Sebagai moda transportasi yang praktis dan efisien, kereta api tentu menjadi salah satu perjalanan yang paling diminati. Tak hanya perjalanan jarak jauh yang menghubungkan berbagai kota, namun layanan dalam kota pun masyarakat tetap mengandalkan kereta lokal. Ya, selain wilayah Jabodetabek, wilayah Bandung dan sekitarnya pun kini menjadi tren masyarakat pengguna kereta lokal.
Rute yang ditempuh antara Padalarang – Bandung – Cicalengka ini tiap harinya masyarakat memadati kereta lokal agar mudah untuk melakukan perjalanan dengan waktu singkat. Dengan tarif yang relatif murah Rp5.000, masyarakat tentu terbantu saat melakukan aktivitas ke berbagai daerah di wilayah Bandung. Tak hanya aktivitas pada jam kerja, namun saat akhir pekan masyarakat juga bergantung pada transportasi yang dikelola oleh KAI Commuter di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung ini.
KAI Commuter menilai layanan kereta lokal atau Commuter Line Bandung Raya ini berperan penting dalam mengurangi kepadatan lalu lintas, khususnya di wilayah Bandung Timur yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat kemacetan tinggi pada jam-jam sibuk. Kapasitas terbesar tersebut tentu membuat kereta komuter menjadi salah satu moda transportasi massal yang efektif mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya.
Keberadaan kereta komuter ini disebut menjadi alternatif bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas dari kawasan Bandung Timur menuju pusat Kota Bandung maupun daerah lainnya. Terlebih lagi, Commuter Line Bandung Raya melayani seluruh stasiun yang berada di koridor Bandung Timur.
Masyarakat khususnya area Bandung Raya sebenarnya sudah lama bergantung pada kereta komuter. Rute Padalarang hingga Cicalengka ternyata telah melayani masyarakat sejak puluhan tahun yang lalu. Artinya ketergantungan masyarakat Bandung bagian barat dan timur menuju ke pusat kota sudah banyak menggunakan kereta komuter ini.
Hal ini terlihat dari data area Daop 2 Bandung mencatat jumlah pengguna Commuter Line Bandung Raya mencapai 14,7 juta orang pada 2023. Angka tersebut naik menjadi 16,1 juta orang pada 2024 atau tumbuh 9,7 persen. Pada 2025, jumlah pengguna kembali meningkat menjadi 18,7 juta orang atau naik 15,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tentunya, Commuter Line Bandung Raya masih menjadi tulang punggung transportasi warga meski jumlah kendaraan pribadi terus bertambah. Rute kereta ini tidak hanya digunakan pekerja, tetapi juga ibu rumah tangga dan keluarga yang bepergian saat akhir pekan, bahkan hanya untuk sekadar berwisata naik kereta.
Namun, di tengah jumlah pengguna yang terus naik, peningkatan frekuensi perjalanan menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Saat ini, jarak kedatangan kereta masih sekitar satu jam pada jam sibuk, dan bisa mencapai dua jam pada jam sepi. Untuk meningkatkan frekuensi tersebut salah satu yang harus dilakukan adalah elektrifikasi menjadi Kereta Rel Listrik (KRL).
Elektrifikasi jalur sepanjang 42 kilometer itu akan memangkas waktu tempuh perjalanan harian masyarakat secara signifikan, dari dua jam menjadi sekitar satu jam saja. Namun, proyek KRL Bandung Raya ini masih dalam pembahasan soal biaya. Pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih menghitung kebutuhan anggaran proyek tersebut, termasuk skema pembiayaannya.
Sejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda
