Didera Sanksi Ekonomi, Pembangunan Bandara Tehran Sempat Mangkrak Hingga 25 Tahun

0
Salah satu terminal Bandara Internasional Imam Khomeini yang dinamakan 'Salam'. Foto: Aviationiran.com

Bandara internasional Imam Khomeini atau Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) belakangan banyak disebut oleh media internasional. Bukan karena inovasi atau teknologi kekinian yang membuatnya dibicarakan banyak orang, melainkan insiden jatuhnya pesawat komersil, Ukraine International Airlines PS752, tak jauh dari bandara akibat sistem pertahanan udara Iran.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Terlepas dari insiden tersebut, tak banyak yang tahu, bahwa ternyata bandara kedua di ibu kota Iran tersebut (setelah Bandara Internasional Mehrabad) sempat mangkrak selama 25 tahun akibat sanksi ekonomi AS yang bertubi-tubi. Dengan rentan waktu selama itu, bukan tak mungkin, Bandara Internasional Imam Khomeini bisa dinominasikan dalam daftar bandara dengan pembangunan terlama di dunia.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sanksi ekonomi terhadap Iran mulai dilakukan pada November 1979. Ketika itu, AS dituding melakukan intervensi terhadap politik dalam negeri Iran dengan memberikan suaka kepada pemimpin Iran yang tengah diasingkan, tak lama setelah revolusi Iran. Gelombang protes pun bermunculan hingga kantor kedutaan AS digeruduk dan menawan semua orang di dalamnya. Sanksi kemudian dihentikan pada tahun 1981 setelah Iran membebaskan warga AS yang ditawan.

Selanjutnya, secara sporadis, AS terus-menerus memberikan sanksi kepada Iran. Tahun 1980, 1983, 1987, 1995, 1996, hingga 2005 menjadi tahun-tahun sulit bagi pemerintahan Iran. Bahkan, berbagai kesulitan tersebut (sanksi ekonomi oleh AS) akan terus berlangsung hingga kini.

Beruntung, sebelum sanksi ekonomi jilid ke-7 diterapkan (2005), Iran terlebih dahulu mengumumkan bahwa bandara anyarnya akan mulai diresmikan pada 11 Februari 2004. Meskipun demikian, sisa-sisa sanksi ekonomi masih terus membekas hingga peresmian bandara yang memiliki luas 33.000 hektar tersebut molor. Kala itu, ada banyak masalah yang terjadi. Mulai dari pembangunan yang belum rampung, pasokan bahan bakar yang amburadul, hingga keterlambatan dalam menandatangani kesepakatan dengan kementerian perminyakan Iran. Pada akhirnya, 8 Mei 2004, bandara tersebut benar-benar bisa diresmikan oleh Presiden Iran kala itu, Mohammad Khatami.

Menariknya, walaupun AS dan Iran tak henti-hentinya terlibat ketegangan, pembangunan bandara yang sempat menjadi satu-satunya akses keluar masuk Iran tersebut sempat diramaikan dengan campur tangan (AS). Pembangunan bandara dimulai sebelum revolusi Iran 1979. Ketika itu, desainer asli adalah Tippetts-Abbett-McCarthy-Stratton (TAMS), sebuah kemitraan konsultan teknik dan arsitektur Amerika.

Campur tangan AS dalam pembangunan bandara kebanggaan publik Iran tersebut, mulai menemui titik terang ketika usaha patungan lokal dibentuk antara TAMS dan firma lokal Abdol Aziz Farmanfarmaian Associates yang disebut TAMS-AFFA, untuk melaksanakan desain penuh dan pengawasan konstruksi. Namun, setelah revolusi Iran, sentimen anti-AS pun menguat yang pada akhirnya mendorong proyek tersebut (TAMS-AFFA) ditinggalkan sampai pemerintah Iran akhirnya memutuskan untuk merancang dan membangun bandara menggunakan insinyur lokal.

Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Hingga kini, walaupun terus menerus di embargo, bandara IKIA masih terus beroperasi seperti biasa. Bahkan sejak tahun 2013, Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) terus-menerus mengalami peningkatan hingga mencapai angka 8,852,232 pengunjung pada 2017. Naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, pada tahun 2013 tersebut, IKIA yang melayani satu-satunya rute internasional di Iran (selain Bandara Internasional Mehrabad yang melayani rute dari dan ke Damaskus, Jeddah, dan Madinah) didaulat sebagai bandara tersibuk di Timur Tengah dengan kunjungan mencapai 4 juta lebih wisawatan. Wisatawan pada umumnya datang dari negeri-negeri di Timur Tengah, seperti Turki, Irak, Uni Emirat Arab, hingga Qatar.

Leave a Reply