Gunakan Fingerprint Saat Wabah Covid-19, Amankah?

0
Ilustrasi fingerprint. Sumber: newatlas.com

Virus corona menyebar dengan cepat, tak kenal tempat dan waktu. Selain itu, menurut penelitian, virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) ini disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Oleh karena itu, Asosiasi Kesehatan untuk Penyakit Menular dan Pencegahan serta Pengendalian Infeksi di Jepang pernah menyarankan agar individu yang menggunakan transportasi umum supaya tak menyentuh hidung, mulut, atau mata dengan tangan yang digunakan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang disentuh oleh orang lain, seperti tali pegangan di kereta dan sejenisnya. Tak hanya transportasi, berbagai media yang banyak disentuh orang lain juga termasuk, salah satunya fingerprint.

Dalam sebuah artikel di biometricupdate.com, Chief Research Officer di Suprema Inc, Brian Song, Ph.D mengungkap bahwa sebetulnya ada beragam hal untuk menilai apakah fingerprint aman digunakan di tengah pandemi virus Cina. Namun, secara singkat, ia tak menyangkal, sulit untuk untuk mengklaim bahwa sensor pengenalan sidik jari sepenuhnya aman dari penyebaran virus.

Meski tak menyangkal, ahli yang sudah 20 tahun bergelut di bidang teknologi biometeric ini menyebut, dibandingkan dengan berbagai permukaan lainnya seperti gagang pintu, tombol lift, gagang kendaraan, atau permukaan lainnya di transportasi atau fasilitas publik yang juga banyak disentuh orang, fingerprint dinilai masih lebih aman.

Pada akhirnya, dengan tak menyangkal bahwa virus corona dapat menyebar lewat fingerprint dan disaat yang bersamaan fingerprint dinilai masih lebih aman dibandingkan permukaan lain yang juga sama-sama disentuh banyak orang, ia pun mengambil jalan tengah. Menurutnya, bisa saja penggunaan fingerprint tetap terus dilakukan dengan syarat harus mencuci tangan dengan air mengalir dan anti septic. Peletakannya pun juga tak boleh berjauhan, fingerprint dan fasilitas pencuci tangan harus bersebelahan untuk meminimalisir kemungkinan seseorang menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.

Cara lainnya, tentu saja dengan tidak meniadakan absensi atau penggunaan fingerprint bila syarat di atas tak bisa dipenuhi. Selama syarat tersebut dapat dipenuhi, tak ada salahnya untuk tetap menggunakan teknologi dengan bijak, selagi masing-masing pribadi mengetahui keamanan teknologi itu sendiri.

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Di belahan bumi lain, The New York Post pernah melaporkan bahwa karyawan di New York City telah memprotes penggunaan absensi biometrik sidik jari yang akhirnya membuat New York Police Department (NYPD) dan the Metropolitan Transit Authority mempertimbangkan kembali cara absensi mereka. Pada akhirnya, NYPD memutuskan untuk menangguhkan penggunaan mesin fingerprint di kantor pusatnya.

Di India, pemerintah negara bagian dan lokal di negara tersebut telah mengeluarkan serangkaian protokol termasuk penghentian penggunaan mesin fingerprint setelah terdapat salah satu karyawan di daerah Hyderabad dinyatakan positif Virus Corona. Akhirnya, hampir dari 200 perusahaan dipanggil untuk diberikan panduan dan prosedur standar, salah satunya mengganti mesin fingerprint. Demikian juga di daerah New Delhi, berbagai perusahaan mulai berhenti menggunakan sistem absensi biometrik.

Leave a Reply