Delapan Kereta MRT Jakarta Uji Coba Secara Penuh dengan Headway 10 Menit

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar dan Direktur Operasi dan Pemeliharaan Muhammad Effendi (KabarPenumpang.com)

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta saat ini sudah mulai menguji coba delapan kereta Ratangga (sebutan kereta MRT) secara penuh. Uji coba secara penuh ini dilakukan dengan headway atau waktu tunggu per kereta adalah sepuluh menit.

Baca juga: MRT Jakarta Libatkan 16 UMKM di Lima Stasiun

Saat ini sudah melakukan full uji coba kereta selama 24 jam dari depo Lebak Bulus hingga ke Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan sebaliknya. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya menguji coba Ratangga sendiri mulai dari pengecekan platform screendoor, operation command dan ontime kedatangan kereta di stasiun MRT.

“Kita uji coba ini selama 24 jam penuh dengan otomatis, ada masinis hanya untuk bantu buka pintu. Kita akan uji coba dengan operasional emergency mulai 27 Februari hingga 11 Maret, terkait proses ini kita libatkan pemadam kebakaran, petugas gedung selama sepuluh hari,” ujar William yang ditemui Kabarpenumpang.com, Rabu (30/1/2019).

William mengatakan, untuk publik nantinya akan dibuka naik ke MRT setelah uji coba emergency tersebut. Dimana akan menggunakan semacam kartu seperti layaknya menggunakan kereta MRT semestinya saat beroperasi Maret 2019 mendatang.

“Kita akan punya sistem untuk masuk kereta karena belum ada tiket,” ujarnya.

Direktur Konstruksi Silvia Halim mengatakan, saat ini pihaknya sudah mulai tahap penyelesaian pintu masuk MRT. Fokus kerja saat ini, Silvia mengatakan bahwa kanopi yang ada di Stasiun Sudirman sudah terpasang dan nantinya pedestrian akan mulai dirapikan.

“Maret ini kita sudah mulai pembersihan dan penyelesaian. Kalau tiang-tiang masih banyak yang belum beres disekitaran Fatmawati, TB Simatupang dan sekitarnya kita sudah mulai merapikannya. Untuk stasiun saat ini sudah tahap finishing,” tambah Silvia.

Baca juga: MRT Jakarta Uji Coba Operasional Secara Penuh, Masyarakat Bisa Ikut Mencobanya

Silvia menjelaskan, untuk ketahanan dan kualitas bangunan elevated sendiri strukturnya sudah mengikuti stasndar di Internasional yakni Jepang dikarenakan pendanaan dari Jepang. Tak hanya itu, pihaknya juga sudah mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2012.

“Kita tidak menolak dari yang Indonesia seperti SNI, dimana SNI ini ketahanan gempa hingga 8 SR,” kata Silvia.