Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?

0
Ilustrasi - Sumber: therogueaviator

Pandemi Covid-19 bikin industri penerbangan luntang-lantung. Catatan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Dampaknya, sudah pasti, PHK massal dirasakan oleh maskapai serta industri penerbangan di seluruh dunia. IATA menyebut, sektor penerbangan, yang notabene menopang 65 juta pekerjaan (sebelum dihantam corona) kehilangan 25 juta pekerja, mulai dari karyawan pusat, staf darat, awak kabin, teknisi, hingga pilot.

Khusus untuk pilot, PHK massal yang terjadi mungkin menjadi anomali tersendiri. Betapa tidak, teringat di waktu kecil, dimana seringkali pilot menjadi cita-cita favorit (kalau tidak ingin disebut idaman) oleh mayoritas anak-anak ketika ditanyai orang dewasa, baik guru maupun orang tua. Bahkan, profesi pilot, dengan segudang glamouritas yang ditonjolkan, juga menjadi profesi idaman di kalangan remaja.

Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut mungkin bisa dikatakan berubah, terlebih pasca wabah Covid-19 seperti sekarang ini. Hampir dapat dipastikan profesi pilot sementara waktu atau mungkin sampai lima tahun mendatang sepi peminat. Smartfast, misalnya, salah satu sekolah pilot swasta yang memiliki cabang di Jakarta, Pekanbaru, Jambi, dan Yogyakarta serta memiliki jaringan hingga Negeri Jiran Malaysia, mau tak mau juga ikut terdampak pandemi corona.

Direktur Quality Control Smartfast, Capt. Eko, menyebut, sekalipun pendidikan pilot (pilot preparation) tetap berjalan, namun, ia mengakui bahwa pihaknya juga ikut terdampak.”Terdampak juga walaupun tak begitu signifikan,” jelasnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (17/7). Diyakni, sekolah pilot lainnya juga ikut terdampak. Adapun besar kecilnya dampak tersebut bergantung pada jejaring masing-masing sekolah dalam menjerat peserta didik baru.

Meskipun kebanyakan sekolah pilot meyakinkan calon peserta didik, dengan menyebut bahwa maskapai penerbangan membutuhkan tenaga mereka saat kondisi normal, sebetulnya hal itu bisa dibilang irasional. Sebab, pilot yang akan sekolah saat ini dan diperkirakan akan lulus 2 tahun 4 bulan mendatang atau sekitar tahun 2023 (CPL-ME-IR), otomatis mereka akan bersaing ketat dengan pilot yang sudah memiliki ribuan jam terbang.

Belum lagi mereka (pilot baru lulus di 2023 mendatang, dimana industri penerbangan diperkirakan akan mulai bangkit, tiga tahun pasca pandemi), juga akan bersaing dengan pilot lainnya yang di tahun 2020 atau sebelum itu belum pernah bekerja sama sekali. Tak hanya itu, pilot baru lulus nantinya juga harus menghadapi kenyataan bahwa maskapai tidak hanya melihat dari segi lisensi saja, melainkan jam dan pengalaman terbang pilot.

Lagi pula, sekalipun tak terlalu diekspose, PHK massal pilot pastinya dilakukan dengan beberapa syarat, seperti yang dilakukan British Airways. Belum lama ini, di antara kesepakatan maskapai tersebut terhadap pilot adalah suatu hari nanti, bila kondisi berangsur normal dan mereka membutuhkan pilot, maka eks pilot merekalah yang akan diutamakan terlebih dahulu, bahkan sekalipun dengan gaji yang lebih rendah.

Bayangkan, dengan gaji yang mungkin beda sedikit namun pengalaman beda jauh, mana yang akan maskapai pilih, pilot lama atau pilot baru lulus? Kebijakan serupa diyakini juga terjadi di seluruh negara, tak terkecuali Indonesia.

Perlu dicatat, kebutuhan pilot di dunia memang diproyeksikan meningkat seiring prediksi IATA dimana jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037, naik hampir dua kali lipat dari jumlah saat ini.

Baca juga: Ngeri! Ini Efek Alkohol dan Narkoba Terhadap Performa Pilot

Sedangkan tiga tahun mendatang, adalah prediksi dimana industri penerbangan mencapai titik normal seperti pra corona, bukan memasuki tahapan pengembangan menuju 8,2 miliar penumpang. Dengan begitu, diperkirakan, pilot baru lulus akan sulit bersaing di pasar komersial -yang persaingannya ketat- hingga 5-10 tahun mendatang.

Oleh karena itu, Capt. Fadjar Nugroho, Kapten Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, dalam sebuah diskusi daring, menyarankan agar calon penerbangan muda (pilot baru) tidak berfokus pada airline saja, melainkan ke general aviation, seperti air taxi, parachute jumping, crop dusting (menyemprot tanaman), joy flight (jalan-jalan keliling), dan lain sebagainya.

Leave a Reply