Hadapi Keluhan Soal Calo, Otoritas Banglades Hadirkan BGB

0
Ilustrasi calo. Sumber: istimewa

Otoritas perkeretaapian Banglades diketahui baru-baru ini menempatkan sejumlah Border Guard Bangladesh (BGB) di Stasiun Rajshahi untuk mengantisipasi maraknya tiket yang dijual oleh para pialang. Penempatan petugas BGB ini dibarengi oleh meningkatnya pengguna jasa layanan kereta api menjelang Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 25 dan 26 Juni kemarin.

Baca Juga: Kalau Sudah Lihat Ini, Masih Mau Mengeluh Mengenai Penuhnya KRL?

Anomali penjualan tiket semacam ini memang sering terjadi , terutama di kala peak season, dimana permintaan masyarakat terhadap tiket perjalanan sedang berada di level tertinggi. Maka tidak heran jika banyak oknum yang memanfaatkan momen ini sebagai lading bagi mereka untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya melalui cara yang ilegal.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thedailystar.net (23/6/2017), General Manager zona Barat, Khairul Alam mengatakan stasiun Rajshahi juga dilengkapi dengan sebuah perangkat yang dapat membantu peran dari petugas untuk memeriksa tiket. “Ditambah juga dengan pengamanan melalui kamera CCTV, jadi kami dapat memantau aktifitas di stasiun,” kata Khairul.

Salah satu pejabat perkeretaapian di Banglades juga mengatakan anggota BGB akan menanggapi laporan tentang anomali yang  terjadi saat pembelian tiket. Layaknya di kebanyakan tempat, calo-calo di Banglades pun sama. Mereka menjual tiket resmi kereta api, namun dengan harga yang sudah mereka manipulasi sebelumnya. Mereka biasanya memiliki kelompok sendiri dalam menjalankan praktik ini. Harga tiket tersebut bisa saja berubah tiap waktu seiring ramainya permintaan dari pihak pembeli. Makin banyak orang yang mencari, maka semakin tinggi pula harga yang mereka tawarkan, begitupun sebaliknya.

Selain menampung laporan mengenai keberadaan calo dan ketidakwajaran harga tiket, anggota BGB juga akan membantu menertibkan setiap calon penumpang yang sedang antri. Keberadaan mereka pun seolah menjadi saksi dari puluhan calon penumpang yang gagal mendapatkan tiket kereta untuk mudik ke kampung halaman masing-masing.

Baca Juga: Atapers, Para Penantang Maut dari Atas Gerbong

Keberadaan calo memang merugikan banyak pihak, diantaranya adalah penumpang dan para penyedia jasa. Bagi para penumpang, mereka terpaksa merogoh kocek lebih untuk mendapatkan tiket yang mereka inginkan, walaupun tidak melulu para penumpang ini mendapatkan tiket yang sesuai dengan keinginannya. Selain itu, akan cepat kehabisan tiket di loket resmmi karena biasanya, si calo ini memborong banyak tiket untuk mereka jual kembali dengan harga yang sudah mereka tentukan sendiri.

Di sisi lain, kerugian yang dialami oleh pihak penyedia jasa adalah kemungkinan berkurangnya minat penumpang untuk menggunakan jasa layanan mereka kembali. Jika dibandingkan dengan Indonesia, ramainya calo tiket kereta api seperti pemberitaan di atas juga pernah terjadi  dalam beberapa tahun ke belakang, namun PT KAI segera membenahi sistem penjualan yang ada, seperti mencantumkan data diri layaknya tiket pesawat, melakukan penukaran tiket fisik, dan lain-lain hingga keberadaan calo-calo ini akan menghilang dengan sendirinya.

Leave a Reply