdapat sekat partisi yang memisahkan suasana kabin penumpang dengan kargo.

Nyaris serupa dengan Boeing 747-200M, saudara kandungnya, Boeing 747-300M, juga menawarkan demikian. Maskapai dapat mengatur konfigurasi kargo dan penumpang dengan fleksibel. Bedanya, pesawat itu menawarkan akses masuk yang lebih mudah, seperti pintu kargo di belakang dan samping, serta pintu masuk penumpang di bagian depan. Selain itu, Boeing 747-300M Combi juga lebih membuat penumpang nyaman dengan keberadaan dek atas.

Tak puas dengan capaian yang ada, Boeing kembali tancap gas. Laporan Simple Flying, pabrikan asal AS ini meluncurkan Boeing 747-400M Combi dan dioperasikan untuk pertama kali oleh KLM, dua bulan setelah Queen of the Skies tercanggih dan terlaris, 747-400, itu dikirim pada Februari 1989 ke maskapai Northwest Airlines.

Baca juga: Terjadi Lagi, Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo Gegara Penerbangan Loyo

Sampai berita ini ditulils, ketiga pesawat, yakni 747-200M, -300M, 747-400M, masing-masing telah terjual sebanyak 78, 21, dan 61 unit. Pengguna terbanyak pesawat ini datang dari maskapai nasional Belanda, KLM, diikuti oleh Air France dan Lufthansa. Selain ketiganya, ada Air Canada, Air India, Alitalia, Qantas, SAA, dan Varig yang juga menjadi operator langganan Boeing 747 Combi.

Dari total 160 unit Boeing 747 Combi, saat ini, hanya ada 10 pesawat yang beroperasi dan semuanya dilakukan oleh KLM. Namun, karena pesawat sudah cukup tua, maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi ini berencana untuk mempensiunkan pesawat itu pada 2021 mendatang.

Leave a Reply