Borong 300 Pesawat dari Airbus, Inikah Strategi Cina Menangkan Perang Dagang dengan AS?

Presiden Perancis, Emmanuel Macron (kiri) dan Presiden Cina, Xi Jinping (kanan). Sumber ABC News

Presiden Cina, Xi Jinping telah menandatangani pembelian 300 pesawat Airbus mode A320 dan A350 XWB ketika dirinya menyambangi Paris pada Senin (25/3/2019) kemarin. Adapun kesepakatan pembelian 300 pesawat ini – 290 pesawat Airbus A320 dan 10 pesawat A350 XWB, bernilai US$34 miliar. Tidak hanya seputar pembelian pesawat saja, Perancis juga bersepakat dengan Cina untuk mengekspor ayam beku ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

Baca Juga: Tandingi Airbus, Boeing Akan Resmikan Pabrik Finishing 737 di Cina

“Kami merasa terhormat diberi kesempatan mendukung pertumbuhan penerbangan sipil Cina dengan pesawat terbang terkemuka kami,” ujar Chief Operating Officer Airbus, Guillaume Faury, dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (26/3/2019).

“Jejak kaki kami yang berkembang di Cina menunjukkan kepercayaan abadi kami pada pasar Cina dan komitmen jangka panjang kami kepada Tiongkok dan mitra kami,” tandas Guillaume.

Sementara itu, para eksekutif yang turut hadir dalam acara penandatanganan tersebut mengatakan bahwa, “ini sinyal yang sangat baik dari kekuatan perdagangan antara dua negara,”

Senada dengan pernyataan tersebut, Presiden Perancis Emmanuel Macron berharap kesepakatan yang berhasil dicapai Cina dan negaranya tersebut ke depan bisa memperkuat kemitraan Perancis dan Eropa dengan Cina.

“Tapi kemitraan yang kuat harus dilandaskan pada multilateralisme yang kuat, adil dan seimbang,” ujar Presiden Emmanuel Macron, dikutip dari laman sumber lain.

Di sisi lain, Presiden Xi Jinping mengatakan bahwa untuk bisa memperkuat kerja sama, negara yang menganut azas komunisme tersebut butuh peran dari Eropa yang bersatu dan makmur. Agar kesatuan dan kemakmuran tersebut bisa tercipta, ia meminta Eropa untuk mengadopsi strategi yang diterapkan negaranya – program Jalur Sutera Modern.

Patut diketahui, program yang bergerak di bawah kendali dari Presiden Xi Jinping ini sebelumnya telah diikuti oleh Italia yang telah menandatangani kontrak kerja sama guna menyukseskan program tersebut. Proyek pengadaan dalam jumlah besar ini turut mendorong ToT (Transfer of Technology), seperti langkah pembangunan pusat riset Airbus dan Huawei yang dibangun di Shenzhen.

Baca juga: Airbus Gandeng Huawei Kembangkan Pusat Riset dan Inovasi di Shenzhen

Tentu saja, pemborongan armada Airbus oleh Cina ini menjadi sinyal buruk bagi rival abadi Airbus, Boeing. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, Boeing tengah terpuruk akibat dua kecelakaan pesawat berjenis 737 MAX 8 – Lion Air dan Ethiopian Airlines dalam rentang waktu lima bulan.

Selain itu, apakah ini salah satu strategi yang ditempuh Cina untuk memenangkan perang dagang yang selama ini berkecamuk antara Negeri Tirai Bambu dan Negara Adikuasa, Amerika Serikat?