Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!

0
Ilustrasi perubahan di industri penerbangan akibat Covid-19. Foto: futuretravelexperience.com

Transporatasi udara menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat wabah virus Cina. Menurut data dari Airport Council Internasional, lalu lintas penumpang pada 2019 meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun lalu dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen. Sementara pengiriman kargo udara meningkat 3,4 persen.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Pada tahun 2020, sebelum Covid-19 mewabah, Airport Council International (ACI) World memperkirakan akan ada sekitar 9,5 miliar perjalanan udara di seluruh dunia. Namun, belakangan, lembaga yang berbasis di Montreal, Kanada itu memprediksi terjadinya penurunan sekitar 3,6 miliar perjalanan. Menariknya lagi, ACI juga memprediksi bahwa dibutuhkan setidaknya 18 bulan untuk kembali ke kondisi normal layaknya sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Tentu menjadi sinyal negatif bagi maskapai di seluruh dunia bila prediksi tersebut benar adanya.

Akan tetapi, terlepas dari semua keadaan dan prediksi buruk di atas, sebetulnya, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Selalu ada hal baik di balik hal buruk (musibah), tak terkecuali di industri penerbangan dalam menyikapi pandemi virus Cina. Dikutip dari futuretravelexperience.com (FTE), pandemi corona setidaknya telah mengubah enam hal, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut ulasannya.

1. Physical Distancing
Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai.

Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang.

2. Otomasi Makin Gencar
Mayoritas maskapai dan bandara sudah merencanakan proyek transformasi digital sebelum pandemi Covid-19 melanda. Rencana-rencana tersebut sebagian dipercepat untuk mengurangi interaksi antar manusia melalui media robot, mesin otomatis, hingga teknologi biometrik yang salah satu fungsinya memungkinkan dihilangkannya proses kepabean atau imigrasi. Sebagian lainnya diprediksi akan makin digencarkan ketika pandemi berakhir.

3. Kebersihan Kabin Jadi Sorotan
Kebersihan menjadi salah satu syarat mutlak untuk membebaskan kabin dari paparan virus Cina. Oleh karenanya, maskapai dunia pun ramai-ramai ‘memamerkan’ prosedur kebersihan mereka untuk mencapai itu. Beberapa di antaranya bahkan tak sungkan menggunakan teknologi terkini, seperti robot GermFalcon (yang diklaim mampu membunuh 99 persen virus dengan teknologi sinar UV). Muara dari propaganda tersebut tentu saja semata agar penumpang percaya kepada maskapai untuk menjadikannya andalan ketika bepergian selama wabah berlangsung.

4. Tren Online
Pembatasan perjalanan telah mendorong masyarakat semakin memasifkan tren belanja berbasis daring atau online. Setidaknya, hal itu dapat terlihat dari kekayaan CEO Amazon yang terus meningkat di tengah melorotnya ekonomi. Selain itu, Amazon juga mengaku membutuhkan banyak karyawan untuk mendukung lonjakan bisnisnya.

Namun, apa hubungannya dengan maskapai penerbangan? Bagi sebagian orang, belanja mungkin tak kenal waktu dan tempat. Sebab, lewat digital semuanya sudah dalam genggaman. Karenanya, fenomena tersebut mungkin akan coba difasilitasi oleh maskapai sekalipun dalam perjalanan di atas udara. Dengan dukungan WiFi onboard, penumpang dimungkinkan untuk tetap berbelanja.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

5. Kolaborasi Jangka Panjang
Diakui atau tidak, persaingan bisnis dan kepentingan antar maskapai, aliansi maskapai, dan lembaga penerbangan internasional membuat arus pertukaran informasi demi kelangsungan bisnis penerbangan yang lebih baik macet. Dengan adanya pandemi virus corona, disadari atau tidak, semua sekat-sekat tersebut hilang, semata untuk menyatukan kekuatan melawan wabah Covid-19. Contoh nyata dapat dilihat dari Airbus dan Boeing yang memutuskan merger, demi kelangsungan bisnis jangka pendek dan panjang.

6. Perhatian Besar Garda Terdepan
Selama ini mungkin garda terdepan, seperti petugas counter check-in dan awak kabin satu dengan yang lainnya atau hubungan mereka dengan manajemen terdapat gap cukup jauh. Namun, adanya pandemi, membuat maskapai mau tak mau memusatkan perhatian ke mereka sebagai bagian dari menarik kepercayaan penumpang.

Leave a Reply