Mulai September 2022, Mikrotrans Listrik DFSK Mengaspal di Jalur Transjakarta

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mulai menjajaki pengadaan armada Mikrotrans listrik melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama dengan penyedia minibus listrik DFSK, PT Bevos Auto Mandiri.

Baca juga: TransJakarta Akhirnya Operasikan Bus Listrik untuk Layanan Reguler

Diwakili Direktur Teknik dan Digital Transjakarta, M. Indrayana dan Direktur Utama PT Bevos Auto Mandiri Hartono Kurniawan, MoU ditandatangani di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang Selatan kemarin, Kamis (11/8) sore.

MoU ini merupakan bagian dari usaha Transjakarta dalam mengubah seluruh armadanya menjadi kendaraan listrik. Demikian disampaikan oleh Anang Rizkani Noor selaku Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Transjakarta.

“Transjakarta secara bertahap akan mengelektrifikasi semua armada dari bus besar hingga mikrotrans. Ini bentuk keseriusan kami mencapai target elektrifikasi seluruh armada hingga 2030 mendatang,” ujar Anang di Jakarta, Jumat (12/8).

Mikrotrans listrik ini direncanakan akan diujicoba pada rute Tanah Abang – Kota (JAK 10) pada September 2022. “Diharapkan Mikrotrans Listrik ini bisa menjadi kendaraan yang ditemui ketika keluar dari rumah hingga mengantar ke tempat tujuan (Firts Miles dan Last Miles) yang aman, nyaman dan tentu saja ramah lingkungan,” katanya.

Sebagai tambahan, armada Mikrotrans Listrik produksi DFSK ini memiliki kapasitas baterai 42 kWh dengan jarak tempuh hingga 300 KM. Proses pengisian baterai yang cepat yakni 2,5 jam untuk sekali pengisian.

Transjakarta belakangan memang begitu gencar mengoperasikan armada transportasi massal listrik.

Mulai 8 Maret 2022, sebanyak 30 armada bus listrik resmi beroperasi di ibu kota Jakarta. Armada bus ini dioperasikan oleh PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) yang ditandai dengan penyematan pin oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kepada pengemudi dan petugas bus listrik.

Baca juga: TransJakarta Mulai Opersikan 30 Armada Bus Listrik di 4 Rute

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, operasional bus listrik ini akan bertambah hingga akhir tahun 2022 seebanyak seratus armada. Nantinya ini akan melengkapi 10.047 armada bus listrik pada 2030 mendatang.

Syafrin mengatakan, 30 armada bus listrik yang dioperasikan TransJakarta akan terbagi di empat rute yakni Bundaran Senayan – Senen, Tanah Abang – Senen, Blok M – Tanah Abang dan Ragunan – Blok M. Peluncuran bus listrik ini menjadi yang pertama digunakan oleh masyarakat umum.

Peringatan 155 Tahun Perjalanan Pertama Kereta Api Indonesia, KAI Lakukan Perjalanan Khusus Semarang – Tanggung pp

Ada kejadian unik dan bersejarah khususnya pada perjalanan kereta api di wilayah Daop 4 Semarang. Perjalanan yang mengusung tentang peringatan perjalanan pertama kereta api Indonesia ini sebagai bentuk mengenang jalur perjalanan pertama dengan rute Semarang – Tanggung.

Baca juga:“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Seperti yang dikabarkan kabarpenumpang.com tentang mengenang sejarah Stasiun Tanggung, perjalanan tersebut kembali dilakukan dan sebagai bentuk nostalgia para veteran kereta api. Kegiatan ini dilakukan oleh beberapa komunitas kereta api, semua Manajemen Daop 4 Semarang, serta tak ketinggalan pensiunan kereta api dan sesepuh desa tanggungharjo.

Dengan tema: “Garis Waktu 155 Tahun Perjalanan Kereta Api di Indonesia” rupanya kegiatan ini dimeriahkan oleh kehadirannya lokomotif bercorak vintage dengan livery jaman PJKA yaitu berwarna hijau. Lokomotif yang memeriahkan acara ini diambil dengan seri CC 201 83 31 dan seri BB 304 84 11.

Namun sayangnya, lokomotif ini hanya berjalan dari Stasiun Semarang Poncol sampai Semarang Tawang saja. Kemudian lokomotif dengan seri BB 304 84 11 ini tidak meneruskan perjalanannya hingga Stasiun Tanggung. Namun lokomotif vintage dengan seri CC 201 83 31 menarik rangkaian dari Stasiun Semarang Tawang dengan formasi kereta 8 kelas eksekutif, 1 kereta makan, dan 1 pembangkit.

Baca juga: Selain Memiliki Keunikan, Stasiun Ini Menjadi Saksi Bisu Kelahiran KA di Indonesia

Rangkaian kereta yang mengikuti kegiatan diberi plat bertuliskan “Peringatan 155 Tahun Perjalanan KA Pertama di Indonesia”. Informasi yang diperoleh rangkaian KLB (Kereta Luar Biasa) selama diperjalanan ini ditempuh dengan kecepatan 45 km/jam. Perjalanan dari Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Tanggung memakan waktu 1 jam dengan berhenti di beberapa stasiun antara lain Alastua, Brumbung, dan berakhir di Tanggung. Saat di Stasiun Tanggung rombongan mengabadikan panorama di area stasiun dan tak luput mengabadikan lokomotif denga corak vintage-nya ini. Tak lupa beberapa warga sekitar, sesepuh serta tokoh masyarakat yang turut hadir menambah suasana nostalgia dengan beragam cerita yang telah mereka rasakan saat itu. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Selain Memiliki Keunikan, Stasiun Ini Menjadi Saksi Bisu Kelahiran KA di Indonesia

Wilayah Daerah Operasi (DAOP 4) Semarang memang memiliki kisah sejarah yang panjang terutama sejarah Perkeretaapian Indonesia. Mulai dari bangunan yang dikenal dengan seribu pintu alias Lawang Sewu, berbagai cagar budaya lain yang dimiliki kereta api hingga stasiun pertama di Indonesia. Kabarpenumpang.com tertarik kembali untuk memberikan informasi mengenai uniknya salah satu stasiun yang masih berada di wilayah Daop 4 Semarang ini, yaitu Stasiun Tanggung.

Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Memiliki keunikan dari namanya saja, Stasiun Tanggung memang tidak pernah bosan untuk rasa penasaran jika berkunjung di stasiun yang merupakan stasiun pertama di Indonesia. Stasiun yang dibangun saat jaman Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864 ini juga merupakan saksi bisu kelahiran kereta api di Indonesia. Terletak di Desa Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Stasiun ini memiliki ketinggian + 20 m diatas permukaa laut.

Keunikan dari stasiun lainnya adalah bangunan ini kebanyaan masih berkonstruksi kayu dan masih kokoh berdiri hingga saat ini. Tak seperti stasiun pada umumnya, jika di telaah stasiun ini memang mirip dengan bangunan rumah biasa yang biasa kita lihat khususnya pada bagian rumah kepala stasiun yang berada persis di samping bangunan Stasiun Tanggung ini.

Tentu saja, stasiun ini masih digunakan dan masih aktif hingga kini karena terletak di jalur antara Brumbung – Solo. Namun sayangnya, tidak banyak kereta api yang berhenti di stasiun ini. Sebagian besar hanya kereta khusus saja yang berhenti di stasiun ini termasuk Kereta Luar Biasa (KLB) dan juga kereta kedinasan. Stasiun Tanggung terletak diantara petak Stasiun Brumbung dengan Stasiun Kedungjati ini berada di km 25. Meski stasiun ini berukuran kecil dan sederhana, Stasiun Tanggung merupakan saksi sejarah penting dalam perkeretapian Indonesia. Stasiun ni juga merupakan stasiun akhir dari jalur kereta api pertama di Indonesia antara Semarang – Tanggung yang dibuk pada 10 Agustus 1867.

Menurut penelusuran kabarpenumpang.com, pembukaan jalur kereta api pertama tersebut dilakukan oleh Gubernur Jenderal LAJW Baron Sloet van Beel. Ia juga yang memerintahkan pembangunan jalan kereta api sejauh 25 km tersebut, yang mulai dikerjakan pada 17 Juni 1864. Jalur kereta api rute Semarang – Tanggung dibangun oleh perusahaan kereta api NISM (Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatschaapij).

Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!

Sempat ada pembongkaran pada stasiun ini di tahun 1910, namun dibangunlah kembali dengan bangunan yang baru, yang dapat dilihat hingga saat ini. Cagar budaya untuk stasiun ini memang kerap kali dijaga agar keaslian bangunannya masih terus terawat dan bisa menjadikan bahan edukasi bagi pecinta sejarah Indonesia yang cukup terpelihara ini. (PRAS – Cinta Kereta Api)

FAA Bakal Wajibkan Pesawat Pasang Pintu Kedua Sebelum Pintu Kokpit, Ini Alasannya

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengusulkan ke Kongres AS untuk mewajibkan seluruh pesawat penumpang memasang pintu kedua (sekunder) sebelum pintu kokpit. Usulan ini sejatinya sudah sejak lama digaungkan. Namun, terkendala penolakan dari maskapai dan kembali mencuat (usulannya) usai insiden viral di Afrika.

Baca juga: Miliki Peran Vital, Masihkah Ada Air Marshal di Setiap Penerbangan Saat Ini?

Pada 17 Juni lalu, beberapa penumpang terlihat jelas mencoba menerobos masuk ke kokpit karena marah penerbangan Jordan Aviation yang mereka tumpangi dialihkan ke Bandara Kano, Nigeria.

Beruntung, kemarahan itu bisa dicegah dengan kehadiran air marshal. Dengan pistol di tangan dan menodongkannya ke para oknum penumpang tersebut, sembari memperingatinya agar tak mendekat serta mengurungkan niatnya, air marshal mengahalau dan berhasil mengamankan penerbangan.

Andai penerbangan tersebut tak dikawal air marshal, bukan tidak mungkin penerbangan bakal berakhir nahas.

Tak ingin peristiwa kelam 11 September 2001 terulang, FAA pun mengusulkan ke Kongres untuk mewajibkan seluruh pesawat komersial yang masuk ke Amerika Serikat (AS) agar dilengkapi dengan pintu kokpit kedua sebelum pintu kokpit utama. Ini dimaksudkan agar kru kokpit memiliki area steril bukan hanya di dalam kokpit tetapi juga di luar kokpit.

Selama ini, ketika pilot atau kopilot menuju toilet, mereka berada di area yang tidak steril dari selain petugas (penumpang). Ini dianggap berbahaya bila ada oknum yang mengintervensi kru kokpit.

Saat pilot atau kopilot sedang berada di luar kokpit, prosedur bakunya adalah pramugari (kru kabin) diharuskan masuk ke dalam kokpit menemani kru kokpit dalam posisi pintu kokpit terkunci. Ini dimaksudkan agar oknum pilot atau kopilot bisa dicegah untuk membajak pesawat. Sampai di sini, prosesnya sudah aman.

Namun, mengingat saat berada di luar pintu kokpit keberadaannya menjadi tidak aman, terlebih adanya insiden dimana penumpang mencoba menerobos pintu kokpit, FAA memang perlu untuk segera dibuat aturan wajib pintu sekunder sebelum pintu kokpit utama.

“Setiap lapisan keamanan tambahan penting. Melindungi awak pesawat membantu menjaga sistem kami tetap aman di dunia,” kata Pejabat FAA, Billy Nolen, seperti dilaporkan Reuters.

FAA seharusnya bisa saja mengodpsi aturan seluruh pesawat maskapai domestik dan internasional yang masuk ke AS wajib dilengkapi dengan cockpit barrier atau pintu kokpit kedua (bisa juga disebut penghalau kokpit) sejak tahun 2019, di bawah undang-undang federal tahun 2018.

Sayangnya, ketika itu, FAA dihadapi dengan prosedur rumit sehingga aturan tersebut belum bisa terlaksana.

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Pintu Kokpit Cegah Pembajakan? Berikut Ulasannya

Bila draf aturan tersebut tidak ada perubahan, seluruh maskapai wajib memasang pintu kokpit kedua sebelum pintu kokpit utama dua tahun pasca Kongres AS meloloskan undang-undang tersebut.

Isu cockpit barrier atau penghalau pintu kokpit ini sudah mencuat ke publik pasca peristiwa 11 September 2001. Karenanya, saat ini, beberapa maskapai sudah inisiatif untuk memasang barrier cockpit tersebut. Tidak adanya panduan dari regulator membuat cockpit barrier tersebut bentuknya beragam.

Demi Proyek Taksi Udara di Tokyo, Mitsubishi Estate Sulap Helipad di Gedung Bertingkat Jadi “Landing Pad”

Mitsubishi Estate telah terpilih sebagai operator proyek urban air mobility (UAM) untuk Pemerintah Metropolitan Tokyo, dalam proyek ini sebagian helipad dari atap gedung pencakar langit Mitsubishi Estate di distrik bisnis Marunouchi Tokyo akan digunakan sebagai Landing Pads.

Baca juga: Airbus Gandeng MAGicALL, Kembangkan Motor Listrik Taksi Udara eVTOL CityAirbus NextGen

Dikutip dari asia.nikkei.com (5/8/2022), tujuan dari proyek UAM sepenuhnya untuk mengkomersialkan taksi udara electric vertical takeoff and landing (eVTOL) dan bisnis drone kargo angkut berat pada tahun 2030. Proyek ini telah telah menetapkan target untuk memulai penerbangan eVTOL komersial pertama selama Osaka World Expo, yang akan berlangsung pada tahun 2025. Banyak pemain di sektor eVTOL berencana untuk memulai debut taksi/mobil mereka selama Osaka World Expo pada tahun 2025.

Menurut Yano Research Institute, yang berkantor pusat di Jepang, nilai eVTOL flying-car global dapat melebihi US$900 miliar pada tahun 2050. Mitsubishi Estate berencana untuk menyewakan atap dan tempat parkirnya sebagai landasan lepas landas dan pendaratan kepada operator eVTOL. Ini bertujuan untuk memperluas bisnisnya di luar Tokyo ke Nagoya dan Osaka pada akhirnya.

Selanjutnya, Mitsubishi Estate berencana untuk membangun fasilitas perumahan, bisnis, dan ritel di daerah sekitar bantalan mobil terbang ini, dengan harapan dapat menarik lalu lintas pejalan kaki.

Menurut laporan, pesawat dari Volocopter GmbH (sebelumnya disebut E-Volo GmbH), produsen eVTOL dari Jerman di mana JAL (Japan Airlines) memiliki saham, kini sedang dipertimbangkan untuk mendukung proyek UAM di Tokyo. Volocopter GmbH memegang Guinness Book of World Records untuk penerbangan berawak pertama dari “multicopter listrik” yang disebut prototipe Volocopter VC1 pada tahun 2011.

Pada September 2020, JAL dan Volocopter menandatangani kesepakatan untuk bersama-sama menjajaki peluang bisnis di Jepang untuk layanan mobilitas udara, khususnya untuk teknologi eVTOL Volocopter.

Baca juga: SkyDrive Kolaborasi dengan Suzuki dalam Pengembangan dan Produksi eVTOL

Volocopter menawarkan tiga jenis platform eVTOL. Dua adalah taksi udara, VoloCity dan VoloConnect, sedangkan VoloDrone adalah drone angkat berat tanpa awak. VoloCity adalah pesawat VTOL 18-rotor dengan jangkauan sekitar 35 kilometer dan kecepatan maksimum sekitar 100 kilometer per jam. Ini dapat mengangkut hingga dua penumpang, termasuk barang bawaan ringan.

Waktu Singkat 45 Menit, Kereta Cepat Jakarta Bandung Akan Layani 68 Perjalanan

Pengiriman rangkaian kereta cepat untuk Indonesia telah dilakukan Agustus 2022 ini. Pelepasan rangkaian kereta tersebut dilakukan di Qing Dao, Tiongkok sekaligus ceremony yang dilakukan pemerintah setempat dalam acara tersebut. Pengiriman rangkaian kereta dengan julukn Komodo ini dikirim dari Tiongkok pada 4 Agustus 2022 lalu dan tiba di Indonesia tepatnya di Tanjung Priok, Jakarta sekitar bulan September atau Oktober 2022 mendatang. Infrastruktur yang dikerjakan di Indonesia memang harus dikebut agar saat November 2022 nanti yang bertepatan dengan penyelenggaraan Presidensi G20, KCLB sudah menjalani tes dinamis.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta Bandung Capai Tahap Akhir. Kira – kira Berapa Harga Tiketnya?

Kereta Cepat Jakarta Bandung saat dioperasikan reguler, memiliki desain yng ramping sehingga dapat mendukung kecepatan dari kereta ini bisa mencapai 350 km/jam. Dan kelebihan lain dari kereta ini untuk perjalanan Jakarta – Bandung maupun sebaliknya akan ditargetkan memiliki waktu perjalanan antara 30 – 45 menit. Dan rencananya dalam sehari akan dijalankan sebanyak 68 kali perjalanan. Kehadiran kereta cepat ini tentu diharapkan dapat semakin meningkatkan minat masyarakat untuk lebih memilih menggunakan transportasi publik ketimbang transportasi pribadi.

Seperti diketahui rangkaian kereta cepat ini memiliki 11 rangkaian kereta yang diproduksi oleh CRRC Si Fang, Qing Dao, Provinsi Shan Dong, Tiongkok telah selesai diproduksi pada awal April 2022. Multiple Unit (EMU) dan Comprehensive Inspection Train (CIT) yang dikirim ke Indonesia ini telah menyelesaikan static test dan dynamic test di tempat produksinya. Selama perjalanan kereta cepat ini, di Indonesia masih tahap pengerjaan terutama progres pengerjaan proyek KCIC telah mencapai 85 persen, dan masih menyisakan beberapa pekerjaan tunnel 2, pre loading, track laying dan penyelesaian stasiun.

Baca juga: Mengenal “CPG 500” – Kereta Mekanik untuk Pemasangan Rel Kereta Cepat Jakarta Bandung

Saat ini perjalanan masih menggunakan kereta api dengan rute Jakarta – Bandung ditempuh dalam waktu 2,5 jam menggunakan kelas eksekutif (Argo Parahyangan). Dalam waktu tersebut selama perjalanan memang dimanjakan dengan berbagai pemandangan yang eksotik diwilayah tanah priyangan barat. Namun untuk segi waktu memang membutuhkan beberapa jam hingga ketempat tujuan. Dengan hadirnya kereta cepat ini masyarakat bisa menggunakan perjalanan dengan waktu singkat untuk mobilisasi dengan rute Jakarta – Bandung pp. yang direncanakan beroperasi pada pertengahan tahun 2023. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Kenapa Jendela Pesawat Supersonik Concorde Sangat Kecil? Ini Rahasianya

Penumpang pesawat saat ini sudah pasti bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar saat dalam penerbangan. Itu karena jendelanya begitu proporsional. Pengalaman itu mungkin tidak dimiliki oleh penumpang pesawat supersonik Concorde. Sebab, jendela pesawat ini sangat kecil bahkan tak lebih besar dari tangan orang dewasa. Mengapa demikian?

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York

Sejarah pesawat supersonik Concorde dimulai usai Pemerintah Perancis dan Inggris menandatangani perjanjian untuk bersama-sama merancang dan memproduksi jet supersonik komersial pertama pada 29 November 1962. Sebelumnya, penelitian terkait itu telah dimulai sejak tahun 1958.

Lama dinanti, prototipe pesawat supersonik Concorde buatan Perancis akhirnya sukses terbang perdana pada 2 Maret 1969. Ketika itu, pesawat lepas landas dari Bandara Toulouse dan mengudara selama 42 menit. Adapun prototipe pesawat Concorde 002 buatan Inggris sukses melakukan penerbangan perdananya sebulan kemudian.

Selang beberapa bulan, tepatnya pada 1 Oktober 1969, pesawat supersonik Concorde 001 buatan Perancis sukses memecahkan pengalang suara atau terbang melebihi kecepatan suara. Sebelum itu, pesawat Concorde belum menunjukkan klaim supersoniknya.

Setelah sukses terbang perdana dan terbang melebihi kecepatan suara, penerbangan komersial Concorde pun dimulai.

Pada 21 Januari 1976, pesawat supersonik Concorde Air France mulai melayani rute Paris – Rio de Janeiro dan British Airways melayani penerbangan supersonik rute penerbangan London – Bahrain. Pasang surut tentu terjadi di kedua rute ini.

Concorde semakin terkenal usai memulai penerbangan komersial reguler transatlantik ke New York dari London dan Paris pada 22 November 1977. Dengan kemampuan supersoniknya, rute tersebut berhasil dilahap Concorde hanya dalam tempo 2 jam 52 dan 59 detik dengan rata-rata kecepatan jelajah mencapai Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam).

Sebagai perbandingan, pesawat jet lain pada saat itu terbang dari London atau Paris ke New York selama 6 jam lebih.

Kemampuan Concorde terbang supersonik tentu didukung banyak fitur canggih (baik dari segi desain maupun teknik); salah satunya jendela Concorde.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, jendela Concorde yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari ukuran tangan orang dewasa, dikarenakan ketinggian jelajah Concorde yang mencapai 60 ribu kaki, menetapkannya sebagai pesawat komersial yang terbang paling tinggi sepanjang sejarah.

Concorde diizinkan terbang di ketinggian tersebut untuk bisa terbang aman pada kecepatan supersonik karena didukung sejumlah teknologi, seperti bentuk sayap delta, fitur keselamatan berupa sistem mencegah kemungkinan terburuk saat terjadi rapid emergency descent atau penurunan cepat, serta tekanan di dalam kabin yang masih dalam batas normal bagi penumpang.

Pasalnya, bila tidak didukung teknologi tersebut, maka, bukan tak mungkin penumpang akan pingsan.

Baca juga: Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Selain itu, Concorde juga bisa dan diizinkan terbang di ketinggian 60 ribu kaki berkat jendelanya yang lebih kecil (bahkan tak lebih besar dari ukuran tangan orang dewasa).

Jendela Concorde yang sangat kecil itu bertujuan untuk meminimalisir dekompresi andai kaca jendela pesawat pecah akibat rapid emergency descent. Selain aman untuk penerbangan itu sendiri, kaca jendela Concorde yang sangat kecil itu juga mencegah penumpang terhisap keluar pesawat selama dekompresi eksplosif terjadi.

Naik KRL Selalu Waspadai Barang Bawaan Saat Disimpan di Rak Bagasi

Naik transportasi umum tak sekadar mewaspadai diri sendiri, namun barang bawaan apa yang kita bawa pun patut diwaspadai. Sebagai pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) sebagai keseharian dalam beraktivitas tentu tak luput dengan barang bawaan yang harus dijaga. Penyedia layanan transportasi ini memberikan kemudahaan dan prioritas bagi penggunanya agar tidak repot dalam membawa bahkan menjaga barang bawaannya.

Baca juga: Tekan Pencurian Barang di KRL, KAI Commuter Pasang Kamera Canggih di 10 Stasiun Sibuk

Maka dari itu rak bagasi di setiap rangkaian KRL pun menjadi peran penting bagi penumpang yang membawa barang bawaan. Rak bagasi ini memang didesain memanjang agar saat menempatkan barang bisa tertampung lebih banyak. Meski rak bagasi sudah disediakan sedemikian rupa, penumpang tentu tak boleh menghiraukan barang yang dibawa dan disimpan di rak bagasi. Tapi harus tetap menjaga dan memperhatikan selama didalam KRL.

Mewaspadai apa yang kita bawa dan kita jaga menjadi kepentingan diri sendiri. Meski merasa aman dan nyaman di KRL, namun penumpang tak boleh lengah. Tak hanya sekali atau dua kali, kejadian kehilangan bahkan ditukar pun kerap kali menimpa para penumpang KRL yang menyimpan barang bawaannya di rak bagasi. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi memang kewaspadaan harus terus dijalankan. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tak bosan-bosannya untuk menghimbau bahkan memperingatkan kepada setiap penumpang KRL agar selalu menjaga barang bawaannya dan tetap dalam melakukan perjalann menggunakan kereta.

Baca juga: Konservasi KRL Sudah Didepan Mata

Menggunakan rak bagasi didalam KRL memang semakin dimudahkan bagi kita sebagai pelanggan setia dalam menempuh perjalanan singkat. Namun, perlu diingat menyimpan di rak bagasi untuk barang yang dibawa dihimbau tidak barang – barang yang berharga apalagi yang mencolok. Masih saja sebagian pengguna KRL yang menggunakan rak bagasi untuk menyimpan barang berharga, entah karena lupa atau memang tidak mau repot dibawa. Jika penumpang dalam posisi tidak duduk, masih bisa dipantau dan diawasi, tapi jika penumpang dalam keadaan duduk, dihimbau untuk barang berharga berada dalam genggaman tangan. Menjadi penumpang yang cerdas adalah kewajiban semua orang agar tidak kecolongan atau kelalaian saat menggunakan transportasi umum. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Kenapa Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Dilengkapi Winglet? Ini Rahasianya

Sebelum ditemukan pasca krisis minyak tahun 1973, pesawat umumnya tidak dilengkapi dengan winglet pada ujung sayap. Seiring perkembangan teknologi, ini berubah dan pesawat saat ini mayoritas menggunakan winglet. Namun, ada juga pesawat modern yang tidak dilengkapi winglet, salah satunya Boeing 787 Dreamliner. Lantas, kenapa demikian?

Baca juga: Kenapa Boeing 787 Disebut Dreamliner? Begini Sejarahnya

Sebagaimana umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur). Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tidak ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh. Perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap.

Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet.

Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi.

Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa lebih irit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Penghematan bahan bakar ini sangat penting bagi maskapai dan industri, terutama di masa krisis minyak, seperti pada tahun 1973. Itu pula yang membuat para insinyur berpikir keras untuk menciptakan pesawat yang lebih hemat bahan bakar hingga akhirnya ditemukanlah winglet oleh Richard T. Whitcomb yang terinspirasi dari burung.

Sejak saat itu, seluruh pesawat pasti dilengkapi atau memiliki winglet, termasuk Boeing 787 Dreamliner. Banyak pertanyaan, kenapa Boeing 787 Dreamliner tidak memiliki winglet? Sebetulnya, pertanyaan tersebut kurang tepat karena itu tadi setiap pesawat yang diproduksi pasca ditemukannya winglet pasti dilengkapi dengan itu.

Dilansir dari berbagai sumber, Boeing 787 Dreamliner menggunakan winglet dengan nama raked wingtip. Boeing mengklaim winglet jenis ini dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar sebesar 5,5 persen lebih atau 4,5 persen lebih tinggi dari sayap tanpa winglet.

Baca juga: Kenapa Ujung Sayap Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Menekuk? Ini Jawabannya

Saat dalam keadaan tidak terbang, sayap Boeing 787 Dreamliner memang rata dan terkesan tanpa winglet. Namun saat di udara, mulai dari nacelle sampai ke wingtip menekuk sampai 10 kaki. Saat cruising di udara, sayap kembali menekuk maksimal sampai 20 kaki dari posisi normal.

Saat dalam keadaan tertekuk 10 – 20 kaki dari posisi normal, sebetulnya, efek putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang dihasilkan Boeing 787 Dreamliner nyaris sama dengan winglet pesawat lain. Bahkan lebih efektif dalam melawan hambatan udara dan membuat kinerja pesawat menjadi lebih ringan dan bahan bakar lebih irit.

Desember 2022, Arab Saudi Resmi Punya Masinis Wanita untuk Kereta Cepat Haramain Express

Jika tak ada aral melintang, pada pertengahan Desember mendatang, Arab Saudi secara resmi akan memiliki masinis wanita pertama untuk kereta cepat Haramain Express yang menghubungkan dua kota suci, Makkah dan Madinah. Sejauh ini ada 31 wanita Arab Saudi yang telah menyelesaikan tahap pertama pelatihan mengemudi kereta berkecepatan tinggi.

Baca juga: Mengular 25 September 2018, Inilah Rincian Tarif Kereta Cepat Haramain Express!

Dikutip dari thekashmirmonitor.net (8/8/2022), kursus pelatihan masinis dilakukan oleh operator kereta api Spanyol Renfe. Para peserta pelatihan telah memasuki tahap kedua, yang akan berlangsung selama sekitar 5 bulan, dan peserta pelatihan akan menjajal kokpit di hadapan masinis profesional.

Laporan media mengatakan diharapkan wanita Saudi akan mulai mengemudikan kereta api, pada pertengahan Desember, dan dengan demikian akan menjadi wanita Saudi pertama dalam sejarah Arab Saudi yang mempraktikkan profesi ini. Sebelumnya para calon masinis sejak 13 Maret telah mengikuti pelatihan teori dengan total 483 jam. Para wanita terpilih akan mengendarai kereta peluru antara kota Mekah dan Madinah setelah satu tahun pelatihan berbayar.

Selama masa pelatihan, mata pelajaran diajarkan pengetahuan dasar perkeretaapian, peraturan lalu lintas dan keselamatan, bahaya kerja, peraturan pemadam kebakaran, dan aspek teknis kereta api dan infrastruktur. Pada tahap mendatang, jumlah pengemudi pria dan wanita Saudi akan meningkat, karena diperkirakan permintaan akan tumbuh secara signifikan selama beberapa tahun ke depan untuk perjalanan dengan kereta api, terutama selama musim haji dan umrah.

Sekitar 28.000 wanita Arab mengambil kesempatan itu dan mendaftar untuk pelatihan tersebut. Dari kelompok itu, 145 wanita dipilih untuk wawancara pribadi, tetapi hanya 31 dari mereka yang berhasil lolos ke tahap pertama pelatihan.

Baca juga: 28 Ribu Wanita Arab Saudi Serbu Lowongan Kerja Masinis Kereta Cepat Mekkah-Madinah

Sebagai catatan, perusahaan Spanyol Renfe adalah pemegang saham terbesar di konsorsium Haramain Express bersama dengan Institut Teknik Kereta Api Saudi telah bertanggung jawab untuk melatih lebih dari 130 warga Saudi selama sembilan tahun terakhir.