Hubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS, Bagaimana Nasib Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Sepanjang 200 Km?

0
Ilustrasi kereta bawah laut (yuran-78/iStock)

Tujuh tahun lalu, tepatnya pada 2014, saat hubungan Washington dan Beijing masuh harmonis, sebuah laporan hadir, di mana Cina tengah dalam diskusi untuk membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi yang akan menuju timur laut dari Beijing sejauh 13 ribu km melintasi Siberia di Rusia, kemudian akan menempuh jarak 200 km di bawah air melintasi Selat Bering menuju Alaska, negara bagian di utara AS.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Kala itu, rencana ambisius tersebut akan meningkatkan jaringan kereta api berkecepatan tinggi Cina yang mengesankan dan meningkatkan perdagangan antara Cina, Rusia, Kanada dan tentunya Amerika Serikat. Dilansir KabarPenumpang.com dari interestingengineering.com (31/5/2021), sayangnya gaung tersebut cepat sekali mereda dan kabarnya pun hanya terdengar sedikit terkait rencana itu.

Bahkan saat ini tidak terlihat adanya tanda untuk segera melanjutkan proyek kereta api yang akan melewati Alaska dan Kanada sebelum tiba di AS. Tapi ada laporan terbaru memberi indikasi penundaan proyek. Di mana ini dikritik habis-habisan karena usulan anggaran awal mereka sebesar US$200 miliar.

Beberapa orang yang tidak setuju menunjukkan bila penerbangan dan kapal kargo adalah pilihan yang lebih murah untuk perdagangan karena infrastrukturnya sudah ada. Selain itu masalah lainnya juga hadir dari sisi rekayasa dan logistik. Sebab nantinya terowongan tersebut akan menjadi proyek yang belum pernah tejadi sebelumnya dan memilik panjang empat kali lebih dari Terowongan Channel dan Seikan yang panjangnya sekitar 50 km.

Meski begitu apakah harapan untuk pembangunan terowongan yang akan menghubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS tersebut akan terealisasikan? Ternyata masih ada indikasi proyek tersebut bisa berjalan lancar meski hubungan Cina dan AS harus ditingkatkan sebelum itu bisa terjadi.

Untuk diketahui, laporan asli tahun 2014 mengklaim bahwa Cina sudah maju dalam pembicaraan dengan Rusia yang telah mempertimbangkan jalur di bawah Selat Bering selama bertahun-tahun untuk mulai bekerja di jalur tersebut, dengan para insinyur dari kedua negara yakin proyek itu mungkin dilakukan dengan menggunakan teknologi saat ini.

Seperti yang ditunjukkan IFL Science, Cina menyetujui kereta peluru bawah air pertama di dunia pada tahun 2018, menunjukkan bahwa teknologi kereta api berkecepatan tinggi layak dilakukan di bawah laut. Proyek kereta peluru yang direncanakan akan diperpanjang 77 km dari Ningbo ke Zhousan sepanjang 16,2 km.

Baca juga: Cina Bakal Punya Terowongan Kereta Cepat Pertama di Bawah Laut

Meskipun jalur Ningbo ke Zhousan jauh lebih kecil dari Terowongan Channel, itu akan membentuk semacam proyek uji untuk jalur rel maglev bawah air. Cina kemungkinan akan beralih ke proyek yang lebih besar, seperti “jalur China-Rusia-Kanada-Amerika”, jika jalur Ningbo ke Zhousan berhasil.