Imbas Kasus Boeing: Antara Peak Season Akhir Tahun, Percepatan Sertifikasi, dan Kenaikan Harga Tiket

Sumber: Bellevue Reporter

Tidak ada yang menyangka tragedi jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX 8 dalam kurun wakru lima bulan ini berbuntut panjang sampai hari ini. Sebagai manufaktur pesawat ‘kelas satu’, jatuhnya Boeing ini seakan memudahkan Airbus – rival apple-to-apple Boeing untuk mencuri ceruk pasar. Terlebih ketika musim libur panjang yang sebentar lagi akan menjelang, maka secara otomatis permintaan penerbangan juga akan meningkat. Nah, dengan di-banned-nya varian 737 MAX ini, mampukah pihak maskapai menyanggupi perkiraan melonjaknya angka perjalanan udara ini?

Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Jawabannya mungkin saja, namun jangan salahkan pihak maskapai apabila harga tiket yang ditawarkan di pasar pun akan serta merta meningkat. Mengapa bisa seperti ini? Mengingat dalam kasus ini Airbus kasarnya sudah bisa melakukan ‘monopoli’ di kelas pesawat narrow-body dengan A320 family.

Sementara Boeing masih belum boleh menerbangkan varian 737 MAX-nya hingga tahun 2020 mendatang, sedangkan pihak maskapai mungkin akan membutuhkan armada tambahan untuk bisa menampung penumpang, maka bukan tidak mungkin apabila pihak maskapai akan bergegas menyambangi pihak Airbus untuk meminta armada tambahan.

Sudah menjadi hukum ekonomi apabila hanya ada satu ‘penjual’, maka mereka akan menaikkan harga jualannya. Inilah yang menjadi salah satu akar dari meningkatnya harga tiket penerbangan.

Tapi di sini, pihak Airbus juga tidak bisa sekonyong-konyong meningkatkan harga penjualan, mengingat sektor aviasi merupakan bisnis yang sangat kompleks – setiap partisi yang ada di satu pesawat diproduksi oleh lebih dari satu pabrikan. Bisa saja Airbus menyanggupi permintaan pihak maskapai untuk penambahan armada, tapi apakah permintaan serupa juga disetujui oleh pihak manufaktur mesin pesawat seperti General Electrics (GE) atau Rolls Royce?

Southwest Alami Kerugian
Sebagai salah satu maskapai yang paling banyak mengoperasikan varian Boeing 737 MAX, maskapai asal Amerika, Southwest mengalami kerugian karena mereka terpaksa memangkas rute penerbangan menuju Bandara Newark Liberty yang ada di New Jersey, dimana sebeumnya pihak maskapai menggunakan varian 737 MAX untuk menjabani rute penerbangan tersebut.

“Ini semua semata-mata karena (Boeing 737) MAX,” ujar CEO Southwest, Gary Kelly, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cbsnews.com (30/7).

Berkaca dari sini saja, sudah dapat ditebak bahwa pihak Southwest bakalan kekurangan armada untuk menyanggupi peningkatan permintaan penerbangan pada musim libur kuartal keempat tahun ini.

Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global

Didesak Berbagai Pihak
Kendati CEO Boeing Dennis Muilenburg sudah melontarkan ultimatum terkait sertifikasi varian 737 MAX yang tidak kunjung rampung, ternyata pihak Boeing juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak – salah satunya yang paling santer adalah Ryanair.

Maskapai berbiaya rendah kontroversial asal Irlandia ini mengatakan bahwa pihak Boeing untuk segera menyelesaikan perkara sertifikasi 737 MAX ini.

“Kami awalnya menargetkan untuk menerbangkan 58 unit (737 MAX) pada musim panas 2020. Jika berkaca pada kondisi hari ini, kami dapat mengoperasikan 30 unit saja itu sudah bagus. Mana tahu di waktu yang akan datang angkanya akan terus merosot. 20 unit, 10 unit, atau bahkan sama sekali tidak ada. Intinya di sini adalah pihak Boeing harus sesegera mungkin menyelesaikan permasalahan regulasi ini,” ujar CEO Ryanair, Michael O’Leary.