Gegara Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Tuntut Maskapai Pantau Pilot Agar Tak Lakukan Kesalahan

0
Black box FDR atau Flight Data Record pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK CLC flight SJ182 dipamerkan pihak terkait di JICT Tanjung Priok dalam keadaan direndam air bersih atau payau usai ditemukan. Foto: Twitter @SAR_NASIONAL

Seolah tak mau terus disalahkan, Boeing diberitakan telah mengirim Buletin Teknis Operasi Penerbangan tertanggal 15 Februari atau Senin lalu ke pelanggannya di seluruh dunia. Buletin itu mengingatkan para pilot tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan mereka mempertahankan kendali atas pesawat.

Baca juga: Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Mungkinkah Akibat Pilot Kena Serangan Jantung?

Dari sisi maskapai, panduan teknis operasi penerbangan itu bertujuan agar maskapai memastikan pilot aktif, khususnya yang menerbangkan pesawat-pesawat Boeing, untuk memantau airplane state and flight path management guna mencegah adanya gangguan pada pesawat.

Meskipun dalam panduan atau buletin tersebut Boeing tak secara khusus menyebut sebagai tindak lanjut atas kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182, tetap saja semua airlines menyadari hal itu. Bisa dibilang, ini merupakan peringatan keras yang ditujukan ke para pilot untuk mengidentifikasi masalah pada pesawat dengan benar agar bisa melakukan penanganan dengan tepat dan menghindari terjadinya kecelakaan, layaknya SJ-182 yang menewaskan 62 orang.

“Kehilangan kontrol dalam penerbangan tetap menjadi penyebab terbesar kecelakaan mematikan dalam penerbangan komersial,” kata dalam sebuah buletin tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) -sekalipun belum berupa hasil akhir karena CVR belum ditemukan- ada indikasi engine thrust antara mesin kiri dan kanan yang tidak seimbang. Dari data black box Flight Data Recorder (FDR) beberapa detik sebelum kecelakaan, throttle mesin sebelah kiri beberapa kali berkurang sedangkan tuas sebelah kanan tetap.

Posisi seperti ini bisa membuat pesawat miring atau berbelok tanpa kendali. Hal itu bisa saja terjadi karena pilot fokus menghindari awan berbahaya di depan sehingga perhatian terhadap throttle menjadi berkurang. Singkatnya, sekitar 30 detik sebelum kecelakaan, pesawat lepas kendali dan pilot tidak bisa mengidentifikasi itu.

“Boeing secara teratur berkomunikasi dengan pelanggan tentang bagaimana mereka dapat mengoperasikan pesawat mereka dengan aman dan percaya diri,” kata Boeing dalam sebuah penyataan.

“Dalam koordinasi yang erat dengan otoritas investigasi dan regulator, komunikasi terbaru ini memperkuat pentingnya materi panduan dan pelatihan di seluruh industri dan Boeing tentang pencegahan dan pemulihan gangguan pesawat,” tambahnya.

Penyebab hilangnya kontrol pilot pada pesawat menurut Boeing ada dua, malfungsi dan tindakan yang salah oleh pilot. Agar tak salah, pilot harus cermat dalam mendeteksi dini berbagai kondisi yang menyebabkan pesawat terganggu. Sistem kontrol penerbangan yang serba otomatis pada pesawat memang mengurangi beban kerja pilot, namun di sisi lain menuntut pilot dan co-pilot untuk aktif memantau sistem yang kompleks di kokpit.

Baca juga: Mengenal Istilah Pilot Error, Gagalnya Keputusan Pilot yang Berujung Kecelakaan

Dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, sebetulnya masalah relatif terlalu kecil berkenaan dengan automatic throttle control atau auto throttle. Namun, karena tindakan pilot keliru, alhasil masalah dapat menjadi besar dan berujung pada kecelakaan.

“Masalah kecil seperti overbanking saat berbelok atau terbang lambat saat approach dapat berkembang menjadi perbedaan yang lebih besar dari flight path yang dimaksudkan dan menyebabkan kondisi pesawat terganggu dan berpotensi kehilangan kontrol,” jelas Boeing.

Leave a Reply