Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing!

0
Rusdi Kirana. Sumber: Tribun

Insiden jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018) silam ternyata berbuntut panjang. Aksi saling tuduh siapa ‘dalang’ di balik insiden jatuhnya pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP ini tak pelak menjadi sorotan sejumlah media. Namun, apabila merujuk pada penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kurangnya perhatian dari pihak Lion terhadap armadanya inilah yang menjadi akar dari jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8.

Baca Juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, pesawat ini sebenarnya sudah mendapatkan predikat ‘tidak laik’ beroperasi pada beberapa penerbangan sebelumnya – Denpasar menuju Jakarta (Cengkareng). Dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (30/10/2018), catatan teknis pesawat nomor penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng menyebutkan data kecepatan pesawat saat mengudara pada instrumen kapten pilot tidak dapat diandalkan. Bahkan data ketinggian yang tertera pada instrumen kapten pilot dan kopilot berbeda.

Berdasarkan hasil investigasi KNKT tersebut, pihak Lion Air semakin terpojok. Kondisi ini semakin bertambah runyam manakala pendiri Lion Air, Rusdi Kirana sangat marah atas langkah yang diambil pihak Boeing yang seolah mengalihkan perhatian dari fokus pembicaraan dan terkesan menyalahkan Lion Air atas kecelakaan yang merenggut nyawa lebih dari 180 orang ini.

Dampak panjang dari insiden jatuhnya Lion Air JT610 ini adalah adanya isu pembatalan sejumlah pemesanan armada Lion Air terhadap Boeing. Merujuk pada laman Reuters, Rusdi Kirana mengatakan adanya kemungkinan untuk melakukan pembatalan pemesanan tersebut. Enggan gegabah, Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan dirinya belum dapat memastikan apakah pihak maskapai berlogo kepala singa ini akan melakukan pembatalan tersebut.

“Kalau mengenai bisnis apapun bisa terjadilah,” tutur Edward.

“Saya tidak mengatakan ya atau tidak [batal beli pesawat Boeing], tapi dari situasi ini kan kita akan mempelajari semua informasi dan data-data yang memang berkembang terkait dengan kejadian ini,” tandasnya.

Edward juga menambahkan bahwa jumlah pesawat yang sudah dipesan oleh pihak Lion Air, namun belum dikirim oleh Boeing hingga saat ini mencapai angka lebih dari 200 unit. Adapun moda dari pesawat-pesawat tersebut mencakup Boeing 737 Max 8, 9, dan 10.

Ketika ditanya terkait dengan jadwal pengiriman pesawat-pesawat itu, Edward mengatakan, “Saya tidak mengatakan sudah ya. Tapi yang dikatakan media asing ini saya akan konfirmasi dulu ke sumber beritanya, apakah beliau pernah mengatakan itu. Tapi dari keadaan, bisa saja.” dikutip dari laman sumber lain.

Baca Juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini, jumlah armada Lion Air yang belum dikirim oleh pihak Boeing mencapai angka 190 unit, yang jika dikonversi menjadi ke dalam nomial rupiah, nilainya mencapai Rp314 triliun.

Jumlah backlog (pesanan pesawat yang belum terkirim) di hanggar Boeing sendiri di penghujung tahun 2017 sendiri menyentuh angka 5.864 unit – jumlah yang merepresentasikan sekitar 7 tahun produksi.

 

Leave a Reply