Tuesday, May 5, 2026
HomeAnalisa AngkutanMengenal Sistem Persinyalan Kereta Api di Indonesia, Ini Cara Kerjanya

Mengenal Sistem Persinyalan Kereta Api di Indonesia, Ini Cara Kerjanya

Persinyalan kereta api di Indonesia memiliki dua jenis yang digunakan. Persinyalan secara mekanik maupun secara elektrik. Jika sedang menggunakan kereta api dan saat memasuki perkotaan atau jalur yang ramai persinyalan tentu sudah menggunakan jenis elektrik. Namun jika memasuki daerah pelosok atau jalur kereta api yang tak terlalu ramai, sistem persinyalan menggunakan jenis mekanik.

Pasca insiden yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur beberapa hari lalu, sistem persinyalan kereta api sebagaimana kini ramai dibahas di masyarakat, merupakan suatu sarana untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari satu stasiun menuju stasiun berikutnya.

Perangkat yang ada di sistem persinyalan seperti sinyal wesel, pendeteksi keberadaan kereta api, meja pelayanan operator dan pesawat blok, seluruhnya saling terkait dan saling mengunci satu sama lain dan diatur sistem interlocking. Sistem interlocking terdiri dari mekanik dan elektrik. Dalam sistem interlocking elektrik, ada berbagai komponen di dalamnya.

Sistem persinyalan hadir untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari satu stasiun menuju stasiun berikutnya. Untuk semakin menjamin keselamatan, diberlakukan sistem blok mekanik. Ada tiga jenis perangkat sinyal yang sering dipakai dalam perkeretaapian di Indonesia yakni tuas mekanik, local control panel, dan visual display unit.

Selain itu, juga ada sistem interlocking yang berfungsi sebagai pengunci sinyal dan wesel. Dengan demikian, jalur bisa diatur agar tidak bertentangan. Saat ini, sistem sinyal kereta mulai menggunakan lampu berwarna sebagai bentuk komunikasi visual yang lebih jelas bagi masinis. Arti dari lampu lalu lintas kereta, yakni:
• Merah: Tanda mutlak kereta harus berhenti atau jalur di depan tidak aman.

• Kuning: Mengindikasikan masinis harus waspada ada pembatasan kecepatan atau sinyal berikutnya mungkin merah.

• Hijau: Jalur di depan aman, kereta bisa melaju dengan kecepatan normal.

Selanjutnya sistem persinyalan juga dilengkapi dengan teknologi seperti CBTC (Communications Based Train Control) yang memungkinkan kereta dikendalikan secara otomatis dan real-time. Kecepatan, efisiensi, dan keselamatan menjadi satu kesatuan di setiap perjalanan kereta api.

Sistem persinyalan saat ini lebih dominan sudah menggunakan elektrik. Namun tak menutup kemungkinan meskipun sistem persinyalan sudah canggih, terjadi kendala atau error pun pasti bisa terjadi. Sistem persinyalan yang terjadi kendala biasanya saat keadaan yang tidak stabil, seperti kondisi cuaca buruk maupun adanya perangkat jaringan yang tidak baik.

Bahkan keterlambatan maupun kecelakaan yang tak terhindarkan pada perjalanan kereta api pun bisa jadi penyebab sistem persinyalan yang buruk. Seperti yang terjadi pada Senin, 27 April 2026 lalu yang menduga adanya sistem persinyalan yang error.

Menurut laman Institut Teknologi Bandung (ITB), sistem persinyalan adalah sarana untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari suatu stasiun menuju stasiun berikutnya. Centralized Railway Traffic Control System merupakan bagian dari sistem persinyalan kereta.

CFC System berfungsi sebagai sistem pengendali lalu lintas perjalanan kereta api secara terpusat. Sistem persinyalan adalah sarana untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari suatu stasiun menuju stasiun berikutnya.

Setiap perangkat yang ada di sistem persinyalan, seperti sinyal wesel, pendeteksi keberadaan kereta api, meja pelayanan operator dan pesawat blok semuanya saling terkait dan saling mengunci satu sama lain yang diatur oleh sebuah sistem yang disebut dengan sistem interlocking. Sinyal diperlukan untuk membagi ruang perjalanan kereta api ke dalam petak-petak yang disebut blok. Sinyal inilah yang menjamin agar tak terjadi kecelakaan.

Ada dua alat yang digunakan pendeteksi kereta api, yaitu axle counter dan track circuit. Axle counter bekerja dengan alat bernama evaluator untuk menghitung roda yang lewat. Alat-alat sensor terkoneksi dalam sistem interlocking. Ada sistem interlocking mekanik dan juga sistem interlocking elektrik.

Dalam sistem interlocking elektrik terdapat berbagai komponen di dalamnya. Ada LCP/VDU sebagai operator pada sistem ini, lalu ada technician terminal pada maintenance, dan sistem CTC/CTS SilVue OI1000 untuk operation control center.

Technician terminal bisa dibilang black box-nya kereta yang merekam semua kerja sinyal dan bisa melihat kejadian yang sudah terjadi sebelumnya. Technician terminal juga dapat mencatat kapan saja alarm nyala dan kapan saja ada gangguan.

Terkait kejadian yang digadang-gadang errornya sistem persinyalan yang mengakibatkan tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commutet Line, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengaku tengah mengusut dugaan permasalahan sinyal yang menjadi penyebab kecelakaan maut antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Humas KNKT Arif Iskandar mengatakan permasalahan sinyal itu menjadi salah satu materi utama yang sedang diinvestigasi. Hasil investigasi KNKT akan dipublikasi di website dan kanal-kanal yang dimiliki. Untuk rekomendasi keselamatan nantinya akan diberikan pada para pihak terkait untuk menjadi bahan perbaikan ke depannya.

Sinyal Kereta Api Mekanik, Meski Tertinggal, Tapi Masih Tetap Digunakan

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru