Cegah Bird Strike, Bandara Schiphol Belanda Kerahkan Puluhan Babi

0
Ilustrasi bird strike. Foto: Istimewa

Pendekatan tiap bandara dalam mencegah bird strike sangat beragam. Di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, cara jitu mencegah bird strike bukan dengan robot, drone, atau teknologi canggih lainnya, melainkan dengan mengerahkan puluhan babi hidup ke ladang di sekitar runway.

Baca juga: Cara Jitu Cegah Bird Strike di Sekitar Bandara, Kerahkan Robot Pemotong Rumput

Bird strike atau tabrakan dengan kawanan burung pada umumnya kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Singkatnya, bird strike mayoritas terjadi di sekitar bandara. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter.

Di Amerika Serikat, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Oleh karenanya, manajemen pengelolaan bandara dalam kaitannya dengan upaya pencegahan bird strike harus dilakukan secara maksimal.

Di Bandara Sola, Norwegia, sejak tahun 2017 silam, pengelola bandara mengerahkan robot pemotong rumput untuk mencegah bird strike. Rumput dijaga agar tetap rendah dan membuat kawanan burung enggan mampir di sekitar runway.

Lain lagi dengan Bandara Internasional Edmonton, Kanada. Di sini, cara mencegah bird strike ialah dengan mengandalkan robot menyerupai Elang Peregrine atau yang dikenal sebagai The Robird Drone.

Berbeda dengan dua bandara di atas yang mengandalkan teknologi, Bandara Schiphol, yang biasanya terdepan dalam urusan inovasi teknologi bandara, justru mengerahkan puluhan babi hidup. Babi-babi itu di tempatkan di dekat dua dari enam runway yang ada, beroperasi di area seluas 2.787 hektar.

Dilansir The Register, babi-babi tersebut tak dihadirkan setiap hari selama setahun, melainkan di musim-musim tertentu saja selam enam pekan dan 12 jam.

Selama di ladang gula, padi, dan rerumputan di sekitar runway atau bandara, babi-babi dibiarkan hidup bebas, menghabiskan sisa-sisa panen gula, rumput, dan sebagainya. Dengan begitu, burung-burung tidak lagi tertarik untuk menghampiri ladang di sekitar runway atau bandara, di samping juga segan dengan keberadaan babi tersebut.

“Babi-babi itu segera dibawa ke ladang dalam waktu 12 jam setelah panen gula bit pada hari Selasa,” kata Josse Haarhuis, pemilik babi dan pemilik Buitengewone Varkens kepada surat kabar Belanda De Telegraaf .

“Mereka memakan sisa-sisa tanaman, sehingga tidak ada yang tersisa untuk diambil angsa,” tambahnya.

Geografi Bandara Schiphol memang mengundang banyak burung, termasuk angsa, ke sekitar bandara. Maskapai nasional Belanda, KLM, mencatat, pada 2019, ada sekitar 6,6 bird strike per 10 ribu pergerakan pesawat.

Baca juga: The Robird Drone, Robot Penangkal Bird Strike di Bandara Edmonton

Tak heran, dengan kondisi ini, Bandara Schiphol sudah lama mempekerjakan divisi khusus pemantau bird strike yang dibekali radar canggih sebanyak 20 orang.

Selain babi, Bandara Schiphol juga menggunakan berbagai cara dalam menangkal bird strike, seperti laser hijau, rumput sintetis, jaring, meriam gas, sampai orang-orangan sawah.