China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380

0
China Southern saat ini menjadi satu-satunya maskapai yang masih mengoperasikan Airbus A380 sebagai layanan komersial terjadwal. Foto: Getty Images via Simple Flying

Salah satu dari maskapai terbesar di Cina (bersama Air China dan China Eastern), China Southern dikabarkan menjadi maskapai satu-satunya di dunia yang masih mengoperasikan pesawat komersial terbesar sejagat, Airbus A380. Kepastian itu didapat setelah maskapai yang bermarkas di Guangzhou tersebut melakukan penerbangan ke Sydney, Australia pada Sabtu lalu.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Dikutip dari laman Simple Flying, armada A380 milik China Southern berangkat Sabtu malam dari Guangzhou dan tiba di Sydney pada Minggu pagi waktu setempat. Belum jelas berapa load faktor pada pesawat dengan nomor penerbangan CZ325 tersebut. Namun demikian, sebuah sumber menduga bahwa load factor mungkin tak terlalu rendah, juga tak terlalu tinggi, berkisar 50 persen.

Pasalnya, dengan beban biaya operasional tinggi, setidaknya mencapai sebesar Rp464 juta per jam, menerbangankan A380 dengan load factor rendah dan jarak tempuh yang cukup jauh, sekitar 10 jam hanya akan menambah beban keuangan perusahaan di tengah lesunya penerbangan di seluruh dunia.

Meskipun hanya menerbangkan A380 sekali dalam seminggu, keberhasilan China Southern untuk tetap terus mengoperasikan pesawat tersebut tentu cukup mengejutkan banyak pihak. Selama ini, jawara A380 masyhur dipegang oleh maskapai besar dunia dengan reputasi tinggi, seperti ANA, British Airways, Qatar Airways, Lufthansa, Qantas, dan Etihad Airways.

Pada masa pandemi corona, tercatat maskapai-maskapai tersebut memang telah menghentikan operasional armada A380 mereka sejak Maret lalu. Khusus untuk Qantas, maskapai asal Australia tersebut dikabarkan sampai memutuskan untuk ‘mempensiunkan dini’ atau menggrounded delapan dari 12 armada Airbus A380-nya selama enam bulan ke depan.

Senada dengan Qantas, British Airways juga sepertinya juga akan menggrounded armada A380-nya dalam jangka waktu yang cukup lama atau mungkin menggrounded secara permanen. Kabar tersebut mulai menjadi perbincangan hangat setelah British Airways menerbangkan seluruh armada A380-nya ke Bandara Chateauroux, Perancis, sebelah selatan Kota Paris.

Lufthansa kondisinya lebih miris lagi. Maskapai terbesar di Eropa tersebut, setelah pada tahun 2019 menyalip IAG yang terdiri dari British Aiways, Iberia, Aer Lingus, Level, Vueling dan Anisec serta Air France-KLM, dikabarkan harus merelakan kepergian enam dari 14 armada Airbus A380. Pesawat-pesawat tersebut sudah diputuskan untuk pensiun secara permanen dan akan dijual kembali ke Airbus pada tahun 2022. Sisanya, sampai saat ini masih belum ada kejelasan kapan akan kembali mengudara, mengingat kondisi wabah virus Cina yang masih mengancam sebagian besar dunia.

Meski demikian, dengan kembali bergairahnya industri penerbangan di Cina, maskapai penerbangan di dunia diharapkan dapat memanfaatkan ceruk pasar jaringan penerbangan global yang melibatkan Negeri Tirai Bambu tersebut.

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Harga Airbus A380 Bekas Turun Drastis

Bandingkan dengan tren di Cina yang notabene terus mengalami peningkatan dalam tempo empat pekan beruntun. OAG mencatat, titik terendah industri penerbangan Cina terjadi pada hari Minggu, 17 Februari, ketika perjalanan udara terkoreksi turun 70,8 persen.

Namun, sejak saat itu perlahan mulai merangkak naik dengan penurunan menjadi hanya sekitar 40 persen untuk dua pekan pertama di bulan Maret. Bahkan untuk dua minggu terakhir angkanya lebih sedikit lagi. Minggu ketiga, mulai 16 Maret, penurunan penerbangan di Cina turun menjadi 38,7 persen. Minggu terakhir yang dianalisis oleh OAG menunjukkan lalu lintas turun menjadi hanya tinggal 37,5 persen. Masih tergolong lambat memang, tetapi pasti.

Leave a Reply