Cari Pecel Pincuk? Yuk Ke Stasiun Garahan!

Stasiun Garahan yang eksotis

Pecel pincuk merupakan makanan asal Madiun, Jawa Timur dan disajikan dengan daun pisang yang dibuat pincuk. Isinya pun menggunakan daun pepaya, sayuran rebus, taburan serundeng kelapa dan kacang goreng serta lauk pauk seperti tempe goreng, telur asin dan lainnya.

Baca juga: Stasiun Cibungur, Kembali Jadi Terminal Peti Kemas

Pecel pincuk yang asli bisa ditemukan di salah stasiun kecil di daerah Garahan, Silo di Jawa Timur yakni stasiun Garahan. Di stasiun kecil yang masuk dalam Daerah Operasional IX Jember ini pelancong bisa menemukan nasi pecel pincuk di sekitaran stasiun bahkan di peron.

Di stasiun ini nasi pecel pincuk taklah terlalu mahal, pada tahun 2012 lalu harga seporsi pecel pincuk ini Rp1000 hingga Rp2500 mungkin sekarang sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per porsinya. KabarPenumpang.com mendapatkan kabar, meski murah, tetapi ternyata pecel pincuk ini membuat banyak pelancong rela menempuh ratuasan kilometer demi menikmatinya, bahkan pecel pincuk ini terdengar sampai ke Amerika.

Pecel pincuk di stasiun Garahan

Sehingga stasiun kecil yang berada di ketinggian 598 meter dan menjadi stasiun yang terletak tertinggi di Daop IX ini semakin dikenal. Meski kecil, stasiun yang dekat dengan kaki Gunung Gumitir ini memiliki pemandangan yang asri dan udaranya segar.

Stasiun Garahan sendiri sudah berdiri sejak tahun 1901 dan nyaris tidak ada renovasi apapun pada bangunannya. Stasiun ini bersih dan kerapiannya sangat terjaga hingga nyaris tak ada sampah.

Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Stasiun ini dulu sempat melayani dua pemberhentian kereta api yakni Pandanwangi dan Probowangi. Namun sejak 1 April 2015 lalu tidak ada kereta api reguler yang berhenti di stasiun ini kecuali persilangan atau persusulan antar kereta api.

Kini stasiun Garahan hanya melayani perhentian Lori Wisata Kaliraga yang beroperasi pada akhir pekan dan libur nasional. Meski begitu penikmat kereta api yang mampir ke stasiun ini bisa merasakan keindahan alam saat berdiri diantara rel dan menatap Gunung Argopuro.

Selain pemandangan, stasiun ini juga bisa membantu dalam memperkaya wawasan sejarah. Stasiun Garahan masih menggunakan peralatan karena dibangun pada masa Indonesia di jajah Belanda.