Wednesday, May 6, 2026
HomeAnalisa AngkutanKA Argo Bromo Anggrek, ‘Sang Raja Jalur Utara’ yang Miliki Konsep Teknologi...

KA Argo Bromo Anggrek, ‘Sang Raja Jalur Utara’ yang Miliki Konsep Teknologi Eropa

Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek yang sangat melekat dihati masyarakat Indonesia sebagai kereta api nomor satu yang melesat cepat dari Jakarta menuju Surabaya maupun sebaliknya. Ya, julukan ‘sang raja utara’ ini tengah di sorot dengan dua kali informasi yang berbeda.

Yang pertama pasca kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dan yang kedua adalah informasi mengenai perubahan nama pada KA Argo Bromo Anggrek menjadi KA Anggrek yang resmi diubah pada Sabtu, 9 Mei 2026 mendatang.

KA Argo Bromo Anggrek telah diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan penamaan sebelumnya adalah Argo Bromo JS-950 pada 31 Juli 1995 terlebih dahulu. Kode “J” dan “S” merujuk pada rute perjalanan Jakarta-Surabaya. Kereta tersebut kemudian berevolusi menjadi Argo Bromo Anggrek.

Hingga saat ini, KA Argo Bromo Anggrek menjadi salah satu primadona bagi pengguna kereta lintas provinsi dengan rute Jakarta-Surabaya. Nama Argo Bromo Anggrek diadopsi dari Gunung Bromo di Jawa Timur dan Bunga Anggrek yang melambangkan keanggunan.

Selain itu, kereta ini memang dibuat khusus untuk layanan perjalanan kereta kelas eksekutif tertinggi. Dengan menawarkan kelas yang mewah dan eksklusif, KA Argo Bromo Anggrek tergolong cepat jika dibandingkan dengan KA lainnya. Berjalan dari titik Stasiun Gambir (Jakarta) hingga Stasiun Pasar Turi (Surabaya), kereta ini menempuh jarak sejauh 720 km dalam waktu 8 jam 10 menit.

Meski saat ini PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) membatasi kecepatan setiap perjalanan kereta api hingga 110 km/jam, namun KA Argo Bromo Anggrek mampu menempuh kecepatan mencapai 120 km/jam dengan kondisi yang stabil dan minim guncangan. Hal ini bisa terjadi, lantaran kereta ini dilengkapi dengan teknologi bogie K9 (CL243 bolsterless) hasil kolaborasi Alstom.

Bogie K9 (CL243 bolsterless) merupakan sistem roda dan rangka bawah kereta (bogie). Bolsterless artinya tidak memakai balok tengah (bolster) seperti bogie lama. Teknologi tersebut juga menggunakan air suspension (pegas udara) yang membuat getaran jauh lebih halus.

Ternyata teknologi Bogie K9 (CL243 bolsterless) yang dimiliki KA Argo Bromo Anggrek telah mengadopsi teknologi pada kereta yang berkembang di Eropa. Konsep teknologi ini juga mirip dengan yang dimiliki kereta cepat TGV (Train à Grande Vitesse) milik Prancis. Bahkan, kecepatannya bisa mencapai 320 km/jam dan telah beroperasi sejak 1981.

KA Argo Bromo Anggrek memiliki dua pilihan kelas mewah, yaitu kelas Compartment Suite dan eksekutif. Pada kelas eksekutif terdapat sekitar 50 seat dengan konfigurasi kursi 2-2 dengan sandaran kaki, meja lipat, lampu baca, bantal, selimut, hingga stop kontak.

Untuk kelas eksekutif, tiketnya dijual sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribuan. Sementara, kelas Compartment Suite dibanderol dengan harga mulai dari Rp 1 jutaan hingga Rp 2 jutaan per penumpang. Tentu harga ini sebanding dengan fasilitas dan kemewahan yang dirasakan penumpang.

Meskipun penamaan pada kereta ini akan berubah menjadi KA Anggrek, namun pelayanan dan kenyamanan dari fasilitas yang diberikan tetap sama. Pihak KAI pun berharap penyederhanaan merek ini dapat membuat layanan kereta api semakin akrab di telinga masyarakat namun tetap mengedepankan aspek profesionalitas. Pun dengan identitas yang lebih sederhana, layanan KA ini semakin dekat dengan masyarakat dan tetap menjadi pilihan utama transportasi yang aman, nyaman, dan terpercaya.

Kenapa Kereta Api Pakai Nama ‘Argo’? Ternyata Ini Sejarah dan Artinya

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru