Canggih! Airbus Kembangkan Sensor ‘Ubur-ubur’ untuk Deteksi Virus Corona dan Bahan Peledak

0
Bersama perusahaan asal AS, Koniku Inc, Airbus tengah mengembangkan teknologi sensor dengan rupa mirip ubur-ubur untuk mendeteksi corona dan bahan peledak melalui bau. Nantinya, sensor tersebut akan disebar di bandara dan di pesawat sebagai garis pertahan akhir terhadap ancaman keamanan. Foto: Airbus via Financial Times

Airbus berencana menyebar sensor dengan rupa mirip ubur-ubur di banyak tempat di bandara. Sensor ini diklaim dapat meniru kemampuan anjing mengendus bau bom untuk mendeteksi bahan kimia berbahaya dan bahan peledak dengan menggunakan teknologi “game-changing” yang terbentuk dari sel biologis hidup yang dapat “mencium” senyawa molekuler.

Baca juga: KunKun – Alat Pendeteksi Bau Badan, Seperti Apa Cara Kerjanya?

Dengan menggandeng Koniku Inc, sebuah perusahaan neuroteknologi di Bay Area California utara, Amerika Serikat (AS), produsen pesawat asal Eropa ini menyebut akan menempatkan beberapa alat pendeteksi bau di titik-titik pengecekan bandara akhir tahun ini. Selain itu, sensor-sensor pendeteksi bau tersebut pun juga akan disebar di pesawat sebagai wujud dari keamanan berlapis atau garis pertahanan terakhir terhadap ancaman keamanan.

Menariknya, sensor ‘ubur-ubur’ Airbus ini tidak hanya mampu mendeteksi bau bahan berbahaya sejenis bahan peledak saja, melainkan juga diproyeksi untuk memungkinkan mendeteksi virus menular seperti virus corona (Covid-19). Hal ini berkat eksplorasi kemampuan deteksi sensor dalam memasukkan bahaya biologis sebagai salah satu daftar ‘terlarang’ sehingga dapat mendeteksi manusia pengidap penyakit menular.

Dengan teknologi “game-changing” yang terbentuk dari sel biologis hidup yang dapat “mencium” senyawa molekuler, sensor ini diklaim mampu mendeteksi penyakit menular dan bahan peledak. Foto: Airbus via Financial Times

“Teknologi ini memiliki kemampuan respons (terhadap bau) sangat cepat di bawah 10 detik saat dalam kondisi terbaik. Dengan tingkat kemampuan kami, ini adalah hasil yang luar biasa dan mudah-mudahan akan terus bisa dikembangkan seiring berjalannya waktu,” kata Julien Touzeau, kepala product security untuk Amerika di Airbus, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Financial Times.

Teknologi mesin dengan kemampuan melihat, mendengar, menyentuh, bergerak, dan bahkan berpikir layaknya manusia, lanjut Touzeau, adalah hal biasa. Tetapi, kemampuan untuk memahami aroma atau bau sangat sulit. Upaya untuk menciptakan ‘smell cameras’ atau ‘kamera bau’ untuk menangkap bau dan mengolahnya menjadi sebuah hasil akhir untuk merekomendasikan sebuah tindakan selama ini dinilai belum mendekati level kemampuan pada manusia.

Selain itu, upaya menciptakan ‘electronic noses’ atau ‘hidung elektronik’ untuk menggusur kemampuan anjing dalam mendeteksi dan melacak bau selama ini juga tidak banyak berhasil. Anjing yang terlatih, menurut Harvard Health, dinilai nyaris tak pernah salah dalam mendeteksi kanker prostat saat dihadapi dengan sampel urin pasien, bahkan pasien tanpa gejala sekalipun.

Secara terpisah, Airbus sendiri meyakini bahwa teknologi Koniku Inc belum dilakukan di belahan bumi lainnya. Manufaktur pesawat asal Eropa ini juga mengatakan bawah apa yang membuat teknologi Koniku Inc unik adalah ia membangun prosesor silikon ditambah dengan sel-sel hidup. Salah satunya seperti sensor mirip ubur-ubur berwarna ungu ini. Saat ini, sensor pendeteksi virus corona dan bahan peledak ini prototipenya sudah tersedia dan masih terus melakukan beberapa langkah uji coba meniru proses penciuman bau secara natural, layaknya manusia dan binatang.

“Titik awal untuk Koniku adalah konsep ini, ‘biologi adalah teknologi’,” kata Oshiorenoya ‘Osh abi Agabi, seorang fisikawan kelahiran Nigeria yang juga founder Koniku Inc pada tahun 2015 silam.

“Kami telah mengembangkan teknologi yang dapat mendeteksi bau dengan menghirup udara, dan memberi tahu manusia apa yang ada di udara. Kami mengambil sel biologis, baik sel Hek atau astrosit (sel otak) dan kami secara genetik memodifikasinya untuk memiliki reseptor penciuman, layaknya hidung pada manusia,” lanjutnya.

Baca juga: Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang

Di masa lalu, tepatnya setelah insiden 11 September 2001, ilmuan pun mulai mencari cara bagaimana bahan peledak dapat terdeteksi. Kala itu, mesin puffer sempat diandalkan oleh otoritas bandara di banyak negara di dunia selama beberapa tahun dengan cara menghembuskan udara ke setiap orang ketika melewati titik pengecekan tertentu. Dari situ diharapkan, partikel bahan peledak yang terlepas ke udara dapat terlacak. Pada 2010, ilmuan pun menyimpulkan bahwa alat tersebut tidak dapat diandalkan untuk mendeteksi bahan peledak.

Seiring berjalannya waktu, teknologi pendukung lainnya pun mulai ditemukan. Tak terkecuali dengan teknologi ‘smell cameras’. Atas dorongan untuk memenuhi peraturan ketat terkait operasional keselamatan dan keamanan di dunia penerbangan, pada 2017 lalu, Airbus pun menjalin kemitraan dengan Koniku Inc.

Leave a Reply