Lika-liku Kereta Penolong yang Legendaris, Peran Besar Tangani Tragedi Kereta Api di Indonesia

Tak hanya manusia yang butuh pertolongan saat terjadi musibah atau tragedi yang tidak diduga, tapi transportasi kereta api juga butuh kereta penolong jika mengalami Peristiwa Liar biasa Hebat (PLH) yang sewaktu-waktu menimpa. Ya, keberadaan kereta penolong ini ternyata punya sejarah panjang sejak era kolonial Belanda.

Dulu, kereta penolong ini menggunakan jenis gerbong bekas angkutan barang yang didesain khusus dengan warna yang berbeda. Warna yang identik kuning tersebut, mencerminkan bahwa gerbong tersebut ‘diperlakukan’ secara khusus jika adanya musibah atau kecelakaan kereta api.

Pastinya barang bawaan didalam kereta penolong tersebut sangat lengkap, yakni peralatan khusus untuk menanggulangi akibat musibah yang sewaktu-waktu terjadi. Nah, gerbong penolong atau NR ini tentu berkaitan erat dengan awal mula si ulat besi beroperasi di Indonesia.

Jalur Semarang – Tanggung merupakan lintas pertama di tahun 1867. Kemudian berkembang hingga Solo dan Yogyakarta. Adapun Balai Yasa Yogyakarta (Pengok) posisinya berada di sisi utara Stasiun Lempuyangan. Inilah stasiun kereta api pertama di Ngayogyakarta Hadiningrat yang mulai beroperasi tahun 1872 sebagai terminus.

Gerbong NR yang kini berada di Museum Kereta Api Ambarawa (Foto: Dok. Istimewa)

Balai Yasa Pengok mulai beroperasi tahun 1914 yang saat itu dimiliki oleh perusahaan kereta api swasta bernama Nederlandsh Indische Spoorweg Maastschaapij (NISM). Lalu NISM membuat atau mengadakan kereta penolong atau gerbong NR khusus untuk melakukan pertolongan ketika terjadi PLH.

Gerbong NR telah mengambil banyak peran untuk pertolongan kereta api yang mengalami PLH. Beberapa diantaranya adalah Tragedi Kebasen yang terjadi pada tahun 1981. Waktu itu terdapat rangkaian kereta api mengalami ‘adu banteng’ antara kereta api (KA) Senja IV dengan KA Maja (cikal bakal sebagai KA Matarmaja) dekat dengan lembah Sungai Serayu.

Saat itu gerbong NR dikirim dari Balai Yasa Pengok menuju lokasi kejadian antara petak Stasiun Kebasen dengan Stasiun Notog tersebut. Sejarah mencatat bahwa gerbong NR ini menjadi peran penting dalam menanggulangi PLH pada Tragedi Kebasen pada Januari 1981.

Beberapa tahun berikut, tepatnya pada 19 Oktober 1987, peran gerbong NR pun tak luput dari tugasnya sebagai sarana penolong PLH Tragedi Bintaro. Namun gerbong NR ini didatangkan langsung dari Balai Yasa Manggarai yang saat itu juga tersedia sarananya.

Diketahui Tragedi Bintaro merupakan tragedi terbesar dalam sejarah kecelakaan kereta api di Indonesia yang terjadi di Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Dalam kejadian ada dua rangkaian KA Lokal Rangkasbitung bernomor 225 jurusan Stasiun Jakarta Kota bertabrakan (adu banteng) dengan KA Patas Merak bernomor 220 tujuan Merak.

Dalam kecelakaan tersebut memakan korban sangat banyak, yakni hingga 150 korban yang meninggal dunia. Dalam kecelakaan tersebut evakuasi dilakukan dengan mengirim kereta penolong dari Balai Yasa Manggarai. Kereta penolong tersebut melakukan pembersihan sisa-sisa rangkaian kereta yang mengalami kecelakaan maut tersebut.

Berbagai peran penting kereta penolong memang sudah dijalankan sejak era Kolonial Belanda. Bahkan hingga kini tiap wilayah Daerah Operasi (Daop) sudah memiliki kereta penolong. Ini berguna agar jika terjadi PLH atau anjlok di wilayah tertentu, pengiriman kereta penolong bisa cepat dikirim dan ditangani.

Saat ini kereta penolong jenisnya ada yang menggunakan bekas kereta api penumpang biasa maupun jenis Kereta Rel Diesel (KRD). Selebihnya gerbong NR yang menggunakan bekas angkutan barang sudah jarang dipakai. Bahkan kebanyakan gerbong tersebut sudah dipamerkan di Museum Kereta Api di Ambarawa dan Taman Mini Indonesia Indah.

Yuk, Kenalan dengan Djoko Tingkir – Sang Kereta Penolong

Google Maps Kini Dapat Digunakan dalam “Power Saving Mode”, Solusi Navigasi Darurat Super Hemat Daya

Aplikasi navigasi sejuta umat, Google Maps, meluncurkan pembaruan, yakni dapat digunakan pada ponsel atau smartphone Android dalam mode hemat daya (power saving mode). Fitur ini ditemukan dalam aplikasi Google Maps versi beta, yang mengindikasikan bahwa Google sedang mengujinya sebelum dirilis secara resmi.

Mode ini dirancang untuk mengatasi situasi darurat di mana baterai ponsel Anda hampir habis, tetapi Anda masih membutuhkan navigasi. Tujuannya adalah memperpanjang daya tahan baterai selama mungkin saat Anda sedang dalam perjalanan, atau kondisi darurat.

Untuk menghemat energi secara maksimal, mode ini akan membuat tampilan navigasi menjadi sangat sederhana.

Seperti warna monokrom, layar Maps akan menjadi hitam-putih atau minim warna, karena tampilan berwarna membutuhkan daya yang jauh lebih besar. Dalam power saving mode, hampir semua elemen antarmuka (UI) dan label peta yang tidak penting akan dihilangkan. Layar hanya akan menampilkan informasi terpenting, yaitu arah belokan berikutnya.

Menurut kode yang ditemukan, pengguna dapat mengaktifkan mode ini secara manual, bahkan terpisah dari mode hemat baterai bawaan ponsel. Cara mengaktifkannya cukup unik, Anda cukup menekan tombol daya fisik ponsel saat Anda sedang menggunakan navigasi di Google Maps.

Karena fokusnya pada penghematan daya, ada beberapa batasan yang ditemukan, mode ini tidak akan bisa digunakan jika ponsel diposisikan dalam mode horizontal (landscape). Anda harus menggunakan mode potret (portrait). Kemudian mode ini mungkin tidak berfungsi untuk navigasi transportasi umum (bus, kereta) karena navigasi jenis itu membutuhkan lebih banyak informasi teks (seperti nomor bus atau nama halte yang harus dituju), sementara mode ini sangat minim teks.

Karena tampilan visualnya sangat minim, fitur ini sangat bergantung pada petunjuk suara untuk memandu Anda. Jadi, intinya, fitur ini adalah upaya Google untuk memberikan solusi navigasi darurat yang super-hemat daya, meskipun dengan mengorbankan detail visual peta yang biasa Anda lihat.

Google Maps Hadirkan Fitur yang Siap Dukung Kaum Difabel

Seperti Tak Kenal Waktu, Aktivitas Langsir Kerap Kali Dilakukan di Stasiun yang Dijuluki ‘Stasiun BBM’ Ini

Puluhan gerbong ketel/angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) pun berjajar di jalur stasiun ini. Menggunakan lokomotif langsir yang dikirim dari Stasiun Kroya, rangkaian gerbong BBM pun kerap kali keluar dan masuk Depo Pertamina. Ya, inilah Stasiun Maos yang dijuluki stasiun BBM berada di Kabupaten Cilacap ini.

Rangkaian gerbong BBM berjejer di area Stasiun Maos.

Stasiun ini juga memiliki peran penting dalam jaringan transportasi kereta api di Indonesia karena menjadi salah satu penghubung utama bagi perjalanan kereta api di wilayah selatan Pulau Jawa. Stasiun Maos berada pada ketinggian +8 meter di atas permukaan laut dan termasuk dalam Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto.

Dilihat dari sejarahnya, Stasiun Maos pertama kali dibuka pada 20 Juli 1887, bersamaan dengan peresmian jalur kereta api yang menghubungkan Cilacap dengan Yogyakarta. Awalnya, bangunan stasiun ini mengusung gaya arsitektur Indische Empire yang khas pada masa kolonial Belanda.

Namun, pada 15 Mei 1923, gempa bumi dahsyat mengguncang daerah tersebut dan menyebabkan bangunan stasiun mengalami kerusakan parah. Sebagai upaya pemulihan, stasiun ini kemudian dibangun kembali, meskipun beberapa bagian asli tetap dipertahankan, seperti atap overcapping yang berbentuk melengkung.

Selain stasiun, bangunan unik lainnya yang dimiliki Maos khususnya peninggalan era Kolonial Belanda adalah rumah sinyal A dan B. Rumah sinyal di Stasiun Maos terletak disebelab barat dan timur yang hingga kinj masih terlihat dan kokoh. Tak seperti rumah sinyal yang terkadang dialihfungsi salah satunya sebagai pos perlintasan, di Stasiun Maoa rumah sinyal tersebut tidak digunakan sama sekali.

Atap dan tiang penyangga stasiun, terlihat masih asli. Ukiran-ukiran besi asli membuat penumpang yang naik dan turun kereta atau bahkan di dalam interior saat kereta berhenti membuat seakan kembalk ke masa lalu. Tak hanya itu, ternyata pintu baja tebal yang masih digunakan hingga kini pada ruang telegraf juga dipertahankan hingga kini.

Selain BBM, tentu saja Stasiun Maos melayani angkutan penumpang terutama di jalur selatan seperti dari arah Bandung maupun Cilacap dan dari arah Yogyakarta dan Surabaya. Semua kereta api yang singgah mayoritas dari dan ke arah Cilacap. Namun kereta api yang mengarah ke Bandung maupun sebaliknya hanya Kereta Api Argo Wilis saja yang melintas langsung.

Kini berbagai fasilitas di Stasiun Maos sudah memenuhi kebutuhan penumpang. Seperti pada area parkir yang sangat luas bisa menampung puluhan kendaraan bermotor. Hanya saja kekurangan pada ruang tunggu dekat area boarding yang cukup minimalis. Namun penumpang bisa langsung memasuki area peron setengah jam sebelum keberangkatan kereta api yang sesuai dengan tiket penumpang.

Usianya 108 Tahun, Stasiun Kebasen Tetap Ramai Sejak Berhentinya Dua Kereta Api Ini

Vietjet Pesan 100 Unit Airbus A321neo, Total Pesanan Mencapai 280 Unit

Vietjet, maskapai swasta terbesar di Vietnam, telah menandatangani pemesanan (firm order) untuk 100 pesawat A321neo kepada Airbus, setelah mengonversi nota kesepahamannya (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu.

Finalisasi kontrak tersebut menggarisbawahi komitmen Vietjet terhadap strategi perluasan jaringan serta modernisasi armada mereka, menjadikan total pemesanan A321neo kini mencapai 280 unit pesawat.

Kesepakatan bersejarah ini menyusul pemesanan 20 pesawat A330neo berbadan lebar pada bulan Mei lalu, memperkuat kemitraan strategis jangka panjang antara Vietjet dan Airbus.

“Efisiensi dan fleksibilitas pesawat A321neo yang teruji dan efisien menjadikannya platform ideal untuk mendukung ekspansi ambisius Vietjet.” ungkap Benoît de Saint-Exupéry, Airbus EVP Sales of the Commercial Aircraft business. “Bersama pesawat A330neo yang telah dipesan sebelumnya, armada ini akan menghadirkan efisiensi ekonomi terbaik serta keseragaman operasional yang menjadi ciri khas dari keluarga produk Airbus.” sambungnya.

A321neo, anggota dengan ukuran paling besar dari Keluarga A320neo terlaris milik Airbus, menawarkan jangkauan dan kinerja yang tak tertandingi. Dengan menggabungkan mesin generasi terbaru dan ujung sayap (Sharklets), pesawat ini mampu mengurangi kebisingan hingga 50 persen, dan bahan bakar serta emisi CO₂ hingga 20 persen dibandingkan pesawat lorong tunggal generasi sebelumnya, seraya memaksimalkan kenyamanan penumpang.

Hingga akhir September 2025, lebih dari 7.100 unit pesawat A321neo telah dipesan oleh hampir 100 pelanggan di seluruh dunia.

A321neo mampu beroperasi menggunakan hingga 50 persen bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF), dengan target untuk mencapai kemampuan hingga 100% SAF pada tahun 2030. Hal ini secara langsung mendukung tujuan keberlanjutan dari industri penerbangan.

Vietjet Jalin Kesepakatan Strategis dengan CFM International untuk Penyediaan Mesin Airbus A321neo

Palang Pintu Malioboro: Unik, Langka dan Satu-satunya yang Tersisa Aktif Hingga Kini

Bukan Yogyakarta namanya jika tak identik dengan keunikan. Betul, siapapun pasti setuju bila Kota Yogyakarta memiliki seribu keunikan, mulai dari kulinernya, lokasi wisata, hingga rambu lalu lintas. Tak salah bila band asal Indonesia bernama Kla Project dalam liriknya menyebut bahwa Yogyakarta “kota yang penuh nuansa selaksa makna.”

Nah, jika mampir ke Yogyakarta tentu tahu dengan perlintasan kereta api yang paling unik dan merupakan satu-satunya yang tersisa dan hingga kini masih aktif digunakan. Ya, persis 15p meter timur dari Stasiun Tugu Yogyakarta ini memang tiada duanya di Indonesia. Baik dari bentuknya, cara mengoperasikannya, hingga bunyi sirinenya.

Palang pintu jenis ini pun bukan palang pintu berstandar PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang sering dijumpai di banyak tempat. Namun demikian, dari segi keselamatan dan keamanan nyaris tiada cela. Bagi masyarakat pecinta kereta api, palang ini biasa disebut “Palang Pintu Geser”. Dinamai seperti itu karena dioperasikannya secara digeser saat pintu dibuka dan ditutup.

Kereta api di perlintasan palang pintu geser, Yogyakarta. (Foto: Dok. Tangkapan Layar Youtube/Maulana Mahendra)

Nah, pada tahun 1970-an palang pintu tersebut digeser secara manual oleh petugas penjaga perlintasan. Caranya saat kereta api akan melintas, para petugas tersebut bersamaan menutup pintu dengan cara ditarik dan didorong atau dibuka setelah kereta api melintas. Keadaan ini berlangsung hingga akhir dekade 1990.-an.

Selang beberapa waktu belakangan ini, pengoperasian palang pintu perlintasan tersebut sudah tak lagi dioperasikan secara manual alias sudah elektrifikasi. Adapun pengendaliannya pada gardu/pos penjaga pintu perlintasan dengan nomor yang terpampang yaitu 3A dan 3B.

Semakin canggih dan teknologi semakin berkembang, dengan kemudahan yang dilakukan petugas palang pintu perlintasan otomatis ini. Mereka yang sedang bertugas dikabarkan terlebih dahulu oleh Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) dari Stasiun Tugu. Jika ada kereta yang akan melintas setelah berbunyi sirine genta, petugas langsung memencet tombol penutup palang.

Perlintasan sebidang ini juga terbilang sangat sibuk. Selain karena banyak Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) dan lokal yang melintas, kegiatan langsir lokomotif maupun rangkaian dari Depo Yogyakarta menuju peron selatan Stasiun Tugu maupun Lempuyangan juga kian menambah kepadatan. Sebab langsiran tersebut harus melewati pintu perlintasan tersebut.

Hingga kini palang pintu dengan cara digeser ini masih menjadi ikonik Kota Gudeg saat masyarakat melewatinya dengan berjalan kaki di Jalan Malioboro. Perlintasan ini tentu dikhususkan untuk pejalan kaki sekaligus menikmati suasana kota yang begitu ramai setiap harinya.

Ternyata Nama Jembatan Kewek di Yogyakarta Diambil dari Bahasa Belanda, Berikut Penjelasannya

Bawa Powerbank Saat Naik Kereta Api? Ini Aturannya Agar Terhindar dari Risiko Bahaya

Bepergian dengan kereta api dan membawa barang-barang penting agar tetap ready, pasti sudah menjadi kewajiban. Selain ponsel atau sejenisnya, salah satu yang sering dibawa oleh penumpang kereta api adalah alat pengisi daya portable atau biasa disebut powerbank. Membawa powerbank memang sudah kewajiban masyarakat untuk mengisi daya ponsel jika tidak menemukan stop kontak.

Nah, ternyata ada aturan bagi penumpang pengguna kereta api yang membawa powerbank agar tetap aman selama di perjalanan. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) pastinya selalu mengimbau seluruh penumpang untuk memperhatikan ketentuan baru terkait membawa dan menggunakan powerbank di dalam perjalanan kereta api. Tentunya langkah ini untuk menjaga keselamatan, keamanan, dan kenyamanan perjalanan seluruh penumpang.

Gambaran informasi mengenai aturan membawa powerbank saat naik kereta api. (Foto: Dok. KAI)

Powerbank kini menjadi kebutuhan penting bagi banyak penumpang untuk mengisi daya perangkat elektronik seperti ponsel atau tablet. Namun, penggunaan dan penyimpanannya yang tidak sesuai ketentuan dapat menimbulkan potensi bahaya, termasuk risiko kebakaran di dalam kereta.

Mengutip dari unggahan akun Instagram KAI (@kai121_), agar penumpang tetap aman jika membawa powerbank, inilah aturan yang harus dipatuhi saat perjalanan di kereta api:

• Selama dalam perjalanan dengan kereta api, penumpang diperbolehkan menggunakan powerbank untuk mengisi daya perangkat pribadi.

• Pelanggan diperbolehkan membawa powerbank dengan kapasitas maksimal 100 Wh (Watt-hour).

• Pastikan kondisi powerbank dalam keadaan baik dan memiliki label kapasitas.

• Pelanggan dilarang mengisi daya ulang powerbank di kereta api.

Selain hanya membawa, larangan yang harus dipatuhi jika ingin mengisi daya powerbank di kereta api. Diketahui fasilitas didalam kereta api semakin lengkap dengan hadirnya stop kontak yang berada di samping kursi dibawah jendela. Namun, sangat tidak dianjurkan untuk mengisi daya powerbank di stop kontak tersebut.

Stop kontak di kereta api hanya boleh digunakan untuk perangkat-perangkat dengan konsumsi daya rendah, seperti: earphone, ponsel, tablet, dan laptop. Aturan tersebut juga sejalan dengan upaya KAI untuk meningkatkan kesadaran keselamatan di antara pelanggan.

Pihak KAI berharap kepada para penumpang agar dapat mendukung terciptanya perjalanan yang aman dan nyaman dengan menggunakan perangkat elektronik secara bertanggung jawab, termasuk powerbank. Serta terus berkomitmen menghadirkan perjalanan yang nyaman, aman, dan berkeselamatan bagi seluruh pelanggan.

Yuk Disimak, Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Kita Naik Kereta Api

Bukan di Kota Malang? Menguak Sejarah Stasiun Curahmalang dan Hubungannya dengan Stasiun Malang

Kesamaan nama-nama stasiun kereta api (KA) di Indonesia memang benar adanya. Yang membedakan pastinya hanyalah di wilayah tersebut. Kesamaan nama stasiun tersebut salah satunya adalah Karangsari yang berada di wilayah Garut, Jawa Barat dan Banyumas, Jawa Tengah. Keduanya merupakan stasiun paling aktif yang hingga kini melayani perjalanan KA.

Nah, disisi lain ada juga stasiun yang memiliki kesamaan yang mirip dengan nama stasiun besar di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya. Stasiun ini adalah Malang dan Curahmalang. Keduanya memang berada dj wilayah Daop 8 Surabaya, tapi kira-kira apa hubungannya dengan kedua stasiun tersebut? Mari kita cari tahu bersama.

Nama Stasiun Curahmalang yang terletak di Kabupaten Jombang memang sering bikin orang bertanya-tanya, karena mengandung kata “Malang,” yang biasanya diasosiasikan dengan Kota atau Kabupaten Malang.

Stasiun Curahmalang dengan bangunan yang modern. (Foto: Dok. Istimewa)

Perlu diketahui, bahwa Curahmalang adalah nama desa, bukan gabungan nama dua tempat berbeda. Stasiun ini terletak di Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sedangkan, nama “Curahmalang” tidak ada hubungannya langsung dengan wilayah Malang.

Kata “Curah” dalam bahasa Jawa atau Madura sering merujuk pada tempat yang rendah, dataran, atau aliran air (seperti curah hujan). Sedangkan “Malang” bisa jadi berasal dari kata dalam bahasa Jawa kuno atau lokal yang memiliki makna tersendiri—bukan nama daerah.

Ada versi yang mengatakan bahwa nama “Curahmalang” bisa berasal dari kisah atau sejarah lokal terkait desa itu, misalnya tempat yang dulunya dianggap “terlindung” (malang dalam arti halangan/pelindung) atau memiliki medan yang berliku.

Berdasarkan informasi dari versi lain yang tersedia, nama desa ini kemungkinan berasal dari kondisi geografisnya. Di sebelah utara masjid Dusun Gumawang, terdapat dua sungai yang saling melintang satu sama lain, yang mungkin menjadi dasar penamaan “Curahmalang”.

Menariknya, desa ini juga merupakan tempat kelahiran Semaoen, tokoh pergerakan nasional dan Ketua Umum pertama Partai Komunis Indonesia (PKI), yang lahir pada tahun 1898. Nah, itulah asal usul penamaan Curahmalang yang hingga kini keberadaan khususnya stasiun dengan nama tersebut masih aktif melayani KA yang salah satunya adalah Commuter Line Dhoho/Penataran.

Yuk, Jelajahi Stasiun Lawang yang Merupakan Stasiun ‘Tertinggi’ di Wilayah Malang

Stasiun Kasugihan: Semua KA dari Cilacap Wajib Berhenti Disini, Kenapa?

Berlokasi di Jalan Kemerdekaan, Kecamatan Kasugihan, Cilacap. Jawa Tengah. Stasiun Kasugihan berada di Km 1+966 ini merupakan stasiun kecil yang memiliki 3 jalur tersedia. Uniknya, stasiun ini berada dengan posisi jalur kereta dengan posisi menikung. Stasiun Kasugihan juga termasuk berada dekat dengan jalur cabang menuju Maos dan Bandung.

Diketahui bangunan stasiun persimpangan ini terletak sedikit masuk ke arah Cilacap dari arah timur setelah melintasi jembatan Kali Serayu dan dihubungkan dengan wesel pemisah. Wesel pemisah stasiun itu sendiri berada di luar emplasemen stasiun dan persinyalan di percabangan (persimpangan) itu dikendalikan dari stasiun ini.

Persimlangan jalur KA antara menuju Cilacap (kiri) dan Bandung (kanan).

Stasiun yang tidak begitu besar ini memang tak ada kereta api yang berhenti dari arah utara. Namun disisi lain jika kereta api datang dari selatan atau dari arah Stasiun Cilacap, semua kereta api waijb berhenti. Dan beberapa kereta api yang berhenti tersebut selama 2 menit.

Menurut kabar dari berbagai sumber bahwa kereta api yang berhenti ini merupakan sesuai aturan dari Gapeka 2025 yang mewajibkan kereta api berhenti di stasiun persimpangan Kasugihan. Ini karena Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Kasugihan juga memastikan jalur menuju Stasiun Maos aman untuk dilewati dan tidak ada kereta yang melintas.

Ada 1 perjalanan kereta api penumpang di Stasiun Kasugihan yang mengharuskan menunggu pergantian jalur dari Stasiun Maos atau dengan istilah perkeretaapiannya adalah persilangan. Ya, kereta tersebut adalah KA 194 Kamandaka rute Cilacap – Kroya – Purwokerto – Tegal – Semarang Tawang bersilang dengan KA 69 Malabar rute Malang – Bandung.

Dulu Stasiun Kasugihan juga memiliki rumah sinyal yang posisinya berada di jalur simpang tersebut. Rumah sinyal ini dikendalikan untuk memantau kereta api baik dari arah Stasiun Maos, Stasiun Lebeng, dan Stasiun Kasugihan. Tak heran, dulu Stasiun Kasugihan tak memiliki alat pengatur sinyal atau wesel, jadi semua dikendalikan pada rumah sinyal tersebut. Posisi rumah sinyal pun sebenarnya sangat baik, karena bisa terlihat dari arah Stasiun Maos.

Hingga kini Stasiun Kasugihan masih aktif melayani perjalanan kereta api baik yang berhenti ataupun melintas langsung. Stasiun yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto ini menjadi stasiun persimpangan dari dan ke Cilacap walaupun tidak melayani naik dan turun penumpang.

Naik Kereta Api ke Cilacap Mulai dari Rp20 Ribu Aja, Begini Caranya

Naik Kereta Api ke Cilacap Mulai dari Rp20 Ribu Aja, Begini Caranya

Jalur kereta api (KA) di jalur selatan memang menawarkan pemandangan dan destinasi yang menawan. Apalagi saat di stasiun tujuan berbagai wisata yang tersedia sangat terjangkau. Seperti kota yang berada di selatan Pulau Jawa ini. Ya, Kota Cilacap saat ini menjadi destinasi masyarakat untuk menghabiskan waktu luang, apalagi setelah menggunakan kereta api.

Menggunakan kereta api hingga Stasiun Cilacap banyak pilihan dari berbagai arah. Mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Ada berbagai kereta api yang memiliki tujuan hingga Kota Cilacap, seperti KA Kamandaka, KA Joglosemarkerto, KA Wijayakusuma, KA Sancaka Utara, dan KA Purwojaya.

Diketahui, Cilacap merupakan kota tempat keberangkatan sekaligus kedatangan sejumlah Kereta Api dari Surabaya dan Jakarta. Stasiun Cilacap masuk kategori kelas I yang terletak di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Juga merupakan stasiun paling ujung di jalur percabangan Kroya – Cilacap dari lintas selatan dan tengah Pulau Jawa.

Stasiun Cilacap. (Foto: Dok. Istimewa)

Harga tiket dari maupun menuju Stssiun Cilacap pun ada yang relatif murah. Harga tiket yang disediakan mulai dari Rp20.000 untuk jarak dekat yakni rute Cilacap – Kroya. Sedangkan rute Cilacap – Kroya – Purwokerto dimulai dari Rp25.000. Harga ini cukup murah bagi masyarakat yang ingin berwisata di Kota Cilacap.

Bagi masyarakat yang ingin memesan tiket KA dengan harga murah tersebut bisa melalui aplikasi online seperti Access by KAI atau bisa pembelian langsung di stasiun dengan waktu 2 jam sebelum keberangkatan.

Tak cuma destinasi wisata yang dihadirkan di Cilacap namun saat turun dari kereta api, melihat bangunan Stasiun Cilacap saja sudah termasuk wisata edukasi sejarah. Bangunan stasiun Cilacap yang didirikan pertama kali telah rusak, kemudian dibangunlah bangunan stasiun yang baru pada tahun 1943 yang dapat dilihat sampai sekarang.

Bangunan stasiun yang baru dibangun kembali oleh arsitek Thomas Nix. Arsitektur bangunan Stasiun Cilacap yang pertama bergaya neo-klasik Empire seperti stasiun-stasiun perusahaan kereta api negara Staatspoorwegen (SS) yang lain di masa itu, yakni pintu masuk dan aula utama dengan langit-langit tinggi berada tepat di tengah-tengah, diapit ruang tunggu dan ruang-ruang lain di kiri dan kanannya serta peron dinaungi atap dengan kuda-kuda Polonceau dari besi.

“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Stasiun Pemberhentian Ditambah, KA BIAS Jadi Satu-satunya Kereta Lokal yang Makin Diminati Penumpang

Menggunakan jenis Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta BIAS atau dikenal dengan Bandara Internasional Adi Sumarmo akhir-akhir ini makin ramai dengan penumpang. Ya, perjalanan rata-rata 1-2 jam ini ternyata memberi dampak yang baik. Dengan rute Solo – Madiun – Caruban pp. tersebut sebagai pengguna setia kereta api, penumpang meanfaatkan kereta ini baik perjalanan jauh dan dekat.

Pemberhentian Kereta BIAS pun sangat strategis. Karena singgah di beberapa stasiun dengan kawasan yang ramai. Apalagi rata-rata penumpang yang naik itu beragam, mulai dari pekerja hingga wisatawan. Tak heran kereta ini dipilih karena tarif yang dikenakan relatif murah, yaitu mulai dari Rp20.000 sampai dengan Rp40.000

Sebelumnya Kereta BIAS melayani rute Bandara Adi Soemarmo sampai dengan Stasiun Madiun. Namun pada Agustus 2025 lalu, kereta ini diperpanjang rutenya hingga Stasiun Caruban. Dipilihnya Stasiun Caruban karena berdekatan dengan akses terminal bus antar kota serta berbagai destinasi lainnya di kawasan Caruban.

Rangkaian KA BIAS di Stasiun Madiun. (Foto: Dok. KAI)

Selain perpanjangan perhentian Stasiun Caruban, Kereta BIAS juga melayani pemberhentian di Stasiun Palur yang juga merupakan pemberhentian perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Perpanjangan itu terhitung mulai Minggu, 17 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setiap harinya ada 10 perjalanan Kereta BIAS yang melayani naik-turun penumpang di Stasiun Palur dan 4 KA diantaranya mengakhiri perjalanan di Stasiun Caruban. Penambahan pemberhentian ini dilakukan seiring dengan makin berkembang dan meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat.

Penambahan pemberhentian di Stasiun Palur ini juga untuk meningkatkan konektivitas antarmoda. Serta akses masyarakat menuju Bandara Adi Soemarmo maupun ke berbagai kota tujuan di lintas Jawa semakin mudah, terjangkau, dan tepat waktu.

Sejak hadirnya Kereta BIAS hingga saat ini, tentunya sebagai solusi transportasi yang efektif dan terjangkau. Dan menjadi pilihan utama bagi para komuter, pelajar, dan masyarakat umum yang membutuhkan akses cepat dan mudah untuk bepergian.

Kedepannya masyarakat berharap PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk ketepatan waktu, kebersihan, dan kenyamanan. Dengan adanya dukungan masyarakat itulah layanan dari KAI diharapkan bisa terus berkembang. Tidak hanya sebagai m9da transportasi, tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan dan konektivitas di wilayah Madiun.

Ternyata Ini Satu-satunya Perjalanan KA BIAS yang Paling Lama dari Biasanya, Kenapa?