Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Penerbangan bertarif rendah atau Low Cost Carrier (LCC) ini juga disebut sebagai Budget Airlines atau no frills flight atau Discounter Carrier. LCC merupakan maskapai penerbangan yang memberikan tarif rendah dan menghapus beberapa layanan penumpang yang biasa. Pada penerbangan LCC biasanya airlines akan menghilangkan penyediaan catering, koran atau majalah, hiburan dalam penerbangan dan hal-hal lainnya. Walaupun pelayanan yang diberikan minimal, tetapi keamanan dan keselamatan penumpang dalam penerbangan sampai ke tujuan tetap terjaga.

Awalnya konsep ini diperkenalkan oleh Amerika Serikat tepatnya dirintis oleh maskapai Southwest yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan Herber Kelleher tahun 1967. Dilansir dari Wikipedia, adanya fenomena LCC dari Southwest menjadi sebuah kajian bisnis penerbangan yang sangat menarik di bahas di universitas Harvard dan berbagai sekolah bisnis diseluruh belahan dunia. Ini karena ada efisiensi yang dilakukan mulai dari harga murah, teknologi, struktur biaya, rute hingga berbagai peralatan operasional yang digunakan.

Apex.aero
Apex.aero

Kemudian keberhasilaan dari Southwest banyak ditiru beberapa maskapai lainnya yang berdiri tahun 1990 yakni Vanguard, America West, Kiwi Air dan Ryanair. Pada awal 1990-an konsep ini juga menyebar ke Eropa dan seluruh dunia.  Tahun 2000, langkah LCC diadopsi oleh Air Asia yang bermarkas di Malaysia, Virgin Blue di Australia dan Lion serta Wings Air di Indonesia. Sedangkan Arab Saudi dan Meksiko baru menerapkan LCC tahun 2006.

Sebenarnya dengan maskapai bertarif rendah justru menjadi ancamaan berat bagi maskapai tanpa LCC atau memiliki layanan penuh. Hal ini menjadikan maskapai dengan layanan penuh mencegah untuk bersaing pada harga yang menjadi faktor penting di antara konsumen saat memilih maskapai. Ketika itu industri penerbangan dikejutkan dengan terorisme, perang dan SARS pada 2001 hingga 2003 sejak adanya LCC, sehingga maskpai besar mengalami penurunan yang drastis pada layanannya dibandingkan dengan maskapai dengan LCC justru mendapat keuntungan.

Keuntungan paling terlihat dengan adanya LCC adalah wisatawan dengan budget yang minim bisa berpergian dengan nyaman dengan harga yang terjangkau. Sayangnya, model tarif rendah ini justru menjadi kritikan oleh pemerintah dan regulator, salah satunya di Inggris yang menjadi masalah dengan tarif rendah. Sebab adanya biaya tambahan yang tidak mengikat pada maskapai bertarif rendah lainnya seperti pembayaran pajak bandara dan pajak lainnya yang dipisah sebagai bagian dari harga iklan untuk terlihat lebih rendah tetapi menjadi aksi pemaksaan.

Ada beberapa ciri maskapai dengan LCC yang dikutip dari kompasiana.com :

1. Menghilangkan kelas premium dan bisnis
2. Memperluas ruangan untuk penumpang sehingga maskapai pesawat bisa menampung lebih banyak penumpang
3. Pesawat yang digunakan adalah pesawat baru yang dianggap lebih hemat untuk urusan konsumsi avtur (bahan bakar pesawat)
4. Penumpang tidak mendapatkan minuman ataupun makanan (tetapi ada beberapa yang memberikan snack dan minuman)
5. Tidak ada nomor kursi
6. Waktu terbang saat dini hari atau tengah malam
7. Rute yang ditempuh sitem PP
8. Kru pesawat punya tugas ganda

Untuk Indonesia, hingga kini masih banyak yang belum menerapkan pola bisnis LCC dengan jelas. Seperti Lion dan Wings Air, dianggap harga yang diberikan masih di atas rata-rata maskapai LCC pada umumnya. Lion Air grup ini dianggap oleh para analis keuangan masih menyatakan biaya per available seat mil masih berada diatas ambang standar operating biaya dari suatu biaya terendah sejati. Memang, struktur harganya sudah sesuai dengan konsep LCC, tetapi mungkin akan lebih tepat disebut dengan Low Far Carrier (LFC), karena hanya menawarkan harga murah dan belum mendukung prinsip LCC secara jelas.

Tiket Sriwijaya Air
Tiket Sriwijaya Air

Dengan konsep LFC yang ada di Indonesia, juga menguntungkan para konsumen, sebab transportasi udara dengan biaya murah dan cepat. Hal ini bisa dilihat dengan harga yang cukup berbeda jauh terkadang harga kereta dengan bus hampir sama atau lebih murah, misalnya Rp250 ribu sekali jalan menuju Jawa Tengah dengan menggunakan moda transportasi darat dengan waktu tempuh hampir 10 jam, tetapi dengan pesawat terbang harga bisa saja hanya Rp120 ribu hanya memakan waktu selama 1,5 jam. Fenomena ini membuat slogan Lion Air “Make People Can Fly” menyadarkan masyarakat sekarang ini bahwa semua orang bisa terbang dengan harga terjangkau.

Namun, dengan perkembangan saat ini, bisnis perbangan dengan strategi LCC atau LFC menghadapi tantangan berat dimana harga avtur terus meningkat dan menjadi komponen biaya paling besar dibanding maintenance pesawat lainnya. Sehingga otomatis membuat biaya operasi pesawat semakin meningkat dan maskapai menaikkan tarif. Nantinya, dengan konsep LCC, diharpakan maskapai mampu membuat penghematan akan konsumsi avtur, mengingat para penumpang Indonesia saat ini sangat sensitif terhadap harga dan cenderung memilih maskpai yang menawarkan harga murah dan masih mendapatkan keuntungan dari bisnis ini. Berharap di masa depan, maskpai dengan bisnis LCC kemungkinan lebih mampu bertahan dibanding dengan maskapai pola layanan tradisonal.