CEO airBaltic: Airbus A220 Jadi Pesawat Sempurna Pasca Pandemi Corona, Gegara Hal Ini?

0
Airbus A220 airBaltic. Foto: Getty Images via Simple Flying

CEO airBaltic, Martin Gauss, meyakini bahwa Airbus A220 akan menjadi pesawat yang sempurna bagi maskapai pasca pandemi virus Corona. Dalam kasus maskapai yang dipimpinnya, efisiensi tinggi serta dimensi atau kapasitas yang tepat benar-benar telah memberikan dampak positif bagi maskapai asal Latvia itu. Karenanya, airBaltic berencana menambah 50 A220 lagi pada tahun 2025.

Baca juga: Hadapi ‘Ruwetnya’ Penerbangan 20 Tahun Mendatang, Airbus Optimis Produksi 4 Ribu Unit Seri A220

Dalam sebuah wawancara dengan Peter Harbison, CEO CAPA, baru-baru ini, Martin Gauss membeberkan sederet alasan mengapa Airbus A220 disebut jadi pilihan sempurna maskapai. Selain efisiensi bahan bakar sampai 20 persen -jauh lebih baik daripada pesawat sejenis- pesawat yang pertama kali terbang (first flight) pada 16 September 2013 lalu itu juga diperkuat dengan jangkauan menengah (sekitar tujuh jam perjalanan).

Terkait dua itu, pihak Airbus sendiri menyebut bahwa varian ini memang lebih efisien dalam hal penggunaan bahan bakar lantaran adanya perubahan perhitungan dari segi aerodinamikanya. Pun dengan bahan baku pembuatan pesawat yang lebih ringan, dan penggunaan jenis mesin baru.; termasuk juga dari segi jangkauan terbang.

Tak ayal, meskipun berstatus sebagai narrow body, secara umum, Airbus A220 dapat melakoni tugas yang sama dengan Boeing 787 Dreamliner.

Melengkapi dua itu, A220 juga dinilai jadi pilihan sempurna karena kapasitasnya yang pas untuk demand penumpang saat ini. Disebutkan A200 memiliki dua varian, A220-100 dengan kapasitas antara 108 dan 133 penumpang, serta A220-300 yang mampu menampung antara 130 dan 160 orang.

Kolaborasi efisiensi bahan bakar tinggi, jangkauan terbang menengah, serta efektivitas kursi-lah yang pada akhirnya membawa perubahan besar pada airBaltic. Maskapai memandang, di tengah pandemi seperti sekarang ini ataupun pasca pandemi nanti, penumpang cenderung akan bepergian tak terlalu jauh ke seberang benua. Sudah begitu, rata-rata dari mereka menginginkan penerbangan langsung point-to-point, bukan penerbangan transit atau sistem hub and spoke.

Dengan gambaran tersebut, mengoperasikan pesawat narrowbody dengan kemampuan setara widebody merupakan pilihan sempurna untuk mencetak keuntungan.

Baca juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner

“Jika Anda memiliki jumlah penumpang yang sangat, sangat tinggi, Anda lebih suka memiliki pesawat 239 kursi, karena dengan demikian biaya per kursi Anda turun. Tapi saat ini kami tidak melihatnya. Dan saya pikir cukup lama, jumlah penumpang yang sangat tinggi ini dari satu poin ke poin lainnya tidak ada, dan oleh karena itu saya lebih memilih 145 kursi. Saya sangat senang memiliki kelas bisnis dan ekonomi biaya sangat rendah digabungkan dalam satu pesawat,” jelas Martin Gauss, seperti dikutip dari Simple Flying.

Saat ini, airBaltic memiliki total 23 Airbus A220-300. Maskapai berencana mendatangkan kembali 50 pesawat twin jet yang sebelumnya dikenal sebagai Bombardier Cseries ini pada 2025 mendatang.

Leave a Reply